Nggedabrus-nya Mahasiswa Unair


Professor Indonesia paling cerdas pun pasti dianggap “gila” bila berpikir lebih dari lima menit ketika menanggapi fenomena budaya Surabaya. Warga Surabaya gemar bercakap-cakap secara blak-blakan atau to the point. Wajar saja bahasa-bahasa nyeleneh semacam Nggedabrus, Nggacor, Nyocot atau Kemrungsung muncul sebagai istilah bagi orang yang suka berbicara bertele-tele atau omong kosong.
            Kebetulan sekali, Universitas Airlangga berada di Surabaya. Kata sumber antah berantah yang terlanjur menjadi gosip-gosip murahan, mahasiswa Universitas Airlangga itu terkenal cerdas-cerdas. Penulis sebagai mahasiswa Universitas Airlangga merasa tersanjung meskipun tahu jika kebanyakan  masyarakat menyakini dengan sepenuh hati bahwa jurusan di Universitas Airlangga cuma kedokteran.
            Sekali lagi kebetulan penulis bukan mahasiswa kedokteran. Penulis berasal dari jurusan yang mahasiswanya terkenal paling unik, antik, purba, aneh, nyeleneh dan asing bagaikan alien di kandang sendiri. Di sana banyak mahasiswa abadi mengaku mahasiswa baru dengan membanggakan gelar maba (baca: mahasiswa abadi) yang telah lama disandangnya. Penulis berharap masyarakat Indonesia mengetahui bila jurusan di Universitas Airlangga sangat beragam.
Penulis bingung terhadap pengetahuan kebanyakan masyarakat tentang Universitas Airlangga. Penulis sempat mencurigai beberapa orang yang masih mempertahankan argumen bahwa jurusan di Universitas Airlangga hanya kedokteran sebagai manusia-manusia terpilih yang diberi keajaiban oleh Tuhan. Manusia manusia terpilih itu senantiasa mengenang nostalgia ketika Universitas Airlangga masih bernama Nederlansch Indische Artsen School meskipun kenyataannya Tuhan menghendaki mereka lahir jauh sesudah peresmian pergantian nama universitas.
            Penulis merupakan mahasiswa jurusan ilmu sejarah Universitas Airlangga. Jurusan Ilmu Sejarah di Universitas Airlangga memang kurang populer. Penulis memakluminya karena peminat jurusan Ilmu Sejarah cukup langka. Penulis mengakui bahwa dirinya memilih jurusan Ilmu Sejarah karena sejak awal berminat memperlajari ilmu yang menurut remaja-remaja alay yang sok melankonis sebagai sebab utama problem gagal move on.
Mahasiswa-mahasiwa Ilmu Sejarah di Universitas Airlangga cukup menarik bila diamati lebih mendalam. Mahasiswa sejarah itu sangat romantis, bagaimana tidak?, fosil aja dirawat apalagi kamu!. Mahasiswa-mahasiswa sejarah juga terampil beretorika dari yang ilmiah hingga nggedarus. Salah satu mahasiswa nggedarus berasal dari Surabaya. Dia merupakan mahasiswa paling berbakat dalam nggedarus sehingga bergelar Professor Fiksi. Siapa pun yang berdiskusi dengannya pasti mengakui bahwa pikirannya sangat encer meskipun fakta sesungguhnya cuma omong kosong. Ada pula mahasiswa yang tampilannya kuno, muka usang dan rambut gondrong, katanya sih perwujudan identitas manusia-manusia spesial yang telah bertekad keras mencari arsip padahal sudah tahu bahwa mengumpulkan data pada ratusan lembaran arsip bagaikan mencari jarum di atas tumpukan jerami.
Bagi mahasiswa-mahasiswa bermental abad pertengahan, arca adalah berhala tapi bagi mahasiswa sejarah arca merupakan barang antik yang sangat bernilai. Kini pembaca tahukan seberapa sangar mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah. Namun, itu cuma penggalan cerita saja, masih banyak cerita-cerita aneh dan tidak masuk akal semisal kutukan setiap angkatan yang tidak boleh dipublikasikan.
Begitulah keadaannya, semoga pembaca paham karena penulis telah menghabiskan lima jam lamanya mengilmiahkan tulisan ini. Jangan kecewa jika belum bisa menerimanya dengan akal sehat sebab Anatole France (novelis terkenal) membela ketidakmampuan itu dengan mengatakan lelucon garing bahwa buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pastilah sangat membosankan.
