Angin
bertiup kencang. Ilalang ilalang bergoyang goyang di padang rumput yang luas.
Derap kaki kuda bergemuruh. Gerombolan suku suku Turki berkeliaran dari timur
stepa Eurasia hingga selatan sungai Yenisei dan danau Baikal. Menyusuri
pengunungan Altai dengan berani. Selalu waspada bahaya. Terdidik di lingkungan
liar, di dataran berumput Asia Tengah. Mereka adalah suku suku penunggang kuda
yang professional. Mulanya mendiami bagian terluar Mongolia. Hidup berpindah
pindah, dengan berternak kawanan kuda dan domba.
Pada abad 774 M, kondisi politik dan
militer akibat disintegrasi internal berbalut iklim cuaca yang tidak
memungkinkan, suku nomaden ini bermigrasi ke arah selatan dan barat, menuju
Eropa Timur, Timur Tengah. Mereka bertetangga dengan kelompok Qarluq di bagian
barat, menggembala di tanah padang rumput Eurasia. Dikenal sebagai suku Turki
Oghuz atau Turkoman. Dinasti Seljuk muncul dari kelompok suku Oghuz[1].
Akar nama Oghuz adalah kata o ¯gh/uq dalam bahasa Turki bermakna kelompok
kekerabatan. Kumpulan terpadu dari beragam klan klan Turki.
Utusan Khalifah Abbasiyah, Ahmad
Fadlan, menyumbangkan rujukan informatif berharga tentang suku Turki sebelum
terpengaruh islam. Perjalanan Ahmad Fadlan ke istana yang baru terislamisasi di
Bulgar 921 M menghasilkan memoir sederhana. Fadlan berpergian melalui tanah
Oghuz dari Khawarm, melewati Laut Kaspia dan terus ke utara lalu menyebrang
sungai Emba dan Ural menuju lokasi tepi sungai Volga. Pertemuan dengan Oghuz,
menuai kecewa berat. Menurut Bangsawan terdidik ini, tingkat budaya Oghuz
sangat rendah, primitif dan penganut kepercayaan kuno yang jadul. Pemuja
animisme dan dinamisme. Penyembah unsur unsur alam, menyakini totemisme dan
pengikut shaman[2]
yang hidup serba keterbatasan. Kondisi mengenaskan, kotor, bau dan senang
berkeliaran seperti keledai liar yang gila.
Dia sempat bertemu pemimpin mereka, Yabghu. Yagbghu sebagai kepala
suku memegang peran penting terhadap suku yang dipimpinnya. Oghuz menggunakan
pola kesukuan yang tradisional dengan karakteristik persaudaraan. Keluarga
Oghuz menampakkan diri di catatan sejarah pada pertengahan abad ke 6 M. Cahaya
eksistensi yang muncul lalu redup, sudah jadi kecenderungan kerajaan suku suku
barbar. Imperium nomad yang singkat di janting Asia, padang stepa yang kelak
disebut Turkestan, tanah Turki. Ras Turki terpecah pecah, tersebar dengan nama
nam yang membingungkan. Keluarga Uighur berlindung dibawah China, sebagian
terkontaminasi pengaruh Persia, dan sisanya menerapkan sistem nomaden murni.
Pejuang Arab yang heroik menyebrangi
Oxus[3]
pada situasi yang menguntungkan. Politik suku suku Turki yang berantakan harus
menelan resiko, menjauhi bentrok fisik dengan bermigrasi mengikuti alur sungai
Talas. Orang orang Arab menjuluki Ma Wara al-Nahr[4]
pada provinsi Trasoxiana yang makmur. Transoxiana merupakan ujung paling timur
perbatasan kekuasaan Islam. Suku suku Turki yang pengecut, menghilang dari
peradaban. Pada abad kesembilan, mereka terlacak kembali, namun sebagai budak
atau petualang yang melayani Khalifah Mu’tasim (833 -842 M). Penguasa muslim
pertama yang memperkerjakan budak budak Turki sebagai penjaganya.
Sejak saat itu, Dinasti Abbasiyah terobsesi menjadikan budak budak
Turki sebagai tentara. Mereka bisa naik pangkat hingga peringkat tertinggi,
komandan tentara, gubernur provinsi atau bahkan pangeran independen[5].
Disintegrasi Kekaisaran Abasiyah[6]
membuka kesempatan yang luas untuk berpetualang dalam pencampuran politik dunia
Islam. Dinasti Samaniyah yang man tentram mendorong kemajuan pesat perniagaan,
manufaktur dan kajian keilmuan di Khurasan dan Transoxiana. Pihak kerajaan
mensponsori penyebaran Islam terhadap suku suku barbar.
