Tampilkan postingan dengan label Yahudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yahudi. Tampilkan semua postingan

Black Death dan Stereotipe Biang Keladi



Abad keempat belas merupakan periode kesengsaraan Dunia Kristen Latin. Konflik konflik agama yang bernuasa duniawi atau perlombaan perebutan kekuasaan oleh raja raja rakus di benua sempit Eropa menewaskan ribuan manusia. Selama lebih dari 250 tahun sesudah masa transisi dari Era Klasik ke Era Keagamaan Eropa menggiatkan kembali perekonomian yang telah lumpuh. Raja raja membeli benih dan membagikan kepada para petani sehingga sektor pertanian mampu menunjang kebutuhan pangan. Jalur perdagangan dihidupkan lagi setelah mati suri, kota kota dagang pun muncul dan populasi penduduk bertambah. Ketertiban dan keamanan rakyat diperkuat di seluruh wilayah. Kepausan Vatikan menunjukkan kekuatannya sebagai pemegang tertinggi urusan spiritual Dunia Kristen. Semboyan “Eclesia Semper Reformanda” dibuktikan dengan reformasi pada segala bidang baik Gereja, Pendeta, Paus dll. Meskipun begitu, guncangan bencana menuai masalah berat yang mewarnai hari hari orang orang Barat yang menguji nilai kemanusiaan manusia.
Pada kenyataannya, kemakmuran yang menghinggapi Eropa Cuma berlangsung sementara. Peningkatan produksi pertanian tidak berlanjut, keterbatasan pengetahuan para petani tentang seni pengelolah tanah dan pertanian dengan penggunaan pupuk menyebabkan kekurangan pangan dan kekurangan gizi dari tahun 1302 M sampai 1317 M. Bencana sepanjang abad keempat belas menciptakan tragedi tragedi kemanusiaan yang menarik.
Periode ini dalam perspektif kontemporer dinamakan abad kegelapan yang penuh sesak dengan manusia manusia bodoh dan lalim. Serangkaian tuduhan mengerikan dilemparkan kepada dokter dokter Yahudi yang cerdas. Para dokter Yahudi kerapkali dituduh meracuni pasiennya tanpa bukti yang jelas karena keterbatasan pengetahuan kaum barbar beriman ini terhadap ilmu pengetahuan tentang pengobatan. Politik racun meracun dalam lingkungan istana memang sangat populer di Abad Pertengahan. Kudeta raja melalui pembunuhan dengan cara meracuni sulit untuk menemukan pelakunya. Apalagi beragam keterbatasan menyebabkan bukti konkret pembunuhan menjadi samar samar padahal pelakunya mudah ditebak, pelaku pembunuhan raja yang seharusnya dapat ditinjau dari siapa yang terlalu berharap kursi istana. Namun, untuk mengalihkan fokus terhadap ancaman saling menfitnah yang berdampak eksekusi mati maka kambing hitam pun diciptakan. Kambing hitamnya tetap saja orang Yahudi yang berprofesi sebagai dokter istana. Dalam kasus Kaisar Hugh Capet, Kaisar Charles yang Botak dan Ratu Elizabeth, dokter Yahudi merupakan korban dari intrik intrik politik kerajaan yang saling menikam. Martin Luther menulis catatan bahwa Jika mereka (orang orang Yahudi) bisa membunuh kita semua, mereka akan dengan senang hati melakukannya atau seing melakukannya, terutama mereka yang mengaku sebagai dokter. Mereka tahu semua yang diketahui tentang obat di Jerman. Mereka benar benar memahami seni meramu obat.
Obat dan racun yang praktis identik dengan abad pertengahan namun dalam konteks pemikiran dangkal melalui kesimpulan sederhana yaitu cabang ilmu sihir. Kematian misterius seperti keracunan dikaitkan dengan sihir, konon bahkan memperkerjakan pasukan gaib atau sensasi alam[1]. Sebuah laporan memperlihatkan desain tersembunyi skema perbuatan jahat Yahudi yang melahirkan wabah penyakit kusta di Prancis (1321 M). Gugatan palsu tentang surat berbahasa Ibrani yang ditemukan di Parhenay menjelaskan plot besar orang Yahudi yang berkerja sama dengan Moor Spanyol (Andalusia) untuk menghancurkan populasi Kristen di seluruh Eropa dengan cara meracuni sumur. Di Teruel (Aragon) seorang Kristen tertangkap basah melempar racun ke dalam sumur lokal. Interogator menyiksanya agar mengaku siapa yang menyuruhnya, dia pun mengaku orang orang Yahudi yang menyuruhnya. Sejarawan gereja St.Denis menceritakan bahwa seorang Yahudi kaya menyewa orang kusta untuk menularkan penyakitnya lalu menjual resep obat untuk menyebuhkan racun tersebut dengan harga mahal. Resep itu berisi darah manusia, air seni, tiga jenis tanaman herbal, tubuh Yesus Kristus, tambahan dari sumber lain yaitu kepala dan kaki kodok serta rambut perempuan.
Ratusan penderita kusta diperiksa dan kesaksian melimpah mengenai keterlibatan orang orang Yahudi dalam kasus scenario jahat tersebut. Menurut kesaksian plot meracuni sumur sumur berasal dari Raja Granada[2] yang mencari bantuan dari orang orang Yahudi. Dalam kesaksian para tukang sandiwara yang menjual harga diri demi nyawa berkata bahwa kaum Yahudi itu melakukan kerjasama dengan setan (orang kusta yang diasingkan dari masyarakat dan dianggap mengkhiati iman Kristen). Orang orang Yahudi akan membagikan tanah kepada penderita kusta jika rencana ini membuahkan hasil. Naskah kuno berupa laporan ini terbukti rekayasa karena arsip dekrit yang tertulis 21 Juni 1321 berbunyi pengorganisiran penangkapan dan hukuman bagi penderita kusta yang teribat, tanpa menyebutkan Yahudi. Meskipun terbukti tidak bersalah, Parlemen Paris di pengadilan tertinggi raja menuntut denda besar bagi orang orang Yahudi Perancis. Mereka juga diusir dari Perancis sebagai konsekuensi dari dugaan keterlibatan dalam skema jahat.
Penyakit Pes atau BlackDeath menenggelamkan Eropa dalam kehancuran, kutu pada tikus hitam membawa bencana menjijikkan. Kemunculan pertama diduga berasal Mongolia (1331 – 1332 M) lalu menembus Rusia kemudian menerobos pelabuhan pelabuhan laut hitam. Melalui para pedangang yang terinfeksi wabah tersebut menjalar ke Sisilia (1347) hingga mencapai Florence (April 1348 M). Krisis pangan di Eropa belum selesai namun sudah dihantam oleh wabah mematikan. 
Perancis dan Jerman mendapat giliran di bulan agustus, sementara Inggris merasakan hal yang sama beberapa saat setelahnya. Satu setengah hingga sepertiga dari penduduk Eropa binasa. Seluruh Eropa menelan pahitnya hidup sehingga membangkitkan kembali rumor yang sempat ditutup. Rumor tentang orang orang Yahudi meracuni sumur sumur lokal berubah konteks penyakit dari kusta menjadi Pes. Perusakan rumah rumah, pembantaian ribuan orang orang Yahudi dan pengusiran paksa adalah pemandangan wajar di Perancis, Jerman dan Inggris. Cerita cerita semacam itu menjelma sebagai kesan bahwa orng Yahudi berniat merobohkan Kristen Latin hingga akar akarnya.