Pembaca pasti semaking bingung, santai penulis pun begitu. Apalagi presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri berkata bahwa nabi (Muhammad, pen.) saja seorang pemimpin, tapi nggak sarjana kok!.

Indonesia Membangun Karakter Manusia Purba


“Kurikulum Sejarah SMP dan SMA memerlukan renovasi. Mengingat manfaat sejarah kurang Mengena. Pelajaran sejarah terjangkit virus membosankan. Pelajaran sejarah bisa di bilang  sebatas hafalan nenek moyang. Posisi sejarah sebagai pembangun karakter bangsa berubah menjadi ajang pencarian bakat menghafal. Jika terus di abaikan anak bangsa akan buta dengan bangsanya sendiri”
            Mata pelajaran sejarah bukanlah sekedar dongeng. Sejarah membekali kita kemampuan mental yang sangat berharga yakni kemampuan menilai. Peranan sejarah sebagai alat untuk mengubah cara kita berpikir. Penggunaannya untuk meningkatkan kemampuan, bukan untuk mengingat nama, tempat, dan tanggal. Belajar sejarah membuat kita lebih baik dalam memahami, menilai dan mengambil sikap dengan hati-hati. Sejarah mengajarkan kepada kita cara-cara untuk menentukan pilihan, untuk memperhitungkan berbagai pendapat dan memperkaya daya kritis .
Makna sejarah begitu penting dalam persatuan bangsa Indonesia. Sejarah adalah pondasi awal pembentuk karakter bangsa. Mengutip perkataan Soekarno “jangan sekali kali melupakan sejarah”. Soekarno tahu bahwa bangsa Indonesia menjadi bangsa besar bila menghargai sejarahnya. Belajar sejarah berarti belajar pengalaman agar tidak terjerumus kepada kesalahan yang sama. Oleh sebab itu mata pelajaran sejarah wajib bagi SMP dan SMA. Meski diwajibkan mata pelajaran sejarah tidak dapat menghasilkan manfaatnya. Mata pelajaran ini tidak dapat meningkatkan rasa nasionalisme. Siswa SMP dan SMA menganggap hanyalah sebuah pelajaran hafalan semata. Perlunya pelajaran sejarah pun mulai diragukan.
 Prasejarah materi aneh yang meragukan. Materi prasejarah penuh perdebatkan. Materi prasejarah terlalu sakral untuk tingkat SMP dan SMA.  Bagi siswa, Materi prasejarah layaknya dogma sejarah. Siswa tidak tahu apa manusia purba itu benar ada atau tidak adanya. Dalam Kurikulum, prasejarah adalah materi pembuka. Siswa hanya menurut dan menghafalkan materi itu mentah-mentah. Ini menjadikan cara berfikir siswa yang keliru. Siswa mulai memikirkan bahwa sejarah hanya untuk dihafal.
Tradisi menghafal pun berlanjut. Materi demi materi hanya sebagai beban hafalan siswa. Apa guna sejarah jika cuma untuk dihafal?. Padahal sejarah indonesia begitu dramastis. Pengalaman sejarah Indonesia bisa digunakan sebagai sumbangsih kemajuan bangsa. Tapi faktanya sebaliknya. Siswa SMP dan SMA yang notabene penerus bangsa seakan menelantarkannya. Akibatnya mayoritas siswa tidak mengerti sejarah bangsanya sendiri seperti apa. Mereka hanya tahu fakta-fakta sejarah dan tidak mengerti apa sebab itu bisa terjadi. Pemahaman sejarah sesuai historiografi sangat rendah. Jika di biarkan penerus bangsa akan melakukan kesalahan yang sama dengan para pendahulunya. Indonesia akan berkutat di kesalahan yang sama.