Situasi Eropa yang mencekam. Serbuan
serbuan bangsa Skandinavia teramat bengis. Melalui sungai sungai perahu perahu
unik Viking melancarkan serangan serangan membabi buta. Berbekal kapak
tradisional Viking menjarah provinsi provinsi Eropa dan menjualnya ke imperium
Abbassiyah. Rute perdagangan internasional yang melalui kota kota tua Ladoga,
Novgorod, Kiev dan Bulgar serta melewati sungai sungai utama Rusia, Dnieper,
Don dan Volga. Penemuan lebih dari 85.000 koin Arab yang ditimbun di Swedia,
Finlandia dan Rusia adalah bukti kuat adanya hubungan Viking dan Peradaban
Timur.
Kepentingan ekonomi yang mengusung
imam imam demi dakwah umat Islam berhasil mengkonversi Kerajaan Bulghar pagan
menjadi Islam. Giliran mencoba mengkonversi Rusia, namun Vladimir dari Kiev
memutuskan teguh mendukung Kristen (988M). Ras Turki yang kabur, menempati
wilayah sekitar sungai Volga, sudah memeluk Islam sebelum tahun 921 M. Pedagang
dan imam dari kerajaan Samaniyah sanggup mengislamkan kerajaan Bulghar dan
200.000 suku Turki. Namun, dinasti Samaniyah perlahan runtuh karena gagal
menjaga loyalitas rakyat. Emir Nasr al-Sa’id (914-943) adalah penguasa yang
dibenci oleh rakyatnya. Seperti halnya Khalifah Abbassiyah, dia juga mengangkat
budak Turki menjadi pengawal pribadinya.
Salah satu perwira Turki, Alp Tagin merebut kota Ghazna lalu
mendirikan kerajaan semi independen. Kerajaan Samaniyah remuk akibat anarki
politik yang berkepanjangan. Dalam situasi kacau balau suku suku Turki Oghuz
dari padang rumput Turkestan datang bermukim di Bukhara (999 M) setelah
menyebrangi Jaxartes. Perantau Turki dibawah kepala suku bernama Seljuk
menempati sepanjang hilir Jaxartes. Seljuk merupakan tokoh legendaris Turki
Oghuz yang kisahnya menyerupai Clovis[7].
Anak laki laki Seljuk, Arslan mendukung Samaniyah namun terkendala putra Alp
Tagin, Mahmud (1000-1030 M).
Mahmud yang licik memanfaatkan peluang bagus dengan mencaplok
provinsi Khurasan dari Samaniyah yang lemah. Dinasti Persia Samaniyah pun
tinggal kenangan. Ekpedisi[8] ke
India mengantarkan Mahmud pada ketenaran. Mahmud menjarah kuil kuil[9]
Hindu dengan alasan menghancurkan penyembah berhala atas nama Tuhan dan
Nabi-Nya. Namun, motif sesungguhnya adalah keserakahan.
Selama tiga puluh tahun memerintah, Mahmud dan anaknya Mas’ud
terlalu asyik berburu harta karun India hingga melupakan masalah imigran Turki
yang terus meningkat. Setelah kematian Mahmud, keponakan Arslan, Tughril Beg
dan Chahri Beg berpetualang ke Khurasan. Mereka merebut Merv dan Naisabur setelah
kesuskesan memukul mundur pasukan Mas’ud. Kemenangan yang membuka jalan merebut
Balkh, Jurjan, Thabaristan, Khawarizm, Hamadan, Rayyi dan Isfahan serta
menandai era kekaisaran Turki Seljuk. Disintegrasi dinasti Buwaihi[10]
yang mengendalikan kekaisaran Abbassiyah merupakan keberuntungan cucu cucu
Seljuk.
Pemerintahan Buwaihi terusir akibat ulah suku suku Turki yang liar.
Jendral Al- Basasiri beserta raja Buwaihi terakhir angkat kaki dari Istana
Baghdad, menandai berawal pengaruh Turki Seljuk. Khalifah Al Qa’im (1031-1075
M) menyambut kompoltan Seljuk Turki tersebut dengan perjamuan yang meriah.
Ketika Tugril Beg mengadakan ekspedisi ke Azebaijan, Jendral Al Basasiri
menguasai Baghdad mengusung kepentingan dinasti Fatimiyah[11].
Baghdad dalam cengkraman dinasti Fatimiyah, hingga kepulangan Tughril Beg.
Tughril memasang kembali Al-Qa’im sebagai penguasa boneka dan membunuh
penghianat al- Basasiri serta membubarkan kesatuan tentara Dailami.