Johannes Aventin (1337 M) mencatat bahwa orang Yahudi telah merencanakan untuk meracuni seluruh penduduk Kristen Jerman namun rencana mereka mengalami kegagalan. Pada tahun yang sama Dewan Kedua dari St.Ruf melarang perkawinan dengan orang Yahudi dan jasa dokter Yahudi. Setahun kemudian orang Yahudi mengadakan pertemuan di Benfeld yang membahas pelaksanaan peracunan semua sumur di Jerman hingga Italia.[3]Perancis Selatan bergejolak, membakar kota orang orang Yahudi berlanjut ke selatan, Pyrenees. Gelombang penganiayaan sadis terus berlangsung, rakyat yang sudah gelap mata mengamuk membabi butaBaru dapat disadarkan berkat usaha Paus Clement yang melarang kekerasan terhadap minoritas Yahudi (4 Juli, dipertegas lagi 26 September). Namun, nasib tragis menimpa orang Yahudi diluar kekuasaan Kepausan.  Sejumlah besar orang Yahudi dipenjara tanpa melalui pengadilan maupun penyidikan lebih lanjut.
Ada keanehan lain, stigma negatif yang melekat pada minoritas Yahudi malah dibenarkan oleh pengakuan dari seorang Yahudi seperti kasus di Chillon. Seorang ahli bedah Yahudi bernama Balavignus mengungkapkan bahwa beberapa orang Yahudi di Perancis Selatan menebarkan bubuk racun di sumur dan sungai yang biasanya digunakan warga Kristen untuk memasok air bersih. Balavigus bahkan menyebut nama mereka Jacob à Paskate dari Toledo, Peyret dari Chambéry, dan Aboget. Dia menambahkan keterangan bahwa racun bukan hanya diperoleh dari katak, kadal, laba laba dan daging manusia akan tetapi memiliki sumber lain yang paling berpengaruh yakni hati dan perilaku buruk orang orang Kristen Latin.
Penuturan Balavigus menggairahkan semangat berburu Yahudi. Teror melanda beberapa kota sebagai bukti kebingungan rakyat dalam mencari jawaban yang memadai atas asal usul wabah BlackDeath. Pada bulan November wabah beserta mitos mitos yang menyertainya memasuki wilayah Jerman. Sejumlah pejabat tinggi melaksanakan rapat darurat, Dewan dan Walikota sejumlah kota menerima laporan resmi berisi dugaan pengakuan orang orang Yahudi yang telah diintrogasi dengan bermacam macam penyiksaan bengis. Isu isu dan kisah kisah dari mulut ke mulut memperkuat laporan tentang liga Yahudi dari Basel, Freiburg dan Breisach bersama sama menyewa agen yang bertugas menebar racun di sumur dan sungai. Menurut laporan, orang orang Yahudi Basel juga meracuni mentega, anggur, dan bahan bahan pangan lainnya.
Pengakuan menumpuk perihal pendistribusi racun dari Dassel ke Westphalia, Lubeck, Prusia, Livonia, Stockholm bahkan hingga ke Swedia, terjadi lantaran tekanan mental dan menghindari eksekusi melalui pengalihan perhatian dengan pengakuan yang dibuat buat . Akibatnya jarang ditemukan Yahudi di sepanjang pantai Baltik dan tidak sama sekali dikenal di Skandinavia.
Pembantaian terhadap orang Yahudi tidak terelakkan lagi. Ratusan Yahudi tewas bersama jutaan tumpukan mayat penduduk Eropa. Kondisi ekonomi dan sosial yang kacau. Harga harga pangan membumbung tinggi disebabkan kemersotan produksi yang berdampak pada kelangkaan. Serangkaian pemberontakan mengalami keberlanjutan setelah terputus oleh kemakmuran semu yang berjalan sementara. Kerusuhan kerusuhan lokal mendominasi desa desa pedalaman. Tuan tanah sebagai penguasa masyarakat feodal bertindak sewenang wenang kepada para petani. Pemberontakan para petani Flanders adalah reaksi pemberlakuan kewajiban kewajiban manorial lama yang membebankan berbagai bentuk upeti melalui sistem peraturan tradisional.
Kerusuhan Jacquerie tahun 1358 M di Perancis merupakan penjarahan tentara yang menewaskan dua puluh ribu petani. Selanjutnya giliran petani Inggris yang melakukan perlawanan pada tahun 1381 M. Namun, keseluruhan pergolakan dapat ditumpas oleh superioritas militer kerajaan. Situasi krisis diwarnai penindasan bahkan kaum bangsawan menganggap para petani hanyalah pendosa yang menyerang sistem sosial yang telah ditakdirkan Tuhan. Pergolakan pergolakan lain turut mengisi Eropa Barat yang carut marut. Orang orang yang mendapatkan keuntungan dari pemberontak justru lebih bernafsu meraup keuntungan lebih dengan memprakarsai pemberontakan para pekerja di Florence (1378 M), para penenun di Ghent (1382 M), dan kaum miskin di Paris (1282 M).
Perancis sangat rentan terjadi semacam kerusuhan. Kesengsaraan hidup di Perancis berasal dari penguasa tiran yang terdesak. Kekuasaan Inggris yang menancap di tanah Perancis menjadi duri dalam daging. Persaingan dagang antar dinasti penguasa Inggris dan Perancis memperburuk hubungan hingga menimbulkan perang yang berlangsung selama lima generasi. Flanders sekarang dikenal sebagai Belgia merupakan penghasil wol yang diperebutkan. Perancis memiliki penduduk sekitar empat atau lima kali lebih besar dari jumlah penduduk Inggris, para ksatrianya mempunyai tradisi militer terlama dan kehebatannya mampu mendominasi Eropa Abad Pertengahan. Meskipun begitu, Inggris mengimbanginya dengan kekuatan maritime yang mengendalikan terusan Inggris, panah besar (longbow) dan keahlihan para pemanah Inggris yang terlatih bahkan bisa membidik seorang ksatria dari jarak dua ratus meter melalui celah sempit baju perang serta melontarkan beberapa anak panah dalam hitungan menit.