Dalam mengajarkan mata pelajaran sejarah guru sejarah memerlukan inovasi. Mata pelajaran sejarah sedikit berbeda dengan mata pelajaran lain. Sejarah adalah mata pelajaran berbentuk cerita dari masa lalu tapi bukan masa lalu itu sendiri. Bentuk sejarah yang notabene adalah cerita ,seharusnya memiliki alur dan historiografi sendiri. Dalam mempelajari sejarah, alur sejarah itu lebih penting dari menghafalkan fakta. Jika siswa mengerti alur sejarah dia kemungkinan bisa tertarik dengan sejarah. Mengerti alur sejarah akan mempermudah penghafalan fakta sejarah. Guru sejarah harus menyesuaikan alur dalam menerangkan sejarah, Sebaiknya juga menghadirkan alat bantu berupa peta. Guru sejarah harus memiliki skill bercerita untuk membuat cerita sejarah itu hidup. Saat mata pelajaran sejarah harus disisipkan acara menonton film sejarah. Ini penting sebagai gambaran secara langsung bagi siswa. Siswa akan terimajinasi hingga menempatkan dia berada di dalam sejarah tersebut sebagai pelaku. Sesekali guru sejarah juga harus mengajak siswa ke musem kota.
Masalah cara pembelajaran sejarah yang unik membuat cara mengujinya pun harus unik. Ujian untuk sejarah lebih baik dengan ujian lisan dan ujian uraian dari pada ujian tulis pilihan ganda. Jawaban untuk pertanyaan sejarah itu spesifik bukan singkat. Ini sangat krusial, Ujian pilihan ganda itu menyebabkan siswa fokus menghafal. Pengetahuan sejarah siswa menjadi tidak dapat di ukur. Berbeda hal nya dengan ujian lisan dan ujian uraian. Segala trobosan saya tidak akan tercapai tanpa kerendahatian guru sejarah.
Tugas Guru sejarah harus membebaskan pikiran siswanya. Jawaban pertanyaan sejarah bukan hanya tertera dalam buku. Kebenaran motif pelaku sejarah itu terkadang misterius. Buku Standar untuk mata pelajaran sejarah tidak selalu memaparkan kebenaran. Standar kebenaran jawaban sejarah adalah pendapat yang logis beserta kejelasan fakta.
 Penghapusan materi prasejarah harus di sertai solusi yang tepat. Solusi untuk menggantikan materi prasejarah adalah materi asal muasal bangsa Indonesia. Materi terlihat lebih rasional dan mudah dipahami. Materi tersebut adalah materi tentang Sejarah bangsa Austronesia. Dalam buku paket sejarah sedikit di paparkan namun tak pernah dijelaskan. Tema materi ini bisa menjadi inovasi cemerlang.
Belajar Sejarah bangsa Austronesia lebih bermanfaat daripada belajar prasejarah Indonesia yang meragukan. Belajar bangsa Austronesia membuat siswa sadar bahwa bangsanya pernah menjadi bangsa besar. Peran bangsa Austronesia dalam bidang pelayaran samudera adalah rahasia umum yang belum banyak di ketahui. Dengan belajar sejarah bangsa Austronesia siswa dapat mengerti banyak hal tentang bangsanya. Pengetahuan siswa jauh lebih luas dan lebih mengerti realita sekarang ini. Bila dijadikan kurikulum pengganti prasejarah sangatlah cocok untuk mengisi historiografi sehingga alur sejarah dapat terbentuk.

Sadar Arsip sebagai Kontribusi Membangun Peradaban




Ketika usai membaca buku sejarah, sesuatu mengganjal dibenakku. Pertanyaan sederhana mengenai mengapa sejarah harus bermula dari Yunani kuno? Peradaban yang melahirkan banyak manusia bijak yang gagasannya masih dikutip hingga sekarang. Pertanyaan selanjutnya muncul, apakah nenek moyang orang Nusantara tidak memiliki peradaban yang penuh oleh manusia bijak. Seharusnya memang ada, seluruh kebijakannya lenyap pudar dalam kabut sejarah. Keganasan waktu menelan itu semua tanpa belas kasihan hingga menyisakan apa yang dinamakan kebijakan setempat atau kearifan lokal.
Semua kearifan lokal berasal dari tradisi lisan yang tidak menyebutkan siapa penuturnya. Dari sini, kita mengetahui bahwa ukuran sebuah peradaban yang sudah terkonstruksi dalam pemikiran global adalah karya tulis. Salah satu manusia kuno yang bijak yaitu Herodotus yang mewariskan quote sederhana “Aku menulis untuk mengabadikan seluruh tindakan manusia”. Bapak sejarah itu merekam peristiwa yang ditemui sehingga tulisannya sekarang menjadi arsip penting. Akibat dari manusia manusia bijak seperti Herodutus dkk yang meninggalkan karya tulis adalah penobatan Yunani kuno sebagai pusat peradaban dan intelektual tertua.