Tughril Beg tidak mempunyai anak, sepeninggalannya diteruskan oleh
anak dari Chagri Beg, Alp Arslan (1072 – 1092 M). Merosotnya kekuatan Islam
kembali ditegakkan oleh Alp Arslan yang mengobarkan semangat ghazi atau
penyelamat iman yang saleh. Sang Ghazi menduduki, Ani, Ibukota Armenia Kristen
lalu mencaplok wilayah musuh abadinya. Kaisar Romanus Diogenes meresponnya
dengan pertempuran di Mankizert, sebelah utara Danau Van di Armenia.
Bulan Agustus 1070 M menjadi bulan bencana bagi Romawi Timur.
Romanus yang tertawan, diperlakukan sopan dan dibebaskan setelah pembayaran
tebusan. Kaum pengembara Seljuk berhasil menjadi kelompok Muslim yang pertama
kali menghuni tanah orang Romawi di Asia Kecil sekaligus pelopor Turkifikasi.
Alp Arslan menunjuk sepupunya, Sulaiman Ibn Quthlumisy sebagai penguasa baru
wilayah Asia Kecil. Disinilah muncul Kesultanan Seljuk Romawi atau Seljuk Rum
yang beribukota di Nicaea[12].
Pada tahun 934 M khalifah dinasti Fatimiyah, Abu al-Qasim memimpin
pasukan bajak laut warisan dinasti Aglabiyah untuk menyerbu pantai utara
Perancis, menguasai Genoa dan sepanjang pesisir Calabria setelah keberhasilan ayahnya menaklukkan Sardinia,
Balearic, Malta, Corsica serta pulau pulau lainnya. Pada awal tahun 972 M bajak
laut Muslim diusir dari pantai Mediterania Perancis dan Italia.
Periode kemunduran Dinasti Fatimiyah terjadi semenjak naik tahtanya
Khalifah Abu Ali Manshur al Hakim. Seorang biang keladi Perang Salib, dia
menghancurkan gereja Kristen termasuk kuburan suci umat Kristen di Yerusalem
(1009 M). Memicu kemarahan umat Kristen, meskipun khalifah berikutnya memperbaiki
gereja tetapi persepsi tidak toleran sudah terlanjur melekat dibenak orang
orang Kristen Eropa.
Perang melawan Fatimiyah
diresmikan, bukan oleh Seljuk, melainkan oleh seorang kepala Turkoman bernama
Atsiz. Seljuk Rum merebut Palestina (1070 M) disusul kemudian Madinah dan
Mekkah. Setelah mendapat pukulan berat dari Seljuk Rum, giliran musuh lama
dinasti Fatimiyah unjuk gigi. Armada angkatan laut dari Pisa dan Genoa menyerbu
Ibukota Fatimiyah lama Mahdiya (1087 M) dan membebaskan budak Kristen serta
meminta uang tebusan lalu pada tahun 1091 M merampas Sardinia sedangkan
Sisilia, Palermo (1072 M) dan Malta (1090 M) diikuti pulau pulau lainnya jatuh
ketangan bangsa Normandia.
Kemenangan orang orang Eropa
membuktikan kelemahan dunia Islam dan perpecahan hebat dikalangan umat Muslim.
Kontrol Laut Mediterania diambil alih oleh orang orang Eropa. Mendorong
pembukaan kembali rute laut bagi para peziara. Insiden penghancuran gereja suci
menyebabkan perhatian dunia Latin terhadap Jerussalem dipertajam. Ekspedisi militer
baru dilaksanakan setelah Kaisar Byzantium Alexius I meminta bantuan Eropa
dalam membendung pergerakan Seljuk Rum.
Paus Urbanus II berpidato ditengah tengah lautan manusia penuh
emosi. Meneriakkan slogan Deus Vult (Tuhan Menghendaki) sambil mengacung
acungkan tangan. Musim semi 1097 M, 150.000 manusia berkumpul di
Konstantinopel. Gabungan tentara Salib dan legiun legiun Romawi menyebrang ke
Asia Kecil memasuki daerah kekuasaan Qilij Arslan, penerus Sulaiman Ibn
Qurlumisy. Perang Salib pertama yang diwakili oleh Seljuk Rum mengalami
kekalahan dalam pertempuran di Dorylaem (1 Juli 1097 M). Legiun legiun Romawi
ditarik kembali ke Konstantinopel, sedangkan pasukan utama Salib melanjutkan
perjalanan menuju Palestina dan Suriah. Yerussalem dikuasai Tentara Salib
dengan mudah.