Crossbow milik pemanah Perancis membutuhkan waktu lama untuk melontarkan anak panah serta jarak yang dijangkau lebih pendek. Dalam Perang Seratus Tahun ini, Perancis menderita banyak kekalahan meskipun membawa tentara lebih besar hingga seorang gadis penunggu penginapan membangkitkan semnagat perajurit Perancis yang menyedihkan. John of Arc dituduh penyihir dan mati dibakar oleh kelompok Burgundi. Namun, berkat John of Arc yang memberanikan diri memimpin perang dan menyumbangkan kemenangan sehingga tanah tanah Perancis dapat direbut kembali dari tangan Inggris. Perang Seratus Tahun yang mengguncang Eropa Barat membinasakan dan menyengsarakan ribuan manusia masih mewariskan rentetan episode episode perang selanjutnya. Perang Bunga Mawar (1455 – 1485 M) di Inggris adalah reaksi rakyat atas kekalahan Inggris dalam perang Seratus Tahun dan anarki politik pada tubuh bangsawan kerajaaan sedangkan Perang Swiss –Burgundi (1474 -1477 M) berlangsung di dataran Eropa dimana Kerajaan Burgundi harus melawan aliansi Swiss-Perancis-Hasburg dalam upaya mewujudkan kebijakan ekspansinya. Burgundi adalah faksi Perancis yang membela Inggris setelah Perang Seratus Tahun berakhir, para petingi Burgundi memerdekakan diri.




[1] Sensasi alam adalah pemahaman mengenai berbagai masalah manusia yang dipengaruhi oleh kehendak alam dimana Tuhan turut campur sepenuhnya.
[2] Pada tahun 1321 M, Granada merupakan salah satu keemiran Islam di Spanyol, Andalusia. Provinsi terakhir yang bertahan dari proses Reconquista dari Proyek Agung Fredinand (Aragon) dan Isabella (Naverre) yang disponsori gereja.
[3] Sumber sumber keterangan tersebut diperoleh dari abad yang berbeda yakni Abad ke enam belas dimana kebencian terhadap Yahudi berada pada puncaknya. Kronik kronik berupa laporan diragukan kebenarannya dari sudut pandang kritik intern maupun ekstern. Cerita cerita tentang BlackDeath masih tergolong misteri, namun tuduhan terhadap orang Yahudi nampak serius untuk disampaikan, terbukti dari kumpulan arsip berupa dokumentasi laporan pertanggungjawaban Yahudi atas wabah yang merenggut jutaan jiwa.

Wajah Yahudi Ketika Abad Pertengahan

         
      

           Sebuah Kekaisaran luar biasa tangguh dibangun diatas keringat dan darah. Kekaisaran perkasa yang menguasai Eropa Barat, Afrika Utara dan Timur Tengah. Ekspansioner dengan legiun legion yang pemberani mengantarkan kekaisaran Romawi menjadi penguasa laut tenang Mediteranian. Harta kekayaan yang melimpah ruah disertai wilayah kekuasaan yang terbentang luas. Semua itu akhirnya hanya akan menghancurkan kerajaan hebat ini bagai pisau yang menusuk tuannya sendiri. Ekspansi gila gilaan, demi tanah jajahan baru menjadi sebab utama Kaisar Deocletian membagi kekaisaran. Kekaisaran Romawi Barat dan Timur yang mengawali perang sipil berdarah. Kemenangan Constantine dalam perebutan kekuasaan, dia memilih Romawi Timur dan Byzantium sebagai tempat singgasananya.
Perluasan Romawi menanamkan benih kebencian, terutama suku suku lokal yang menganggap Romawi sebagai bangsa pemangsa tanah warisan nenek moyangnya. Dorongan nafsu duniawi, iming iming harta kekayaan Romawi yang menggiurkan menyebabkan munculnya era kebrutalan. Penyerbuan sekaligus penjarahan besar besaran oleh suku suku Barbar. Alarm darurat selalu berbunyi di area perbatasan. Penjagaan perbatasan semakin gawat. Bangsa Barbar yang tidak beradab mulai meluncurkan beragam serangan mematikan. Semua berawal dari petualangan bangsa Hun[1]yang menyapu bersih dataran Rusia. Pembantaian sadis yang heboh kala itu. Lalu suku suku Hun membuat galau bangsa Visigoth. Memaksa mereka bermigrasi ke Eropa Tenggara. Kecemasan global melanda Eropa layaknya epidemik[2] yang ganas.
Suku suku jermanik terusik. Bangsa Goth ini mencari perlindungan ke Kekaisaran Romawi. Ribuan manusia yang panik ini menyebarangi perbatasan perbatasan sungai Danube. Kaisar Valens mengizinkan mereka dengan alasan politik, tumbal sekaligus sekutu. Namun perlakuan para pejabat Romawi membuat Visigoth angkat senjata. Mereka sudah geram dengan penganiayaan yang diterimanya. Suku Goth ini menjadi anarki, dari mencari perlindungan berubah haluan dengan menusuk pelindungnya.
Pertempuran Andrianopel terjadi pada 378 M, kekalahan memalukan Romawi. Menunjukkan kesan lemah bagi kekaisaran yang berjaya berabad abad. Kebrutalan Visigoth dimulai, meraka menjarah Balkan dengan sesuka hati. Alian suku suku Jermanik pun terbentuk, kumpulan suku suku sakit hati ini bertujuan mengeroyok provinsi provinsi barat kekaisaran. Suku Vandals[3], Alans, Swedi, Lombardi, Ostrogoth dan bangsa bangsa jermanik lain merampok Roma dengan penuh kegirangan. Koalisi ini ditambah pasukan Romawi yang tersisa juga berhasil memusnahkan penyerbu asing, bangsa Hun yang memasuki Gaul[4] dan menewaskan Attila, si biang keladi.
            Ibukota Romawi Barat, Roma kembali menelan kesialan. Nasib malang  karena gelombang kedua perampasan dilakukan suku Vandal di tahun 455 M. Ini adalah penjarahan terparah karena Romawi sudah tidak berharga lagi. Kekaisaran tanpa kekuatan, provinsi provinsinya dibagi bagi oleh kepala kepala suku jermanik. Para serdadu jermanik yang menjadi tentara bayaran kaisar berlagak sewenang wenang, mendikte dan mengendalikan pemilihan kaisar baru. Pada tahun 476 M, para pejabat Jerman menumbangkan kaisar Romulus serta menempatkan Odoacer[5] untuk menduduki tahta. Kondisi yang mengakhiri imperium Romawi Barat untuk selamanya dan Eropa pun menuju Abad Pertengahan yang suram.
            Suku suku pemenang itu mendirikan kerajaan kerajaan di Afrika Utara, Italian,Spanyol, Gaul, Britania dan wilayah wilayah lain yang dulu dibawah kendali Romawi. Namun, kerajaan kerajaan Jermanik sering terjadi pemberontakan, kudeta berdarah, serta dikoyak koyak peperangan. Peradaban Eropa dalam keterpurukan, kemerosotan ekonomi yang tajam dan sekarat bersama. Meskipun begitu, cahaya samar samar datang dari ujung provinsi Gaul.
            Daratan lembah sungai Rhine, lahir ksatia ksatria kekar yang hebat. Berdiaspora ke provinsi provinsi Romawi Barat selama abad keempat dan kelima. Clovis, sang penguasa muda menyatukan suku suku ini yang tersebar berantakan dengan menaklukkan sebagian besar Gaul. Moment besar yang mewarnai sejarah pun bermula ketika Paus Vatikan berhasil membujuk rayu pemuda berkharisma ini. Clovis memeluk erat agama Kristen Katolik, peralihan dari kepercayaan pagan yang sesat terjadi tahun 496 M. Bangsa Frank yang baru bangkit menjadi sekutu potensial Gereja.