            Rekam jejak kegemilangan Yunani kuno dapat ditelusuri berkat adanya arsip. Oleh karena itu, arsip merupakan memori kolektif masyarakat. Diary kehidupan masyarakat yang berhasil terdokumentasi dengan baik akan mampu mengkisahkan ulang kenangan masa lampau. Elie Wiesel bahkan dengan keras mengatakan “Without memory, there is no culture. Without memory, there would be no civilization, no society, no future. Ungkapan Elie Wiesel memberikan pemahaman bahwa pelestarian memori sangatlah penting untuk keperluan eksistensi identitas sebagai suatu budaya, masyarakat, peradaban maupun demi mengisi jawaban pertanyaan masa lalu ketika sudah berada di masa depan.
Memori Kolektif
Setiap individu membutuhkan identitas. Untuk memperolehnya mereka akan mengorek ngorek memori masa lalunya, begitu pula masyarakat. Individu dan masyarakat adalah komponen sosial yang tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi dan tidak berseberangan. Setiap manusia adalah bagian dari masyarakat sehingga memori individu juga merupakan memori masyarakat. Memori masyarakat terdiri dari gabungan dari memori memori individu. Jadi dapat pula disebut memori kolektif. Istilah memori berasal dari Yunani kuno, diangkat dari nama ibu dari sembilan dewi, Mnemosin. Ibu dari sembilan dewi mengkiaskan sebagai induk segala seni. Bahasa Latin pun menyerapnya menjadi memor-oris atau ia yang mengingat.
Menurut Fernando Baez, adanya memori menyebabkan teks arsip bisa dilihat sebagai patrimonium budaya. Pakar perbukuan asal Venezuela ini berusaha mencermati hubungan memori dengan patrimonium budaya melalui kajian Historio-Linguistik.  Patrimonium juga berasal dari bahasa Yunani Padre berarti Ayah dan kata kerja moneo yang diterjemahkan sebagai mengingat. Maka secara harfiah partrimonium berarti yang diingat oleh ayah. Patrimonium budaya yang berperan sebagai ayah dan Mnemosin sebagai ibu. Patrimonium budaya berupa perpustakaan, arsip dan museum sedangkan Mnemosin adalah gudang memorinya yang akan melahirkan memori memori lainnya. Keduanya merupakan bentuk dari identitas masyarakat, bangsa, negara maupun peradaban. Oleh karena itu, pelestarian arsip yang sesuai dengan prosedur, ketentuan dan tata tertib yang berlaku bisa dikatakan sebagai upaya menjaga identitas masyarakat, bangsa maupun negara dengan tujuan akhir membangun peradaban.
Konservasi Arsip untuk mencegah Amnesia Publik
            Manusia adalah sekumpulan ingatan. Dokumentasi ingatan terdiri dari dua macam, tulisan dan lisan. Tulisan bersifat statis sedangkan lisan bersifat dinamis. Arsip merupakan dokumentasi ingatan jangka panjang berupa tulisan. Sementara itu, tradisi lisan merupakan ingatan jangka pendek yang seiring waktu dapat berubah tergantung keadaan, kualitas otak dan daya ingat. Tradisi lisan menguat akibat budaya menulis yang lemah, kegemaran merumpi, meggosip serta isu yang sambil lalu. Sewaktu waktu ingatan jangka pendek tersebut akan benar benar musnah dalam memori kolektif masyarakat.
Sebuah fenomena amnesia publik sehingga peristiwa sejarah benar benar diragukan atau bahkan dianggap tidak pernah terjadi. Amnesia publik merupakan suatu istilah dimana semua orang serentak melupakan “sesuatu” dalam sejarah. Ketika itu terjadi maka “sesuatu” dalam sejarah tersebut akan benar benar dianggap tidak pernah terjadi. Semisal tidak ada satu pun kronik, prasasti ataupun arsip lainnya yang mengkabarkan keberadaan kerajaan Majapahit, maka sebanyak apapun peninggalannya tetap saja akan menjadi komponen yang tidak teridentifikasi. Tidak teridentifikasi karena tidak ada keterangan, atau keterangan lain yang bukan dari kerajaan Majapahit mampu mengklaim hal tersebut. Itulah keunggulan sebuah arsip (dokumen, manuskrip, babad, kronik dll) daripada peninggalan fisik (reruntuhan, lukisan, arca, candi, fosil dll) maupun lisan (dongeng, legenda, epik, mitos dll).