Dinasti Seljuk Suriah yang didirikan oleh Tutusy, putra Alp Arslan,
menjadi target Tentara Salib berikutnya. Kematian Sultan Malik Shah (1092 M)
dan saudaranya Tutusy (1095 M) merupakan akhir kejayaan Turki Seljuk yang kurun
waktunya tak lebih seperti musim panas di India. Seljuk tidak ditakdirkan
menyembuhkan perpecahan namun lebih kepada menyewa panggung sejarah dunia
Muslim selama hampir dua abad. Anak Tutusy, Dukak dan Ridwan yang masing masing
menguasai Aleppo dan Damaskus, sibuk bertengkar memperebutkan warisan ayahnya.
Keadaan dinasti Seljuk yang dilanda perang sipil, sama parahnya
dengan kondisi dinasti Abbasiyah maupun dinasti Fatimiyah yang sekarat. Situasi
menguntungkan bagi Tentara Salib, tidak mengherankan jika Antiokia dapat
diduduki Tentara Salib (1098 M). Tatkala delegasi Muslim meminta bantuan
Khalifah Mustazhir (1094-1118) di Baghdad, tuan rumah hanya memberi simpati dan
cucuran air mata lalu menyarankan menghubungi sultan Seljuk, Barkiyaruk
(1094-1104 M) sang pemabuk. Delegasi itu pulang tanpa membawa hasil. Serangan
pasukan Salib ke kota Tripoli menyebabkan walikotanya meminta pertolongan namun
mendapat jawaban yang sama dengan delegasi sebelumnya. Tiga tahun kemudian,
delegasi ketiga dari Aleppo menggebrak mimbar dan menggangu jalannya sholat
Jum’at yang dihadiri Khalifah Abbassiyah. Delegasi ketiga memperoleh rasa
kecewa, karena pemimpin kaum beriman berinisiatif mengirim segelintit
balatentara yang tidak berarti apa apa.
Perang Salib berkobar semakin hebat. Nafsu duniawi Tentara Salib
yang dibalut rapi dengan semangat religius membuat Tripoli (1109 M) dan Beirut
(1110 M) menyerah. Operasi militer terhadap Aleppo memicu demonstrasi kekerasan
di Baghdad menuntut perang suci melawan penjajah kafir. Sultan Seljuk baru, saudara
Berkyaruk, Muhammad (1104-1118 M), merespos dengan menunjuk salah satu
perwiranya Mawdud sebagai gubernur Mosul. Mawdud mematahkan perlawanan kaum
Franka[13]
yang mengepung Edessa dan mempermalukan Raja Baldwin dari Yerussalem dalam
pertempuran di Tiberias (1113 M).
Tugas mengusir para penyusup Barat memerlukan rekruitmen tentara,
bukan dari Suriah maupun Mesir namun dari Irak utara. Penerus Mawdud adalah
seorang budak Turki bermata biru yang masih keturunan sultan Maliksyah[14],
Imad al – Din Zangi. Pasukan Zangi mengambil Aleppo. Zangi dibunuh oleh seorang
budak (1146 M), dia digantikan anaknya yang lebih cakap, Nur- Al Din Mahmud
yang memilih Aleppo sebagai ibukotanya. Dia menendang raja Joscelin II dari
Edessa (1151 M) dan menaklukkan Damaskus (1154 M). Satu persatu wilayah
kekuasaan Kristen jauh ketangan Islam. Merespon hal itu, St Bernard dari
Clairvaux menggelorakan perang Salib kedua. Kaisar Conrad dan Raja Louis VII
dari Perancis mendarat di Levant dan mencoba menaklukkan Damaskus. Pengepungan
Damaskus dan serang serangan lain berbuah kegagalan bahkan kerugian karena
harus menebus raja muda Bahemond III dari Antiokia dan Reymond III dari Tripoli
yang tertangkap pada tahun 1164 M.
Nur Al Din Mahmud menyusupkan seorang pemimpin militer bernama
Syirkuh untuk memanfaatkan dinasti Fatimiyah yang sekarat. Syirkuh menapaki
karier militer dan politiknya hingga menerima jabatan menteri (1169 M) dibawah
Al Adid (1160-1171 M). Syirkuh meninggal dunia tak lama setelah pelantikannya,
jabatan menteri digantikan oleh keponakannya Shalah al –Din Ibn Ayyub[15]
yang populer. Menggunakan Mesir sebagai basis militer, Saladin berusaha
mengusir bangsa Frank dari bumi Palestina. Penguasa dinasti Fatimiyah terakhir
tidak mempunyai anak, Saladin mengambil alih dinasti Fatimiyah dan
menggabungkannya dengan warisan Zangi di Mosul. Pembajakan bangsawan Reynald
dari Chatillon dan Raja Guy di Laut Merah terhadap kafilah kafilah Muslim
memicu kemarahan Saladin.
