Tampilkan postingan dengan label Perang Besar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang Besar. Tampilkan semua postingan

Beyezid the Thunderbolt vs Timur Lenk the Conqueror ; Kompetisi Perebutan Gelar Penguasa Islam Terhebat

           

             Hiruk pikuk dan sorak sorai kemenangan tiba tiba berganti duka mendalam. Serah terima status raja dari Murad I kepada putra mahkota Beyezid berlangsung sederhana. Kabar kematian Murad I di Kasovo disambut gembira oleh musuh musuhnya, kerajaan kerajaan tetangga bersemangat mencaplok wilayah Ottoman terutama emir emir Turki di Anatolia. Namun, Beyezid memadamkan pemberontakan kerajaan vassal, Germiyan dan Karaman. Serangkaian pembelotan yang dipaksakan berhasil ditumpas, Anatolia yang bergejolak menelan getah pahit kekalahan. Setelah stabilitas politik aman, Beyezid menggerogoti wilayah Kekaisaran Hongaria dengan menginvasi Wallacia. Raja Sigismund merasa terancam, kekaisaran Hungaria memperbaruhi kerjasama untuk membentuk liga anti Turki. Merespon hal tersebut, Beyezid menikahi Oliver, adik perempuan Lazar.
            Negara negara sakit hati yang mengeroyok Beyezid dalam pertempuran di Nicopolis (1396 M). Legiun legiun Romawi, Garnisun pasukan Hungaria, tentara bayaran Venesia dan ksatria Franco –Burgundi merapatkan barisan. Dari arah lain, kavelari ireguler baik pemakai pedang maupun busur panah menatap garang lawannya. Sementara itu, kesatuan elit Jennisari bersiaga dibelakangnya. Pasukan kaliveri bersenjata ringan dibawah Raja Serbia, Stephen Lazarevic dipukul mundur oleh ksatria barat yang bersenjata lebih berat. Ksatria ksatria Barat yang angkuh dan congkak mengalami kelelahan. Mereka terjebak perangkap, kavelari Ottoman yang lebih berat berduyun duyun menuruni bukit. Kecerobohan taktik yang fatal adalah ulah mereka sendiri yang meremehkan nasihan Sigismund yang lebih berpengalaman. Neraka pembantaian tidak dapat dihindari, sementara pasukan Hongaria dan sekutu sekutunya memilih kabur meninggalkan ksatrian Franco Burgundi[1] karena terlampau jauh untuk meyelamatkannya.
            Raja Sigismund menyesal membuang waktunya lantaran kecewa sebab kekhawatirannya tidak terbukti. Beyezid tidak melanjutkan ekspansinya ke utara, sebaliknya dia malah memindahkan pasukanya ke Asia menuju Anatolia, dari sinilah sebutan Beyezid sang petir dipopulerkan karena kecepatan dalam memindahkan pasukannya dari Eropa menyebrang ke Asia. Beyezid berhasil menumpas pemberontakan dan mengeksekusi Alaeddin yang notabene adalah kakak iparnya. Akan tetapi, kerajaan kerajaan vassal belum berhenti membelot. Kali ini mereka mencari perlindungan ke penguasa tujuh iklim yang tak terkalahkan. Timur Lenk harus berurusan dengan Beyezid karena musuh bebuyutannya, Sultan Ahmad dari Baghdad dan Qara Yusuf bersembunyi di wilayah kekuasaannya. Beyezid pun harus berurusan dengan Timur Lenk karena Penakluk Dunia tersebut melindungi Kaisar Manuel II dan turkoman turkoman di Anatolia.
      Eropa tiba tiba menggantungkan harapan kepada Azab Tuhan, seorang laki laki Uzbeks –Tartar yang mengklaim keturunan Genghis Khan. Serangkaian perang urat saraf mewarnai konfontrasi diplomatik yang menghina musuh dan mengagungkan tentaranya melalui surat yang diperantarai kurir. Timur Lenk mencuri inisiatif dengan menyerbu Sivas, sementara itu Beyezid masih dalam perjalanan yang melelahkan. Strategi unik diterapkan, Timur Lenk membuat Beyezid kewalahan. Sekutu sekutu Timur Lenk berbuat onar secara bergantian menyebabkan Beyezid mondar mandir. Seperti ungkapan sejarawan favorit saya, Justin Marozzi “Serangkaian Perjalanan yang dipaksakan”.
            Beyezid terlalu sibuk sekaligus semakin bingung. Para pengintainya tidak menemukan perkemahan pasukan Tartar, padahal pasukan Tartar sudah mencapai Qaysariyah. Selama seminggu, pasukan Tartar beristirahat dan bertahan hidup dari menjarah persediaan pangan pedesaan. Beyezid yang keras kepala terus mencari mangsanya tanpa memperdulikan pasukannya yang kehabisan tenaga. Beyezid melanjutkan pergerakan dengan percaya diri, sementara itu Timur Lenk melancarkan serangan ke Ankara. Beyezid panik dan dengan segera melakukan manuver balik.
            Pada 28 Juli 1402 pukul 10 pagi, dua raja paling ditakuti di dunia berduel memperebutkan gelar “Kaisar Zamannya”. Prestasi luar biasa Timur Lenk, mulai dari merobohkan kerajaan Golden Horde, merampas Baghdad, menendang Raja Georgia dan Sultan Delhi dari kursi istananya serta memaksa Mesir bertekuk lutut. Namun Beyezid tidak kalah cemerlang, dia memadamkan segala macam pemberontakan ganas di Anatolia, mencopot Shisman Bulgaria, membendung ekspansi gila gilaan dari aliansi anti Turki dan membinasakan ksatria ksatria Perancis yang angker. Beyezid merupakan seorang laki laki Turki yang menggelisakan Eropa sedangkan Timur Lenk[2] adalah seorang pria tua yang hobi membangun piramida tengkorak manusia yang menjulang tinggi di Asia.