            Dunia akademis bahkan memberikan stigma bagi dua macam dokumentasi ingatan ini. Tradisi tulis menulis merupakan indikasi kemajuan peradaban. Oleh karena itu, menulis adalah sarana untuk berkontribusi kepada kemajuan peradaban. Universitas universitas didirikan untuk melawan tradisi lisan sekaligus mendokumentasikan seluruh tradisi lisan. Sementara itu, tradisi lisan dalam dunia akademis merupakan simbol keprimitifan atau keterbelakangan. Jadi sadar arsip bisa menjadi perilaku positif yang menunjukkan kontribusi membangun peradaban. Masyarakat yang sadar arsip memahami bahwa arsip adalah memori kolektif mereka. Eksistensi dan identitas serta warisan budaya yang menandakan bahwa mereka ada. Arsip adalah kebanggaan masyarakat yang telah berlalu. Arsip memang seperti tanda bukti kehadiran. Ketakutan paling mendalam setiap orang adalah dilupakan, sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh nenek moyang kita. Arsip mencegah keberadaannya menghilang begitu saja dalam perputaran roda sejarah.
Mengabadikan Memori
            Arsip adalah kronik memori dengan periode temporal yang bermacam macam sehingga arsip bisa disebut juga sebagai catatan kemajuan. Manusia selalu mengalami kemajuan. Manusia modern dengan manusia purba jelas berbeda meskipun Tuhan memberikan otak yang sama. Manusia sekarang dengan manusia yang hidup dua juta tahun yang lalu dapat dikatakan mempunyai porsi kemampuan berpikir bawaan yang sama. Namun, efektivitas pemikiran manusia modern sudah melampaui manusia purba berkali kali lipat karena dari generasi kegenerasi transfer pengalaman kerap kali dilakukan. Dari generasi ke generasi juga terus mengalami perkembangan dengan adanya inovasi inovasi baru. Manusia selalu berpikir cara yang lebih mudah dalam mengeksploitasi atau memanfaatkan apapun. Jika menurut Ibnu Khaldun, pondasi dasar sesuatu peradaban adalah pikiran (mengelolah kreativitas) dan tangan manusia (keterampilan) yang melahirkan keahlihan keahlian kemudian membangkitkan perekenomian dengan produk yang beraneka ragam, maka sejarah baginya adalah sebuah kemajuan yang diperoleh dari pewarisan keahlian keahlian yang berjalan turun temurun dari generasi ke generasi. Karena sejarah sebagai besar bersumber dari arsip maka melalui arsip pula alur kemajuan dapat dilacak.
            Memperlajari sejarah seakan akan melihat proses perkembangan manusia sehingga pembaca akan memahami bahwa dibutuhkan inovasi untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Tidak mengherankan jikalau pengusaha milyader sekaligus calon presiden Amerika Serikat yakni Donald Trump, dalam buku Why We Want You to be Rich menyarankan membaca buku sejarah apapun meskipun dia belum sepenuhnya paham manfaatnya. Oleh sebab itu, pengarsipan yang merupakan bentuk dari usaha mengabadikan memori menjadi sangat penting. Dalam rangka menjaga atau melestarikan memori kolektif, pemerintah Indonesia membentuk ANRI untuk menyediakan fasilitas dan layanan yang berkaitan langsung dengan arsip. ANRI sebagai badan yang bertugas melakukan konservasi arsip harus mematuhi tata tertib pengarsipan. Cagar memori ini diharapkan mampu menjaga memori kolektif bangsa Indonesia dengan selalu istiqomah menjalankan tugas mulianya.

Pengkerdilan Partai Politik Islam pada masa Orde Baru


Partai politik berasaskan Islam terutama Nadhatul Ulama memerankan peran penting pada masa Orde Baru melalui kerjasama politik dengan Angkatan Darat. Angkatan Darat bersekutu dengan Nadhatul Ulama dalam rangka membersihkan PKI dan ormas ormasnya dari tubuh pemerintahan hingga akar akarnya. Pesaing politik Angkatan Darat akhirnya tumbang, drama politik berlanjut. Partai politik Islam terutama yang didominasi Nadhatul Ulama mendapat kejayaan politiknya. Euphoria politik  yang terus berlangsung sampai terjadinya kerenggangan antara Nadhatul Ulama dan penyokong utamanya ABRI (1968- 1971).