Pasukan Saladin menyerbu menyerbu Kerajaan Yerussalem, sebelum
sampai di benteng Yerussalem Tentara Salib dibawah pimpinan raja Guy sudah
hancur duluan dalam pertempuran Hattin (1187 M). Berita jatuhnya Yerussalem
terdengar di Eropa, Kaisar Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci,
Philip dari Perancis dan Richard dari Inggris mengobarkan perang Salib ketiga
yang berakhir dengan perjanjian damai. Saladin meninggal dunia di Damaskus pada
tahun 1193 M, pahlawan dunia Muslim dan dihormati oleh musuh Kristen sebagai
model ksatria Timur. Sepeninggalannya dinasti Ayyubiyah membentang dari
perbatasan Tunisia hingga pegunungan Armenia.
Sementara
itu, khalifah Abbassiyah Al Nashir (1180-1225 M) berupaya memulihkan
kekhalifahan seperti sediakala. Pergolakan internal yang tidak berkesudahan
diantara pangeran Seljuk, ditambah fakta bahwa Saladin mengakui kekhalifahan
Abbassiyah memberikan peluang kepada Al Nashir. Kesalahan serius ketika
menghasut Takasy, penguasa Khawarizm (1172-1200 M) untuk menyerang bangsa Turki
Seljuk yang bobrok. Al Nashri berencana menggantikan wali Abbassiyah, yang
semula Seljuk ke dinasti Khawarizm[16].
Dalam pertempuran melawan Sultan Tughril (1177-1194 M), Takasy mendapatkan
kemenangan yang mengakhiri garis dinasti Seljuk di Irak dan Kurdistan.
Perselisihan masih berlanjut, putra
Takasy Ala al Din Muhammad (1200-1220 M) yang enerjik mencaplok sebagian besar
Persia (1210 M), menundukkan Bukhara, Samarkand dan Ghazna (1214 M) serta
memutuskan untuk melenyapkan kekhalifahan Abbassiyah. Dalam ketidakberdayaan Al
Nashir malah mengundang sumber bencana yang menurutnya adalah sebuah harapan.
Al- Nashir mengundang tamu dari timur jauh (1216 M), setelah berita tentang
kehebatan tentaranya terdengar di Istana Baghdad. Figur Jenghis Khan (1155 –
1227 M) yang berkharisma mampu membangkitkan gairah menjajah suku suku Mongol
yang kolot dan bodoh. Temudjin[17]
menjawabnya dengan mengirim 60.000 orang, ditambah sejumlah tentara yang
direkrut dari rakyat yang ditaklukan sepanjang perjalanan[18].
Ala al Din Muhammad yang percaya
diri terhadap cita citanya mendirikan dinasti Aliyah seketika putus asa
melarikan diri ke sebuah pulau terpencil di Laut Kaspia, demi menghindari dari
penunggang kuda Mongol yang terkenal bau dan jorok. Karakter Ala al Din Muhammad
yang keren beserta sosok pria ideal yang terhormat ternyata mengakhiri hidupnya
sebagai pecundang hina yang mati menyedihkan (1220 M). Warisan Ala al Din
Muhammad berupa cerita rakyat turun temurun yang kondang tersirat sekaligus
epik dalam legenda setempat. Pria pria asing yang bringas dari suku suku tidak
beradab di utara China merangsek membabi buta. Menebar teror dan malapetaka
bagaikan serpihan neraka. Kerusakan yang mereka perbuat hampir menyapu bersih
kegemilang peradaban Islam dan menguburnya dalam kenangan nostalgia yang
diceritakan layaknya dongeng fiksi. [19]
Bukhara, Samarkhan, Herat, Balkh dan
kota kota lain di Transoxiana runtuh menyisakan puing puing. Penduduk Herat
menyusut drastis, penghuni Samarkhan dan Balkh disembelih atau diseret untuk
dijebloskan ke tahanan. Warga kota Bukhara mengutuk Jenghis Khan dan
menggambarkan sosoknya sebagai “bencana yang dikirim Tuhan kepada umat
manusia”, pengaruh Islam juga tercermin pada pernyataan lanjutannya yaitu
“hukuman atas dosa dosa mereka”.[20]
Sumber sumber kontemporer menegaskan serbuan gila gilaan bahkan mencapai
Samarra. Seluruh Bagdad merinding ketakutan, khalifah al- Nashir, putra mahkota
al-Zhahir (1225-1226) dan al Mustanshir (1226-1242 M) menghabiskan hari harinya
bersama rasa cemas. Perjuangan habis habisan, membela diri dan bertahan di
balik dinding Baghdad adalah kewajiban rakyat ibukota. Kedamaian sejenak adalah
angin sejuk ilusi yang akan berganti badai mematikan yang berbahaya.