            Para penerus Clovis terlalu bodoh, kendali kerajaan dipegang oleh patih istana. Charles Martel dengan garang menghantam serangan penuh ambisi dari Muslim Andalusia. Medan tempur Tours 723 M seakan saksi buta pertempuran berdarah melindungi Eropa dari pengaruh Islam. Raja sebelumnya lengser, digantikan Pepin si pendek yang dinobatkan uskup terkemuka Boniface, lalu berlanjut Paus Stephen II kembali menobatkannya demi mengukuhkan kerjasama. Kebutuhan mendesak, kekhawatiran akan invasi bangsa Lombard. Pepin memberantas bangsa Lombard dan menyumbangkan tanah tanah rampasan kepada Paus. Wilayah Roma dan Revenna yang nantinya masyur disebut Negara Paus.
            Episode bangsa Frank paling gemilang diraih oleh Charles Agung atau Charlemegne. Seorang pembela iman Kristen yang teguh. Memperluas kekuasaan dinasti Carolingian dengan berbagai pertempuran yang mempesona. Kebijakan perang diumbar kearah penjuru manapun. Dia memerangi bangsa Lombard, Bavaria, Saxon. Menghancur leburkan kerajaan lokal tersebut dan merebut daerah kekuasaannya. Charlemegne memaksa suku suku Jermanik itu berpindah kepercayaan. Pembantaian sering dipicu oleh bangsa Saxon yang sebagian besar menolak mentah mentah.
            Charlemegne mengalihkan pandangannya ke perbatasan selatan. Musuh bebuyutannya, dinasti Muslim Spanyol digempur habis habisan. Namun, keganasan pasukan Frank belum mampu menembus tembok pertahanan Arab –Berber[6]. Gagal mengusir umat Islam dari benua Eropa, Charlemegne malah bercita cita menghidupkan kembali kekaisaran Romawi suci. Pada tahun 800 M, dihari Natal Charlemegne dimahkotai oleh Paus Leo sebagai kaisar Romawi.  Charlemegne berperan besar dalam mengkristenkan Eropa. Kerajaan Jermanik yang berhasil, bangsa Frank, terkenal dengan sebutan pendiri Eropa Baru. Pondasi Abad Pertengahan dibentuk olehnya dan Eropa pun terbenam dalam lumpur kelam. Abad dimana merebak dan merajalelanya kebodohan dan peperangan mengatasnamakan agama.
Eropa berjuang keras mengatasi kekacauan akibat tercerai berainya politik pasca keruntuhan dominasi Romawi Barat. Kemerosotan peradaban Greco Romawi mengawali era peradaban baru dengan gaya yang khas. Mengakarnya percampuran peradaban Greko –Romawi, sudut pandang Kristen dan tradisi tradisi Jermanik. Abad pertengahan yang disebut sebut abad keemasan Kristen sekaligus kematian sains. Abad kegelapan yang dikontrol penuh oleh Gereja, oknum oknum pendeta dan Paus sebagai pemimpin tertinggi. Eropa memasuki fase sulit yang tak terlupakan dalam sejarah. Fase dimana wahyu mengalahkan akal rasional dan perintah agama adalah mutlak.
Dunia Kristen Latin selalu bergelora. Api permusuhan selalu didengungkan dimana dimana. Memberantas musuh geraja adalah semboyan tidak resmi. Kebencian terhadap umat Muslim, Yahudi dan kaum bid’ah yang menyimpang. Rasisme yang sedang hangat hangatnya. Kesadaran akan kelompok Yahudi yang bukan bagian darinya. Kelompok asing, kaum semit yang terkutuk. Mereka tersudutkan, usaha meleyapkan minoritas Yahudi adalah agenda utama Gereja. Gerombolan prajurit Salib yang gila harta dan berlindung pada jubah agama membantai orang Yahudi di kota kota Perancis dan Jerman pada tahun 1096 M.
Kumpulan penjelasan dan penafsiran para rabbi mengenai Alkitab dan sejarah Yahudi sering dibumi hanguskan. Talmud kerap kali diincar, Paus Gregorius IX membentuk tim sensor salinan Talmud pada tahun 1239 M. Pada tahun 1290 M sampai 1293 M upaya pembantaian, pengusiran dan peralihan paksa ke agama Kristen membatasi kemerdekaan orang orang Yahudi. Kebrutalan penganut Kristen berujung ke penghancuran memori kebudayaan kaum Yahudi.
Kota Paris tahun 1244 M, para pendeta membakar ratusan salinan Talmud. Kegilaan belum cukup sampai disitu. Pada tahun 1247 dan 1248 M, Raja Perancis, Louis IX menimbun salinan Talmud untuk dimusnahkan. Demikian pula, penerusnya Philip III (1284 M) dan Philip IV (1290-1299 M). Di Inggris, orang orang Yahudi diusir dari tempat tinggal mereka pada tahun 1290 M. Perancis menyusul, tepatnya tahun 1306 M dan Italia Selatan turut mengikuti. Pada tahun 1319 M di Perpignan dan Toulouse, gereja membakar sejumlah salinan Talmud yang berharga.
Giliran Jerman, penyiksaan secara periodik. Pembunuhan dan penganiayaan tiada akhir. Dimana mana hanya ada kerusuhan yang ganas dengan korban etnis Yahudi yang bergelimpangan di jalanan. Anti semit adalah tragedi kemanusian yang biasa terjadi di Abad Pertengahan. Perasaan yang sengaja ditanamkan oleh para pendeta. Penolakan agama Kristen oleh Yahudi menurut pemuka religius adalah tindakan kejahatan. Gereja mengajarkan bahwa kedatangan Kristus telah dinubuatkan oleh Perjanjian Lama. Prasangka terkait pelukisan penyaliban Yesus di dalam Injil. Pikiran orang Kristen Abad Pertengahan didominasi kebencian bahwa kejahatan membunuh Tuhan sama halnya menodai orang Yahudi sepanjang masa.
Orang orang Yahudi menjadi komunitas terbuang. Pernyataan tanpa bukti yang tak masuk akal bahwa Yahudi adalah komplotan orang orang haus darah setelah menumpahkan darah Kristus, menyiksa dan membunuh orang Kristen, khususnya anak anak untuk diambil darahnya demi keperluan ritual. Tuduhan yang kejam, fitnah keji yang memakan banyak korban. Orang Kristen Abad Pertengahan sangat percaya akan hal itu, meskipun Paus mengutuk tuduhan itu sebagai hal yang tidak berdasar.
Rasa dendam kesumat juga bersumber dari peran orang Yahudi sebagai renternir yang seringkali menyiksa kaum petani yang berhutang. Bunga yang diterapkan melebihi batas normal, 60%, 70% bahkan 80 hingga 90 % dari hutangnya. Semua itu juga karena pengaruh semakin tersisihnya orang Yahudi dari perdagangan internasional mampun larangan memasuki gilda[7]. Orang Yahudi terkucilkan dalam hal pencarian profesi kerja. Satu satunya mata pencarian terbuka mereka hanya meminjamkan uang. Meskipun adat istiadat setempat melarang kegiatan itu. Itulah sebab kebencian, petani, pendeta, tuan tanah maupun raja.