            Pasukan Utsmani yang kelelahan mengambil statregi bertahan. Ketika ribuan anak panah menghujam tentara Beyezid, Amir Husain[3] membelot dan mengacaukan sayap kiri. Divisi Elit Timur Lenk menerabas masuk dan kavelari Serbia yang pengecut berlari tunggang. Meskipun Beyezid sudah kalah strategi sejak awal namun perlawanan gencar terus berlangsung hingga malam. Tiga puluh gajah perang menghantam pasukan elit Jennissari. Pasukan utama dapat dilumpuhkan, Beyezid tertawan dan mati mengenaskan dalam kurungan. Timur Lenk sang penguasa konjungsi yang sukses memenangkan ajang bergengsi melawan Beyezid sang petir, musuh terkuatnya.
            Timur Lenk mengembalikan emirat emirat lama dengan tujuan membatasi kekuatan Ottoman pada celah sempit memanjang dari Laut Marmara hingga Bursa. Dinasti dinasti Turkoman pembawa masalah bangkit kembali di Karaman, Aydin, Germiniyan, Menteshe dan Saruhan. Putra tertua Beyezid, Sulaiman menadatangani perjanjian Gallipoli yang merugikan pihak Ottoman dengan menyerahkan provinsi Thessaloniki. Kekaisaran Ottoman yang kehilangan banyak jajahannya harus menanggung perang sipil yang hampir meleyapkan dominasi Ottoman selamanya. Pangeran Mehmed I yang brilian, putra termuda Beyezid ini menyingkirkan kakak kakaknya melalui serangkaian taktik penuh spekulasi. Setelah sukses menumbangkan saudara saudaranya, Mehmed I mendapat hadiah spektakuler berupa dua krisis yang datang bersamaan.
            Pemberontakan Bedreddin dan ancaman Venesia yang menguji kepemimpinan Mehmed I. Kesulitan kesulitan tersebut bukan membuat Mehmed I menyerah pada nasib anehnya dia malah memutar balikkan keadaan sehingga Kekaisaran Ottoman yang sekarat mampu memulihkan stabilitas politiknya sekaligus memperluas wilayahnya. Murad II mewarisi kerajaan yang utuh sehingga pengepungan Konstantinopel pun dapat dilaksanakan. Kegagalan merebut Konstntinopel terbayar dengan keberhasilan mematahkan ekspansi Drakul dari Wallacia dan Isfendyaroghlu dari Sinop. Dalam 20 tahun, Murad telah mengembalikan wilayah wilayah yang hilang setelah pertempuran di Ankara, kecuali Karaman dan lembah Eufrates bagian atas. Pasukan Turki memblokade Thessalonikki dan memaksa Venesia menyerakhkan kota itu. Murad II juga menaklukkan emirat emirat lama secara bertahap, dari Aydin, Menteshe, Germiniyan, Saruhan dan terakhir Karaman. Peperangan melawan Ibrahim dari Karaman memberik Sultan musibah luar biasa. Anak kesayangannya, Alaeddin meninggal dalam pertempuran di musim gugur. Kesedihan menyebabkan Murad II mengambil keputusan mengejutkan dengan menyerahkan tahtanya kepada Mehmed II yang masih berusia dua belas tahun.
            Merespon berita gembira itu, Paus menginzinkan gerakan Perang Salib episode selanjutnya dimana Raja Vladislav dan John Hunyadi memimpin barisan pasukan Hungaria. Grand vizier memanggil Murad dari tempat pengasingannya di Manisa. Pertempuran pertempuran sebelumnya terulang lagi, kavelari Ottoman dipukul mundur oleh artileri lapangan berupa benteng pertahanan yang dapat digerakkan karena memakai konsep kereta. Dalam keadaan terdesak, Murad II melepaskan elit Jennisari yang tidak berkuda untuk menghancurkan kartu truf Hungaria tersebut. Pasukan Hungaria mundur dari mean perang, sementara Murad II berputar untuk mengatasi kemelut politik internal kerajaan. Pangeran Mehmed II masih belum mendapat kepercayaan dari kesatuan elite Janissari. Tentara elite Janissari yang memberontak akhirnya dapat diatasi oleh Murad II. Penyerangan Scanderbeg di Albania dan menghalau laju invasi kedua John Hunyadi adalah peperangan terakhir Murad II sebelum ia meninggal dunia pada awal tahun 1451 M.




[1] Franco – Burgundi adalah sebutan orang Perancis kala itu, dibedakan karena salah satu Provinsi bernama Burgundi memerdakakan diri dan membentuk kerajaan kuat yang berlangsung singkat.
[2] Perlu diketahui, Beyezid adalah penganut Islam sunni sementara Timur Lenk lebih memilih Syiah.
[3] Timur Lenk memanfaatkan kesetiaan suku dan menawarkan harta jarahan yang melimpah jika Amir Husain membelot dan bergabung bersama saudara Tartarnya ketika peperangan dimulai. Amir Husain percaya karena Timur Lenk terkenal dermawan.
Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.