Baghdad yang merupakan zona nyaman kini membunyikan alarm
daruratnya ketika Hulagu Khan berupaya membasmi kelompok pembunuh spesial
(Hasasin)[21](1253
M). Setelah berhasil menumpas pemberontakan pemberontakan berskala kecil namun
bertebaran di atas reruntuhan imperium Syah Khawarizm, Hulagu Khan menawarkan
kerjasama kepada kekhalifahan Abbasiyah untuk berpartisipasi dalam rencana
merebut benteng Alamut. Khalifah al Musta’shim (1242-1258 M) cuek dan tidak
menghiraukan undangan baik dari Hulagu Khan. Ternyata menduduki sarang Hasasin
tidak terlalu sulit, misi pun selesai dan kelompok unik ini dileyapkan.
Undangan yang tidak digubris membuat Hulagu khan yakin pada spekulasinya.
Semula masih mempercayai bahwa kekaisaran Abbassiyah menyimpan pasukan hebat
kemudian berpikir ulang dan sadar akan lemahnya kekhalifah Abbasiyah.
Kejayaan kekaisaran sudah lama pudar, yang ada hanya sifat
menumpang seperti halnya benalu sehingga Hulagu Khan berani memberikan
ultimatum kepada Khalifah untuk menyerah dan mendesar agar tembok luar kota
diruntuhkan. Khalifah yang labil mendapati dirinya dan seluruh pegawai istana
bingung dan ragu. Permintaan yang tidak diindahkan terpaksa diwujudkan sendiri,
gempuran hebat prajurit prajurit Mongol mampu meruntuhkan salah satu menara
benteng mengagetkan seluruh penduduk Baghad. Ibnu al-Alqami yang menjabat
sebagai Wazir datang kepada Hulagu bersama seorang katolik Nestor untuk memohon
tenggat waktu dan berharap istri Hulagu yang Kristen bisa mempengaruhi
keputusannya. Namun, kepribadian Hulagu sangat mantap, dia menolak dan
mengabaikan peringatan peringatan konyol.[22]
Pasukan Hulagu menembus gerbang kota
Baghdad, khalifah dan tiga ratus pejabatnya buru buru menjilat dan menyesali
perbuatannya dengan menawarkan penyerahan diri tanpa syarat. Hulagu yang geram
dan licik menunda pembantaian selama sepuluh hari kedepan. Kota Baghdad
bernasib sama dengan Roma, dua ibukota peradaban paling kaya di dunia harus
rela dijarah dan dibakar oleh suku suku barbar yang haus harta benda. Mayat
mayat membusuk bergeletakan di jalanan yang berulangkali didahului suara jeritan.
Dunia Muslim mati suri terbengkalai
tanpa khalifah yang namanya selalu disebut sebut dalam sholat Jum’at. Hulagu
Khan yang belum puas kembali mengancam peradaban Islam yang sekarat. Suriah
utara menjadi target berikutnya, sebelumnya tentara Hulagu Khan menduduki Hamah
dan Harim, sementara Aleppo banjir dengan darah penghuninya. Hulagu yang
bersedih atas kematian saudaranya memilih untuk berduka dengan pulang ke
Persia. Penaklukan atas Suriah memerlukan balatentara untuk mempertahankan kota
tersebut agar tidak jatuh ketangan musuh, namun kemenangan Baybars[23]
dalam pertempuran di Ain Jalut (1260 M), di sebuah mata air Goliath dekat
Nazareth meredam invasi Mongol sepenuhnya.
Sementara itu, Seljuk Rum terpecah
pecah dalam provinsi provinsi yang dikuasai elit lokal dari suku suku Turkoman.
Anatolia terbagi dalam empat keemiran utama, Aydin, Geminiyan, Saruhan,
Menteshe, Karaman dan Ottoman. Penguasa bergelar emir, berjuang mempertahankan
provinsi perbatasan. Para komandanya disebut beys dan semangat iman Islam
melawan kaum kafir dinamai Gazis. Akan tetapi, Seljuk Rum yang tersisa hanyalah
keemiratan Germiniyan. Pada abad ke 12 dan 13 lebih disibukkan dengan anarki
anarki internal dan upaya disintegrasi yang dipelopori oleh para komandannya.