Gereja mengeluarkan kebijakan diskriminatif bagi minoritas Yahudi yang tetap bertahan. Orang Yahudi setelah tragedi tragedi massal tidak boleh di celakakan, tetapi mereka harus hidup di dalam penghinaan. Konsili Lateran keempat melarang orang Yahudi memegang jabatan publik. Mengharuskan mereka memakai lencana pembeda di pakaiannya dan menjauhkan mereka dari jalan jalan kota selama perayaan perayaan Kristen. Kesusastraan, seni, dan pengajaran religius Kristen melukiskan orang Yahudi dengan cara yang menghina. Sifat najis dan menjijikkan sudah tertanam jauh kedalam hati dan pikiran orang Kristen. Orang Yahudi di ibaratkan makhluk yang hina, citra buruk Yahudi masih melayang layang dalam sanubari mentalitas Eropa hingga abad kedua puluh.
            Puncak kekisruhan penganut Kristen dalam menyiksa komunitas Yahudi terjadi pada periode pasca Perang Salib. Pembentukan kesatuan tentara Salib. Ksatria yang menjunjung tinggi otoritas Gereja. Perekrutan bertujuan awal menghadapi ancaman Islam dari Timur, lalu untuk membasmi para pengikut ajaran sesat. Ajaran yang dianggap bid’ah oleh Gereja Vatikan tumbuh dan menyebar pada paruh abad kesebelas dan kedua belas dan terus berlanjut selama beberapa ratus tahun berikutnya.
            Perang Salib dan inkuisi merupakan intrumen yang paling kuat dalam kesatuan Kristen. Stress sosial ditandai oleh fanatisme Kristen dalam pandangan antagonisme. Masalah pemahaman sikap abad pertengahan yang rumit. Hubungan yang menyakitkan antara Kristen – Yahudi yang berasal dari Injil sendiri. Permusuhan akibat ulah dogmatis Gereja lebih kearah ketidaksesuaian agama dan budaya Yahudi. Peradaban totalitarian dibangun atas rasa iri dengki. Orang orang Yahudi terkenal ulet, tekun, cerdas dan licik. Pihak Kristen jelas kalah persaingan ekonomi. Superioritas dan kesombongan orang Yahudi amat mengganggu. Titik titik strategis ekonomi yang selalu dimenangkan orang Yahudi. Ketimpangan sosial yang melanda, terutama sifat pelit dan anti persaudaraan ditunjukkan orang Yahudi karena jarak renggang yang sengaja dibuatnya.
            Ketidaktahuan universal dan kesalahpahaman tentang Yudaime, serta rasa frustasi dan putus asa merangsang semua alasan menyedihkan dari pengalaman bergabung dengan dunia Kristen. Perjuangan keras demi pengakuan hak politik dan resolusi keseimbangan sosial baru yang lebih adil. Antipati sosial, pencemaran nama baik dan pengerusakan psikologis malah menumbuhkan semangat kebangsaan, sebagai bangsa Yahudi.
            Yahudi adalah representasi sindiran buruk abad pertengahan. Menumpuk julukan keji, tuduhan aneh dan kutukan seram. Figur Yahudi merupakan lambang segala kejahatan. Patut di cemooh, sebab mereka aib dari dunia Kristen abad pertengahan. Dalam sumber sumber kronik abad pertengahan, stigma terhadap Yahudi sering diperhitungkan. Mengingat perlunya pengetahuan terkait intensitas reaksi emosional orang Kristen terhadap Yahudi pada abad pertengahan. Fakta, cibiran dan celaan apapun terhadap Yahudi merupakan kepatutan mutlak. Gairah abad pertengahan yang penuh sensasi fantastis yang liar. Tidak mengherankan bahwa kata “Yahudi” telah menjadi istilah pelecehan. 
            Literatur abad pertengahan selalu begitu. Seluruhnya didominasi oleh satu titik pandang Kristen, misteri, keajaiban, moralitas, legenda, puisi, kronik, cerita rakyat dan lagu daerah, semua berhiaskan orang Yahudi sebagai sumber kejahatan. Tidak ada ketentuan dosa untuk hal ini, karena semua mengamini dan sudah jadi kebiasaan umum. Yahudi, contoh terbaik kebusukan dan musuh bebuyutan umat manusia. Literatur sekuler bahkan hingga hari ini juga masih muncul hal itu meskipun motivasinya bukan lagi agama. Drama drama sekuler bertema masalah sosial, namun disajikan angker, orang Yahudi berperan dengan karakter setan, melekat pula personifikasi kejahatan dan musuh masyarakat.





[1] Bangsa Hun adalah bangsa pengembara dari Asia Tengah. Suku suku nomaden pimpinan Attila.
[2] Epidemik merupakan penyakit, salah satu epidemik yang terkenal mematikan di Eropa adalah Black Death.
[3] Suku Vandal terkenal sebagai simbol kehancuran, vandalisme atau istilah ciptaan orang Roma terkait tragedi manusia paling bersejarah.
[4] Gaul merupakan nama salah satu Provinsi Romawi, Kini Prancis.
[5] Odoacer adalah seorang jendral berkharisma berkebangsaan Jerman.
[6] Berber bukan Barbar, Berber adalah suku suku yang direkrut muslim arab untuk ekspansi ke kerajaan Visigoth di Spayol. Mereka menempati Maroko.
[7] Gilda seperti perserikatan dagang, kongsi dagang yang sebagain besar berpusat di pelabuhan pelabuhan Eropa dilepas pantai laut mediterania. Sebab tumbuhnya kota dagang makmur seperti Genoa, Venesia, dll.


Riwayat Hidup Ratu Zionis

Describes the Jews in Turkey in his travel diary:
            In Turkey you will find in every town innumerable Jews of all countries and language. Wherever Jews have been expelled in any land they all come together in Turkey, as thick as vermin; speak German, Italian, Spanish, Portuguese, French, Czechish, Polish, Greek, Turkish, Syiriac, Chaldean and other language besides these. As is their custom, every one wears clothes in accordance with the language he speaks.
                     In Constantinople, the Jews are thick as ants. The Jews themselves say that they are very numerous. They live in the lower part of the city near the sea. Those Jews that are old, who have a little money, travel to the Holy Land, to Jerusalem, and still hope that they will one day all come together, from all countries, into their ownnative land and there secure hold of the government. The well-to-do Jews send money to Jerusalem to support them, for one cannot make any money there...
                      Many Marranos - that is Jews who turned Christian, as in Spain or voluntarily became Christians in other places - all come to Turkey and become Jews again. The Jews of Constantinople also have a printing press and print many rare books. They have goldsmiths, lapidaries, painters, tailors, butchers, druggists, physicians, surgeons, cloth-weavers, wound-surgeons, barbers, mirror-makers, dyers, silk-workers, gold-washers, refiners of ores, assayers, engravers…  The Jews do not allow any of their own to go about begging. They have collectors who go from house to house and collect into a common chest for the poor. This is used to support the poor and the hospital.