              ABRI merangkul Nadhatul Ulama secara resmi namun ormas ormas lainnya belum dapat diambil hati sehingga seringkali harus dikontrol paksa atau ditindas. Kejatuhan PKI menyebabkan kekuatan politik ABRI melangit. ABRI semakin ambigu dalam mendukung Nadhatul Ulama karena lama kelamaan masyarakat agak mengendurkan minatnya kepada organisasi kelompok berasaskan Islam ini. Kemesraan ABRI dan Nadhatul Ulama terganggu, hubungan mereka merenggang dengan kemunculan partai Golkar yang suara mutlaknya berada pada ranah pegawai negeri. Sikap ambigunitas ABRI sirna setelah kampaye Pemilu dimana secara terang terangan beralih mendukung Golkar.[1]
          Sepanjang tahun tahun berikutnya, kubu Golkar memperoleh perbaikan nasib dari kesengsaraan diawal pendirian partai. Ketika pemilu 1971 berlangsung suara yang didapatkan meningkat drastis. Salah satu pejabat tinggi yang bertugas menjalin hubungan denga partai Islam memberikan keterangan mengejutkan bahwa suara pemimpin pemimpin Nadhatul Ulama terpecah menjadi dua. Mereka yang mendukung partai Golkar adalah mereka yang tidak memiliki pesantren dan kurang menonjol dalam golongan tradisionalis. [2]
            Geram dengan perilaku politik masyarakat kaum tradisionalis Islam melakukan serangkaian intimidasi yang menjeblokkan suara rakyat kepada mereka. Isu isu yang beredar tentang kaum tradisionalis Islam akan kehilangan jabatan Menteri Agama  setelah pemilu membuat 700 ulama berkumpul di Tebuireng  dan mengeluarkan fatwa yang mengharuskan seluruh umat Islam untuk mencoblos satu partai Islam demi menyaingi politik ABRI yang berkendaraan Partai Golkar. Meskipun usaha usaha dilakukan dengan keras, partai politik Islam tetap berada dibawah Golkar dan bertahap mengalami penyurutan. Musibah perpecahan dalam perpolitikan partai partai Islam diperparah oleh kebijakan pemerintah yang mengkerdilkan peran partai partai politik berasaskan Islam melalui sebuah ide brilian yakni penggabungan paksa partai partai politik (5 Januari 1953). [3]
            Empat Partai Islam yakni Nadhatul Ulama, PSII, Parmusi dan Perti) digabungkan ke dalam PPP, lima partai nasionalis dan Kristen yakni PNI, Parkindo, Partai Katolik, IPKI, Murba) masuk ke PDI. Kebijakan yang melumpuhkan kekuatan politik lawan lawan Golkar. Sejak saat itu, dukungan politik masyarakat kepada partai partai Islam yang terhimpun dalam PPP semakin meredup.


[1]Andree Feilard, NU vis-à-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.(Yogyakarta:LKiS,1999), hlm. 152.
[2] Ibid., hlm 155 – 156.
[3] Firdaus A.N,Dosa Dosa Politik:Orde Lama dan Orde Baru yang Tidak Boleh Berulang Lagi ke Era Reformasi,(Jakarta Timur: Pustaka Al- Kausar,1999), hlm. 34-35.
Andree Feillard,NU vis-à-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.(Yogyakarta:LKiS,1999), hlm 171.

Siapakah Etnis Rohingya




Rakhine (Arakan) merupakan provinsi yang terpisah dari Nyanmar. Provinsi independen yang berada di pegunungan Rakhine Yoma. Wilayah ini telah lama menjadi perbatasan Muslim dan Buddha di Asia. Kerajaan Rakhine didirikan di Mrauk-U tahun 1430 dengan bantuan militer Sultan Bengal. Kerajaan vassal bawahan sultan ini berguna untuk menjaga perbatasan timur yang sewaktu waktu bisa bergejolak. Raja raja Rakhine Buddha bersembunyi dalam jubah muslim melalui koin yang diterbitkan pada bantalan prasasti Muslim. Beberapa tentara muslim Bengal mendirikan kerajaan independen di Mrauk-U dan Kyauktaw. Kerajaan Rakhine memerdekakan diri pada tahun 1531 M ketika Mughal menginvasi Bengal. Kerajaan Rakhine dengan mudah mencaplok Bengal timur hingga Chittagong dari kerajaan Bengal yang sekarat. Meskipun kerajaan Rakhine bercorak Buddha namun berkedok Muslim jadi tidak mengherankan bila beberapa posisi penting dalam administrasi kerajaan tetap dipegang umat Islam.