Mentese Bey, seorang pemimpin Gazis dari pesisir barat daya menyerbu pantai
Byzantium. Dari arah utara, Dinasti Germiniyan berdiri di Kiitahya tahun 1286 M
dan mengadakan ekspedisi menggerogoti kekuasaan Mongol.
Keemiratan Germiniyan yang kuat juga merampas pantai Aegean milik
Byzantium. Kerajaan Turki independen lainnya adalah Aydin yang memerintah
Smyrna (Izmir) dibawah anak kedua Umar Bey. Emirat Aydin membangun armada laut
yang siap meneror perbatasan laut Byzantium. Komandan Germiyan lainnya,
diperkirakan tahun 1313 M membentuk dinasti Saruhan di Lydia utara dengan
ibukota Magnesia (Manisa). Kerajaan Saruhan aktif membombardir pulau pulau
Genoa demi membuktikan superioritasnya di Laut Aegean. Satu lagi, komandan
Germiyan yang berhasil menegakkan keemiratan yang lebih hebat dibandingkan
Germiyan, Dinasti Karaman yang beribukota di Misia. Semua pecahan Seljuk Rum,
kecuali Ottoman yang keemiratannya diarsiteki oleh Osman.
[1]Oghuz mempunyai
banyak julukan, Sejarawan Byzantium menyebutnya Ouzoi, orang Yahudi Khazar
mengenalnya sedangkan penulis kronik Rusia sepakat dengan penulis dari penganut
Nestorian, menamai Torki.
[2] Shaman adalah
dukun suku primitif
[3] Oxus adalah batas tradisional antara peradaban dan barbarisme di Asia
Barat, antara Iran dan Turan, dan legenda Persia, versi epik besar Firdausi, para Shanamah, mengatakan pertempuran heroik Iran terhadap Turanian
raja Afrasiyab, yang pada akhirnya diburu dan dibunuh di Azerbaijan.
[4]Ma Wara al-Nahr
berarti berada di luar sungai, provinsi yang berkembang cakupannya. Terbebas
dari serangan suku suku nomaden yang hobbi menjarah. Kota kotanya meliputi
Samarkand dan Bukhara yang ketenaran dan kekayaannya melegenda.
[5] Ahmad bin
Tulun, seorang Turki yang menjadi pangeran setelah kesuksesnnya merebut Mesir
pada 868 M.
[6] Khalifah
berhenti menggunkan wewenangnya di perbatasan timur jauh, tugas mengamankan
Jantung Peradaban Islam di Transoxiana dipikul oleh dinasti kecil Samaniyah.
Pemimpin dinasti Samaniyah lebih brilian daripada khalifah Abbassiyah yang
lemah. Dinasti ini mampu melindung dari serangan membabi buta bangsa barbar
nomaden.
[7] Clovis adalah
kepala suku Frank yang tangguh. Dia meninggalkan kepercayaan pagan dan memeluk
Kristen Katolik pada tahun 496 M sama seperti Seljuk, seorang kepala suku Turki
Oghuz yang meninggalkan keperacayaan pagan dan memeluk Islam pada tahun 960 M.
Keduanya adalah tokoh legendaris bagi bangsa Perancis (Clovis) dan bagi bangsa
Turki (Seljuk).
[8] Ekspedisi
militer Mahmud ke India sangat sistematis dan tepat sasaran. Ini berkat bantuan
ilmuwan muslim terkemuka, Al Biruni yang membantu sang Emir dengan membuatkan
peta India.
[9] Kuil kuil Hindu
menyimpan harta kekayaan lebih banyak daripada tempat manapun di India bahkan
lebih kaya daripada kerajaan Hindu sendiri.
[10] Buwaihi diambil
dari nama Ahmad Ibn Buwaih, dia adalah keturunan Abu Syuja’ Buwaih yang mengaku
keturunan raja raja Sasanid kuno. Ahmad Ibn Buwaih memimpin gerombolan orang
orang dataran tinggi Dailami yang gemar berperang. Dinasti Buwaihi seakan
menjadi perwalian dari Khalifah dalam segala urusan kerajaan Abbassiyah.
[11] Dinasti
Fatimiyah adalah dinasti Islam Syiah yang menguasai Afrika Utara, pantai pantai
Eropa di Mediterania, dan sebagian Timur Tengah. Sa’id Ibn Husayn mengaku
keturunan Fatimah, dia mendirikan dinasti Fatimiyah setelah membuang semua
keturunan Ziyadatullah, penguasa dinasti Aglabiyah terakhir.