~ Hans Dernschwam, agen perjalanan dari rumah perbankan Fugger ~
~ 1510 – 1555 M ~



Gambar 5.1 Dona Gracia Nasi dan Don Joseph Nasi from Arthur Szyk’s Ilustration in the Last Day of Shylock by Ludwig Lewisohn.
Organisasi Zionis Internasional bernama lengkap Women’s Internasional Zionist Organisation Departemen of Edication menerbitkan dokumen tentang laporan perjalanan Doña Gracia Nasi. Sosok Doña Gracia Nasi yang melegenda masuk mata pelajaran sejarah di Israel. Seorang wanita Portugal yang berasal dari keluarga kaya raya. Selama abad keenam belas dia melakukan serangkaian perjalanan yang turut menyumbang informasi berharga mengenai orang orang Yahudi di Kekaisaran Ottoman. Saksi mata ini menjelaskan bahwa imigran imigran Yahudi dari berbagai daerah di Eropa memperoleh perlindungan dari beragam penganiayaan.
Para pendatang Yahudi serasa menghirup angin segar dibawah otoritas Sultan Turki. Sepanjang abad kelima belas dan enam belas beberapa orang Yahudi bahkan menempati posisi penting di birokrasi kerajaan Utsmani atau menjadi saudagar kaya raya dengan menguasai lokasi lokasi perdagangan yang strategis. Doña Gracia Mendes dan keponakannya João Miques, lebih populer dengan nama Don Joseph Nasi merupakan pengusaha perbankan dan pemilik rumah rumah penyewaan yang berskala internasional. Pada kuartal ketiga abad keenam belas adalah kejayaan bagi dua marranos Portugis ini, kekuatan uang mereka bisa mempengaruhi beberapa urusan penting kekaisaran.
Keluarga konglomerat tersebut menjadi pahlawan bagi komunitas Yahudi yang tertindas. Persahabatan dengan Sultan Turki memungkinkan negeri Islam bersedia menampung pengungsi Yahudi dari Eropa. Sepenggal biografi singkat dari Doña Gracia Nasi dan berbagai pengalamannya mengunjungi negeri Ottoman akan memberikan gambaran perlakuan Kesultanan Utsmaniyah terhadap minoritas Yahudi.
            Semua bermula dari sejarah Spanyol, peperangan rentan melanda Spanyol dan selalu mengatasnamakan agama. Peperangan demi peperangan terus menerus berlangsung di wilayah perbatasan Dunia Islam Timur dan Dunia Kristen Barat. Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella berusaha mengusir kaum Moor yang tersisa. Kerajaan vassal, Granada bertempur mati matian dari tahun 1482 – 1492 M. Pasukan Moor mengalahkan serbuan Ferdinand V di Loja. Namun, pasukan Spanyol berhasil mematahkan logistik tentara Moor dari Afrika Utara sehingga kota kota silih berganti dapat ditaklukkan. Ronda jatuh pada tahun 1485 M, Loja di tahun 1486 M dan Malaga di tahun berikutnya. Puncak agresi Spanyol adalah pengepungan Granada (1491 M). Benteng terakhir umat Islam di semenanjung Iberia menyerah pada tanggal 6 Januari 1492, mengakhiri 500 tahun proses merebut kembali Spanyol.
            Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella tidak menolerir agama manapun selain Kristen Katolik sangat berbeda dengan penguasa sebelumnya. Kebijakan ini dapat terealisasi karena Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella mendapat sponsor langsung dari Gereja Katolik Roma. Pengusiran berlaku bagi siapapun yang tidak mau memeluk agama Kristen Katolik. Dekrit pengusiran ditandatangani pada 31 Maret 1492 oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Pada periode penuh kekacauan dan pergulatan agama inilah seorang Dona Gracia Nasi lahir.
          Gadis Yahudi yang dianugerahi nama Gracia oleh pembaptisnya, Beatrice de Luna. Nama sesungguhnya adalah Hanna (Ibrani). Gracia lahir tahun 1510 di Lisbon, Portugal. Dia merupakan anak dari keluarga bangsawan Yahudi Marrano.[1] Keluarga Nasi yang kaya raya berasal dari Spanyol. Saudara laki lakinya, Samuel Nasi, mengganti namanya menjadi Agostinho Miguez demi melanjutkan karirnya sebagai dokter Kerajaan dan dosen kedokteran di University of Lisbon. Secara sembunyi sembunyi, Garcia mempraktekkan iman Yudaisme bersama adiknya Reyna (Ibrani; Malka) yang dibaptis oleh Brianda de Luna. Selama status Marrano melekat, Garcia mempertahankan kepribadian ganda dimana akan menunjukkan kesalehan Kristen Katolik di ruang publik dan mengimani Yudaisme diam diam. Pada tahun 1525, Gracia memutuskan untuk mengasuh dua keponakannya yaitu (Joseph; Ibrani) Joao dan (Samuel Miguez Nasi; Ibrani) Agostiho karena kakaknya menemui ajal.
Gracia memahami posisinya setelah menyaksikan peristiwa pembunuhan yang melecehkan terhadap dua mesias yang muncul mendadak di tengah masyarakat Marrano. David ha-Reuveni memimpikan kejayaan Kerajaan Yahudi dengan berlagak seperti sedang berada di Istana Suleiman. Mesias lain adalah Diego Pires yang sangat antusias dalam mengajak komunitas Marrano mengamalkan kembali ajaran Yudaisme. Diego Pires merubah nama latinnya menjadi Shomo Molcho (Ibrani). Kesan mendalam terhadap kegagalan memperjuangkan kebebasan beragama menyebabkan Garcia menyimpulkan bahwa solusi yang mampu menyelamatkannya hanyalah kekuatan ekonomi.
            Dalam upaya memperkuat kedudukan ekonomi dan politik, Gracia menjalin hubungan dengan anggota keluarga bangsawan Spanyol. Ketika menikahi Francisco Mendes, Gracia masih berumur delapan belas tahun. Gracia yang masih berusia remaja memperoleh akses perdagangan rempah rempah, importir batu mulia dan monopoli komoditas komoditas berharga lainnya. Tradisi Yahudi di Eropa dalam menjaga warisan kekayaannya memang melalui ikatan perkawinan. Keluarga Nasi yang terhormat dan kaya raya dari Portugal cocok sebagai mitra bagi keluarga Benveniste dari Spanyol. Keduanya merupakan keluarga terkemuka di tengah komunitas Marrano.
            Keperluan bisnis memaksa Francisco Mendes pergi ke Antwerp dan tentunya mengajak Gracia selaku istrinya. Perusahaan perbankkan keluarga Mendes membuka cabang baru di Antwerp. Posisi Francisco Mendes yang baik di Antwerp memberikan jalan keluar bagi komunitas Marrano. Kekuatan uang mampu Francisco membantu sesama Marrano untuk melarikan diri dari Portugal menuju Antwerp. Kaum Marrano yang terkekang oleh Inkuisi mencoba kabur, namun gerbang kebebasan yang ditawarkan oleh Francisco Mendes mengalami penyusutan daya tampung dan sepenuhnya ditutup pada tahun 1536 M.