Kerajaan Rakhine membangun angkatan laut yang kuat dan mendominasi sepanjang garis Teluk Benggala. Selama dua setengah abad berikutnya, perebutan wilayah kerapkali terjadi, akan tetapi kemakmuran akibat perdagangan di pelabuhan pesisir serta kunjungan pedagang dari bangsa Portugis dan Arab. Tentara bayaran dan bajak laut seringkali meneror Bengal dan pulang membawa tawanan sebagai budak sehingga populasi Muslim di Mrauk-U meningkat. Pada tahun 1660, Pangeran Mughal bernama Shah Shuja melarikan diri ke Mrauk-U membawa beberapa prajurit setianya. Shah Shuja tidak dapat mempertahankan hidupnya lebih lama, hubungan yang semakin memburuk mengakibatkan raja Rakhine membunuhnya. Tentara Shah Shuja yang tersisa dimasukkan dalam kesatuan elit penjaga istana sebagai kelompok khusus yakni unit pemanah yang dikenal sebagai “Kaman” (Bahasa Persia berarti “busur”). Kelompok elit ini diperkuat oleh tentara bayaran Afghanistan. Kesatuan tentara yang beranggotakan ksatria Muslim memainkan peran krusial dalam keberanjutan kerajaan Rakhine. Namun, pada tahu 1710 kesatuan elit Kaman diasingkan ke Pulau Ramree.
Muslim Kaman diakui sebagai etnis pribumi di negara bagian Kerajaan Rakhine dan mendapat posisi terhormat sebagai guru, dokter, pegawai negeri sipil dan pekerjaan professional lainnya. Anarki internal dikalangan bangsawan Rakhine menyebabkan kejatuhan ibukota Mrauk-U ditangan Burma. Raja Bodawpaya yang hebat mampu memaksa pasukan Rakhine bertekuk lutut melalui serangkai serangan mendadak. Kerajaan Burma menganeksasi Rakhine dan secara sporadis bangsawannya terpaksa dipindahkan ke Burma. Sebagian lain yakni 200.000 orang Rakhine lebih memilih melarikan diri ke Chittagong. Kerajaan Burma membentengi diri dengan tentara elit yang juga beranggotakan orang orang Muslim. Desa Myedu di kabupaten Shwebo, Burma adalah daerah dimana tumbuh pemukiman umat Islam, penduduk Muslim disana merupakan tawanan perang yang ditangkap oleh raja raja Burma dalam penggerebekan di Mrauk-U dan di tempat tempat lain pada abad ke 17 dan 18. Sensus kolonial pada tahun 1931 membuktikan 5.000 muslim di Kabupaten Thandwe mengaku keturunan para tentara elit sehingga dokumen tersebut mencantumkan nama “Myedus”.

Siapa sebenarnya Rohingya
Abad ke 21 menyaksikan tragedi manusiawi yang sumbernya berasal dari konflik etnis. Isu konflik etnis dengan gembar gembor nama “Rohingya” kerapkali muncul dari berbagai media baik nasional maupun internasional. Salah satu berita heboh nan miris berkaitan dengan dehumanisasi. Genosida berkepanjangan yang memuncak pada upaya pembersihan etnis. Meskipun Nyanmar memiliki beragam etnis namun masih jauh lebih beragam etnis di Indonesia, akan tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa konflik etnis di Nyanmar sangat rentan terjadi. Bila ditarik kebelakang, kita dapat menjumpai liku liku sejarah Nyanmar yang menciptakan kemungkinan besar konflik etnis. Namun, sebelum membahas itu semua setidaknya kita harus mengetahui Siapa Rohingya?. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengetahui tentang Rohingya tapi tidak tahu siapa mereka karena faktor berita yang menyajikannya terlalu sederhana ataupun masyarakat Indonesia sendiri yang hanya ingin mengerti bahwa Rohingnya terdiri dari orang orang muslim.