[12] Nicaea adalah
nama dari bahasa Yunani kuno, kota polis Yunani di zaman kuno. Niqiyah versi
bahasa Arabnya dan versi bahasa Turki disebut Izniq).
[13] Franka adalah
sebutan orang orang Perancis di masa Abad Pertengahan.
[14] Sultan
Maliksyah (1072 -1092 M) adalah penerus Alp Arslan. Masa pemerintahannya
merupakan puncak kejayaan Seljuk Turki. Zangi adalah keturuanan Maliksyah dari
ibu seorang selir keturunan Eropa.
[15] Shalah al Din
Ibn Ayyub atau Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi, dikenal barat sebagai Saladin lahir
di Tikrit (1138 M) dari keluarga Kurdi, Irak Utara.
[16] Dinasti
Khawarizm selama lebih dari seratus tahun ditakdirkan menonjol di Asia Tengah,
seorang budak dari Ghaznah yang bekerja sebagai pembawa cangkir Maliksyah diangkat
menjadi gubernur Khawarizm. Dia adalah Al Juzwayni yang nantinya mendirikan
dinasti Khawarizm.
[17] Temudjin adalah
nama asli Jenghis Khan. Jenghis Khan merupakan sebuah gelar yang populer yang
disandangnya, gelar yang memiliki arti “Raja diraja” atau Raja dari para Raja.
[18] Perekrutan
tentara dari rakyat yang telah ditaklukan adalah kebiasaan militer Mongol demi
mendukung ekspansi kedaerah yang lebih jauh, cara ini diperkenalkan oleh sang
Raja diraja Temudjin.
[19]
Bangsa
Mongol yang membinasakan seluruh negeri Muslim mendapatkan hadiah stigma buruk.
Karakter pembawa bencana dan tanda tanda kiamat melekat dalam identitas Mongol
yang diserupakan ajaran ajaran kedatangan Dajjal, meskipun hukum bagi suku suku
barbar berlaku juga kepada suku Mongol. Maksudnya, suku suku taklukan Arab
manapun pasti akan turut memuliakan Islam. Dari suku Tartar, Turki, Berber,
Persia, Mongol dll.
[20] Saksi mata peristiwa horror itu,
Ibnu al Atsir mencemoohnya dengan kalimat “seandainya ibunya tidak pernah
melahirkannya.
[21] Kelompok
Hasasin adalah penganut sekte Ismailiyah yang menyimpang, mereka pembunuh
pembunuh yang professional dan terlatih membunuh dengan cara yang tidak lazim
dizamannya.
[22] Hulagu Khan
tidak akan mempan dengan peringatan peringatan penuh khayalan yang digubah
Khalifah yang sudah sejak lama menjadi boneka tanpa kekuatan. Hulagu yang
bodoh, buta huruf dan tidak berpengetahuan tidak akan mempertimbangkan
sedikitpun peringatan larangan mengganggu “kota kedamaian atau “jika khalifah
terbunuh, alam semesta akan kacau balau, matahari menyembunyikan wajahnya,
hujan berhenti turun, dan taka da lagi tumbuhan. Memang khalifah itu Tuhan,
padahal Hulagu hanya seorang pagan yang bahkan tidak percaya apapun selain yang
mengantarkan pada kesenangan.
[23] Baybars adalah
panglima perang Sultan Mamluk, Quthuz. Kemenagan gemilang Baybars tidak
memberikannya apapun, terutama harapannya yang sia sia untuk memiliki Aleppo
sebagai hadiah atas keberhasilan miliernya. Quthuz yang serakah dan Baybars
yang kecewa menuangkan pembunuhan penuh kemunafikan, dalam perjalanan pulang ke
Suriah, ketika berburu bersama Quthuz, seorang bawahan Quthus mencium mendekati
sultan lalu mencium tangannya dan Baybars menebas lehernya dengan pedang (24
Oktober 1260 M). Baybars dengan mudah memperoleh simpati dan naik tahta berkat
kepopulerannya, apalagi kepiawainnya dalam bernegoisasi dan menjalin kerjasama
terbukti kerjasamanya dengan kerajaan Golden Horde atau orang orang Mongol
Qipchaq (yang mendirikan kekaisaran setelah ekspansi tak terbendung hingga Prusia
Timur dibawah pimpinan Batu dan berhenti ketika saudaranya, Mangu Khan
meninggal dunia) menghentikan invasi Hulagu Khan. Sultan Baybars juga berhasil
membubarkan sisa sisa kelompok Hasasin yang lolos dari pembantaian Hulagu Khan
untuk selama lamanya.

0 komentar:
Posting Komentar