            Francisco Mendes menderita sakit parah dan meninggal tidak lama setelah itu. Kekasih mudanya dan putrinya harus menghadapi situasi bahaya akibat ulah ayahnya yang belum tuntas menyelesaikan masalah imigran Marrano. Sang suami pun dimakamkan di pemakaman Kristen, lalu Gracia bergegas meninggalkan Lisbon. Janda muda tersebut membawa serta keluarga dekatnya. Garcia menumpangi kapal pribadi dan menyimpan harta benda di kapal kargo yang membuntutinya.
            Perusahaan Mendes yang disegani atas kekuatan ekonominya memberikan kesempatan untuk memainkan pencaturan politik. Raja bisnis, Diogo Mendes merupakan kakak ipar Garcia yang sukses bahkan mempunyai relasi hingga lingkungan istana kaisar kaisar Eropa. Sosok Diego Mendes adalah seorang donatur penyelamat emigran Spanyol dan Portugis. Dia menyediakan ruang bagi para penulis, seniman, Rabbi dan dokter Marrano menempati House of Mendez. Oleh, karena itu, Gracia bermigrasi ke Antwerp. Namun, nasib sial menjemput Gracia ditengah perjalanan. Sanak keluarganya, Antonio de la Ronha dan Christopher Fernandez merampas barang bawaannya dan menyisakan sedikit dana untuk perjalanan ke Antwerp.
            Aset Garcia di Portugal memang menyelamatkannya sehingga bisa mencapai Antwerp dengan aman.            Namun, kesengsaraan kembali menjemput Garcia, kakak iparnya menerima tuduhan yang kemungkinan besar berasal dari musuh bisnisnya yang cemburu. Dia ditangkap atas pengakuan saksi palsu yang sudah di suap, meskipun akhirnya dibebaskan karena para hakim khawatir penangkapannya bisa menghambat perekonomian. Akan tetapi, agen agen setianya yang mengurusi emigran Marrano harus ikut dijatuhi hukuman tahanan sehingga terpaksa menelantarkan pengungsi Marrano. Diego Mendes menikahi Reyna, adik Gracia dan melahirkan Gracia la Chica. Cara tidak wajar menjaga kekayaan, Namun, memberikan kemudahan bagi Gracia meminjam uang Diego Mendes. Modal dari kakak ipar sekaligus adik iparnya digunakan untuk meraup keuntungan dari bisnis bankir dan menjalin hubungan dengan para bangsawan Eropa. Akan tetapi, Diego Mendes tidak sepenuhnya mempercayakan aset kekayaannya kepada Gracia. Sepeninggalan Diego Mendez (1542), Gracia memegang kendali penuh atas seluruh aset dan kekayaan keluarga Mendes. Tanggung jawab pertamanya adalah mempertahankan upaya radikal Kaisar Charles V untuk menyita seluruh hartanya.
            Masalah Kaisar Charles tuntas dengan pemberian pinjaman untuk menutupi peperangan dengan Turki. Muncul masalah baru yang lebih berbahaya pada tahun 1544. Gracia la Chica tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik mempesona. Dia mampu memikat hati banyak pria. Para pelamar tentu mempertimbangkan keuntungan kencantikan dan kekayaannya. Tradisi ketat penjagaan aset kekayaan keluarga menghalangi Gracia la Chica untuk menikahi pria manapun kecuali dari keluarga Marrano yang kaya raya. Bangsawan Don Francisco d'Aragon berambisi menikahi pewaris keluarga Mendes tersebut. Dia melakukan cara apapun untuk mendapatkan restu dari Reyna selaku ibunya dan Gracia Nasi sebagai penanggung jawab tertinggi aset kekayaan Mendez.
              Don Francisco d'Aragon menawarkan kepada Kaisar dan Ratu - Bupati Antewerp ( Belgia) pembagian harta kekayaan keluarga Mendes jika keduanya bersedia memaksa Reyna dan Gracia Nasi. Akan tetapi, Gracia lebih memilih melarikan diri ke Venice. Untuk sementara, Joao Miguez mengambil alih bisnis Mendes di Antwerp. Joao menawarkan pinjaman hutang kepada Kaisar dan meramaikan perdagangan di kota kota kekaisaran seperti Lyons sehingga Kaisar mampu membayar hutang membludak akibat bunga yang tinggi. Joao yang cerdik berhasil mengelabuhi Kaisar serta adiknya Ratu-Bupati Antwerp tanpa adanya penyitaan sepihak, lalu dia bergabung dengan keluarganya di Venesia.
            Keluarga Mendez bertemu banyak keluarga Yahudi Marrano dari Spanyol, dan yang paling terkemuka adalah keluarga Abrabanel. Keluarga Mendes menempati lokasi paling elegan di Venesia. De Luna bersaudara adalah julukan bagi Gracia dan Reyna disana. Keluarga Mendes menikmati kebersamaan dengan mantan seagama dan saudara senasib sebagai Marrano. Romansa keakraban dan kebebasan mempelajari Yudaisme cuma sementara saja.
Keluarga Yahudi Marrano di Venesia merupakan pelopor Renaissance. Semangat kebudayaan pagan Yunani dan Romawi kuno menggerakkan seni, sastra, pemikiran ilmiah, pengetahuan medis dan gaya hidup serba mewah. Namun, ketika Keluarga Mendez bermigrasi ke Venesia, Italia sedang terjadi kemelut politik yang menandai periode Reformasi dan Kontra-Reformasi. Gerakan Reformasi ini sebagai reaksi dari Abad Pertengahan yang didominasi oleh Gereja. Jika Renaisans berupaya menggantika wahyu dengan akal, kebudayaan Kristen dengan paganisme, Teosentris dengan Antroposentris, teologi dengan ilmu, maka Reformasi lebih mengarah kepada kemauan mengganti teologi lama dengan teologi baru. Gereja Katolik mencurigai kaum Marrano dan Yahudi sebagai biang keladi yang meracuni tokoh tokoh reformasi seperti Matthias Vlacich Ilyricus (1520-1575), Sleidanus (1506-1556), Heinrich Bullinger (1504-1575), melalui pengenalan ide ide baru.
Gracia mencium kebusukan pihak Gereja Katolik. Ketentraman dan kenyamanan yang diimpikan seketika sirna. Akan tetapi, Joao Miguez memiliki jaringan pertemanan internasional dengan elite elite dari kekaisaran manapun. Dia menerima undangan dari seorang dokter istana bernama Musa Hamon. Musa Hamon memberikan kabar gembira karena Sultan Suleyman the Magnificient bersedia menampung komunitas Marrano dan Yahudi yang kesulitan. Persiapan keberangkatan ke Istanbul menemui kendala yang tidak terduga. Reyna yang sudah terpengaruh gaya hidup mewah ala Venesia meminta seluruh warisan Keluarga Mendes dari tangan Gracia untuk sekedar berfoya foya. Kesabaran Gracia di uji oleh pengkhiatan adiknya sendiri yang menyuap agen Mendes di Lyons dalam usaha mengklaim aset perbankkan Lyons dengan bantuan Perancis. Pihak Perancis memenjarakan Gracia, sementara anak Gracia dan anak Reyna dititipkan di biara.