Orang orang yang menyebut diri mereka Rohingya adalah masyarakat Muslim dari wilayah pinggiran Mayu, kini Buthidaung dan Maungdaw di kota kota Arakan (Rakhine). Sebuah provinsi terpencil di bagian barat negara di perbatasan Bangladesh. Sekitar tahun 1950an awal beberapa intelektual Bengal menggunakan istilah Rohingya bagi masyarakat Muslim Rakhine di Arakan. Rohingya merupakan keturunan langsung imigran dari Chittagong District of East Bengal (Bangladesh). Perang Anglo-Burma Pertama (1824-1826) menyebabkan mereka bermigrasi ke Arakan, sebab suprioritas Inggris sebagai pemenang membuatnya menerapkan persyaratan berat melalui perjanjian yandaboo.[1] Akan tetapi asal usul istilah Rohingya masih belum jelas. Pada tahun 1950, Nyanmar memilih istilah Rohingya untuk menyebut etnis tersebut bahkan presiden pertama Burma, Sao Shwe Thaike pada tahun 1959 dengan lantang mengatakan “Muslim arakan adalah ras asli Burma, jika mereka bukan termasuk ras pribumi maka kami juga bukan ras pribumi”.
Pada tahun 1948 Burma memperoleh kemerdekaan dari Inggris Raya. Pemerintah kolonial digantikan oleh penguasa Burma bukan berarti masalah Burma telah usai. Sejak saat itu Burma harus bergulat dengan permasalahan lain yaitu masalah internal negara. Arakan memang pernah menjadi kerajaan independen sebelum ditaklukkan oleh Burma, akan tetapi sejarawan Rohingya telah menulis banyak risalah yang menegaskan bahwa mereka sudah menempati provinsi Arakan selama lebih dari seribu tahun. Meskipun agak sesuai fakta sejarah namun para akademisi tidak menerima klaim tersebut karena beberapa volume buku memuat unsur unsur cerita fiktif,mitos dan legenda. Sebagian besar pengungsi di area pinggiran Mayu, perbatasan Burma – Bangladesh dalam catatan kolonial Inggris disebut “Chittagonians”. Secara umum umat Islam di Arakan dibagi menjadi empat kelompok ang berbeda. Pertama Muslim di Chittagong Bengali di perbatasan Mayu. Kedua, Muslim di kota kota Kyauktaw. Ketiga, Muslim di Pulau Ramree dan terakhir Muslim dari daerah Myedu.
Provinsi Rakhine berada sepanjang pantai utara Nyanmar hingga perbatasan Bangladesh. Penduduk Rakhine berjumlah sekitar 3,2 juta orang beragama Buddha dan 2,1 juta orang beragama Islam. Masyarakat Rakhine aau Arakan adalah etnis minoritas di Myanmar yang hanya 6 persen dari populasi nasional. Etnis Rohingya hidup di kota kota Maungdaw dan Buthidaung, Rakhine utara. Ketika Rohingya mengukuhkan kedudukannya sebagai pribumi yang sah maka [2]nasionalis Burma dan Rakhine Buddha menuduh mereka memalsukan sejarah. Carlos Sardina Galache menjelaskan bahwa kaum nasionalis Burma dan Rakhine Buddha sering menuduh Rohingya memalsukan sejarah mereka dalam rangka untuk mengukuhkan klaim mereka melalui sejarawan etnis Rohingya yang cenderung meminimalkan atau mengabaikan sama sekali pentingnya peristiwa migrasi buruh ke Arakan dari Bengal selama masa penjajahan. Meskipun begitu, sejarahwan internasional mengakui kehadiran muslim lama di Rakhine. Masjid masjid kuno dan koin Islam penguasa Arakan memperkuat kenyataan historis itu.


Daftar Pustaka 

Aye Chan. 2005. The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma (Myanmar) : SOAS Bulletin of Burma Research, Vol.3, No. 2, Autumn, ISSN 1479-8484 
Penny Green, Thomas MacManus dan Alicia de la Cour Venning. 2015. COUNTDOWN TO ANNIHILATION: GENOCIDE IN MYANMAR. London: Internasional State.




[1] Aye Chan,The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma (Myanmar) : SOAS Bulletin of Burma Research, Vol.3, No. 2, Autumn 2005, ISSN 1479-8484, hal 396 – 397.
[2] Penny Green, Thomas MacManus dan Alicia de la Cour Venning. COUNTDOWN TO ANNIHILATION: GENOCIDE IN MYANMA, (London: Internasional State.2015), hal 27-28.
Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.