Joao Miguez memanfaatkan kedigdayaan Kesultanan Utsmaniyah. Pengaruh kekayaan keluarga Mendes mampu membuat Sultan Suleyman mengambil tindakan. Sultan Suleyman bahkan mengirim ultimatum kepada pemerintah Venesia untuk membebaskan Gracia beserta aset kekayaannya yang sudah diakui sebagai kewarganegaraan Ottoman. Akibatnya krisis diplomatik berskala internasional. Arsip surat Duta Besar Prancis untuk Venice atas nama de Morvilliers Aube dan tertanggal Juli 1549 melaporkan secara rinci perkembangan masalah ini. Untuk menghindari perselisihan langsung dengan Turki, Gracia dan asetnya di Perancis dibebaskan, namun seluruh komunitas Marrano diusir dari Venesia.
Joao Miguez mengirim komunitas Marrano yang terusir ke Balkan atau Konstantinopel. Sementara itu, Dona Gracia Nasi dan Reyna meninggalkan Ferrara pada musim dingin 1553 M. Rombongan Gracia didampingi empat penunjuk jalan professional beserta pelayan pelayan wanita. Perjalanan ke Konstantinopel dilindungi empat puluh tentara bayaran untuk melindungi dari bandit bandit pedesaan. Rute darat berhenti di Ancona, lalu berlayar menyebrang ke sebuah kota republik di pantai Dalmatian, Ragusa. Kedatangan Dona Gracia Nasi disambut dengan perayaan umum oleh komunitas Yahudi dan Marrano di Konstantinopel. Dona Gracia Nasi dijuluki Great Lady atau Senora karena kemurahan hatinya terhadap rekan rekan seagamanya.







Gambar 5.2 Rute Perjalanan Dona Gracia Nasi.

            Menelusuri lebih lanjut hubungan Keluarga Mendes dengan Keluarga Kesultanan Utsmaniyah bisa dipantau dari memoir terkait pernikahan Reyna dan Joseph Nasi. Joseph Nasi di izinkan membangun istana pribadinya di tepi Bosphorus. Istana “Belvedere di peruntukkan untuk tamu istimewa seperti pejabat asing, pejabat Ottoman atupun rekan bisnis. Joseph Nasi mengundang tamu spesial sekaligus sahabatnya sang putra mahkota, Pangeran Selim. Namun, tugas keluarga Mendes belumlah selesai. Kemelut politik-religius Kontra-Reformasi di Italia memicu reaksi kemarahan dari Gereja Katolik. Paus sebagai pemegang kekuasaan atas wilayah Ancona mulai bersikap sebaliknya. Apa yang terjadi di Venesia berlanjut ke Ancona.
Pada musim gugur 1555 M, perwakilan kepausaan memerintahkan penyidik memeriksa seluruh masyarakat yang diduga menentang Gereja. Alarm pertanda buruk bagi seratus keluarga Marrano di Ancona. Penangkapan disertai perampasan harta kekayaan. Aset disita dan sejumlah orang kaya berusaha menyuap tentara lalu melarikan diri ke dekat Pesaro di Kota Pelabuhan Urbino untuk berlindung pada beberapa Marrano disana. Sejumlah tahanan yang kurang beruntung digeret dengan rantai besi, kemudian digiring berbaris bergantian menerima hukuman siksaan kejam dan sadis. Mereka dipertontonkan di depan publik. Dalam sebuah insiden Ancola[2] tahun 1556 M ketika Gereja menerapkan inkusisi di seluruh wilayah kekuasaan Gereja, militansi Paus Paulus IV menemukan komunitas Yahudi tertahan di pelabuhan. Komplotan marranos yang murtad itu ditangkap dan harta bendanya disita kecuali mereka bertobat dan kembali memeluk agama Kristen. Mereka mengalami kegagalan dalam rencana melarikan diri ke Turki. Kabar burung berkenaan dengan kebebasan beragama yang ditawarkan oleh Sultan Süleyman menarik minat sejumlah marranos yang tidak ikhlas memeluk agama barunya. Sebagian dari mereka memilih bertobat dan sisanya dibakar karena menolak mengakui kesalahannya.
Gracia bersimpati dengan tragedi tersebut, apalagi korbannya adalah kerabat dekat, rekan bisnis, agen pribadi dan teman lamanya. Gracia mengajukan bantuan lagi ke Sultan Suleyman yang khawatir tragedi Ancona akan menggangu kepentingan perdagangannya di Laut Mediteranian. Sultan Suleyman memberi ultimatum kepada Gereja dan mewarkan banding serta negoisasi. Akan tetapi, Sultan hanya mampu membebaskan beberapa tahanan saja. Kisah kemartiran Yahudi tercatat dalam kronik Ibrnai kontemporer, menceritakan kematian Solomon Jachia dan serangkaian eksekusi di bulan April hingga Juni 1556 M.
            Sepanjang bulan Juli 1555 M, pertemuan para rabi terkemuka dari seluruh wilayah kekuasaan Kekaisaran Ottoman bertemu di House of Nasi untuk mendengar saksi mata sekaligus buronan Ancona bernama Yehuda Faraj. Sebuah keputusan umum diambil untuk memberitakan boikot perdagangan terhadap pelabuhan Ancona, dan memutuskan hubungan ekonomi dengan siapapun yang melanggarnya. Semua perdagangan dan pengiriman barang dagangan itu harus dialihkan ke Pesaro. Duke of Urbino berharap Pesaro bisa menjadi pusat perdagangan sehingga dia menyambutnya dengan baik. Namun, kekuatan ekonomi keluarga Nasi dan Mendes sudah mencapai batasnya. Percobaan memboikot Ancona mengalami kegagalan dan seluruh keluarga Marrano diusir dari Urbino.
              Gracia kecewa berat, Dunia Kristen Eropa selalu mengusir minoritas Yahudi dan Marrano dengan seenaknya. Kaum Yahudi dan Marrano dianggap sebagai penumpang sekaligus duri dalam daging. Gracia tidak ingin tragedi Ancona terulang lagi. Menurutnya perlu tanah khusus bagi kaum minoritas Yahudi dan Marrano agar generasi selanjutnya tidak menerima nasib buruk juga. Ketika Gracia pergi dari Italia menuju ke Palestina, disana ia menyadari bahwa rumah susungguhnya dan surga bagi saudara saudaranya yang teraniaya di Eropa. Tanah Israel cocok untuk pemukiman baru bagi kaum Yahudi Eropa. Kota Yerussalem dan Safed sepenuhnya berada di bawah Kesultanan Utsmaniyah yang pro- terhadapnya. Sebuah mimpi mesanik mendirikan negara Israel pun dimulai.




[1] Kata "Marrano" dalam bahasa Spanyol berarti "babi". Ini adalah istilah yang merendahkan
diterapkan untuk orang-orang Yahudi
yang sudah dibaptis menjadi Kristen, tetapi diduga diam-diam mengikuti Yudaisme.
[2] Ancola adalah pelabuhan perdagangan internasional di Laut Mediterania yang menjadi rute pelarian mantan Marranos yang menginginkan kebebasan beragama dengan meninggalkan Eropa dan berhijrah ke negeri muslim melalui jalur laut.
Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.