Kudeta
berdarah disertai pembantaian massal terhadap keluarga Umayyah oleh Abu Abbas
as Saffah mengakhiri Kekhalifahan Umayyah di Damaskus dan mengawali
pemerintahan Kekhalifahan Abbassiyah di Baghdad. Segelintir buronan mampu
meloloskan diri, salah satunya Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah. Dia menyamar
sebagai pengembara melewati Palestina, Mesir dan Afrika Utara. Kisah pelarian dramastis itu tetap abadi
dalam sejarah Arab. Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah berkelana tanpa uang sepesen
pun dan tanpa sahabat hingga ke Ceuta. Paman pamannya dari pihak ibu adalah
orang Berber. Mereka menawarkan bantuan perlindungan. Abd al-Rahman ibn
Mu’awiyah mengutus mantan budaknya yang setia, Badr untuk menyebrang selat
untuk menemui sejumlah divisi Suriah dari Damaskus dan Kinasrin yang bermukin
di Elvira dan Jaen. Seluruh orang Suriah tunduk kepada Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah
karena masih keturunan dari Mu’awiyah yang sangat tehormat. Keburuntungan Abd
al-Rahman ibn Mu’awiyah bertambah ketika orang orang Suriah bisa merangkul
orang orang Yamaniyah yang membenci gubernur Afrika Utara, Yusuf al-Fihri.[1]
Inilah titik tolak kesuksesan
pangeran gelandangan yang berhasil meraih kembali haknya. Gubernur Afrika
Utara, Yusuf al Fihri sangat ketakutan dengan para pendukung Abd al-Rahman ibn
Mu’awiyah sehingga dengan mudahnya menyerahkan berbagai hadiah, janji,
putrinya, dan kota kota di Selatan. Provinsi Arkidona tempat divisi Yordan,
Provinsi Sidona tempat divisi Palestina, Seville tempat hunian bagi orang Arab
dari Hims seluruhnya menyambut pangeran Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah. Nampaknya,
Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah tidak mempan di suap oleh sang Gubernur. Maka
pertempuran pun tak terelakkan, pasukan Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah melaju
menuju Kordova sedangkan Yusuf harus melalui Seville. Pagi hari tanggal 14 Mei
756 M, keduanya terjebak dalam pertempuran di tepi sungai Guandalquivir. Yusuf
dan jendral jendralnya lari tunggang langgang membawa kehinaan dan akhirnya
tewas di dekat Toledo.
Pada tahun 777 M, gubernur Barcelona
sekaligus menantu Yusuf al-Fihri mengundang penguasa Franka, Charlemegne untuk
bersekutu memusnahkan Abd al-Rahman al Dakhil (Pendatang Baru) dan pengikut
pengikutnya. Charlemegne memenuhi permintaannya dan melintasi Spanyol timur
laut hingga sejauh Saragossa, namun mengundurkan serangannya akibat kerusuhan
internal yang mengancam tahtanya. Ketika menempuh perjalanan pulang melalui
pegunungan Pyrenees, prajurit Franka disergap oleh Basques dan penduduk fanatik
agama karena Charlemegne tidak mau mengusir umat Islam dari tanah kelahiran
mereka. Serbuan mendadak tersebut mengorbankan saudara laki laki Charlemegne
yang mengkomandani pasukan paling belakang. Pengkhianatan itu membuahkan epik
heroic yang diabadikan dalam sastra klasik Perancis berjudul Chason de
Roland.
Abd al-Rahman al Dakhil mengukuhkan
otoritasnya dengan membangun angkatan perang terlatih, terampil memakai senjata
dan displin tinggi serta digaji mahal yang didatangkan dari Afrika Utara.
Tentara Berber cukup loyal dan bisa melindunginya dari ancaman musuh musuh
politiknya. Penerus Abd al-Rahman al Dakhil yang cerdas hanya Abd al-Rahman III
(912-961 M). Pria pemberani dan jujur ini bisa merebut kembali kota kota yang
melepaskan diri lalu memperluas wilayahnya kesegala penjuru. Ekiya jatuh
pertama disusul Elvira, Jaen, Arkidona, Seville, Regio dan menyisakan Toledo.
Abd al-Rahman III memperoleh pengakuan dari Maroko, Ceuta dan sebagian besar
penduduk pantai Barbaria. Penghasilan kerajaan mencapai 6.245.000 dinar,
sepertiganya untuk kepentingan militer. Istana al-Zahra dikelilingi pengawal
pribadi Abd al-Rahman III. Korps istimewa seperti Janissarinya Ottoman, dilatih
sejak dini. Budak budak dan tawanan perang dari suku suku Slavia[2]
yang ditangkap oleh pasukan Jerman dijual kepada Abd al-Rahman III.
Masa pemerintahan Abd al-Rahman III
menandai kajayaan Kekhalifahan Umayyah II di Kordova. Dari selat Gilbartar hingga
pegunungan Pyrenees berada dibawah genggamannya. Namun, kebangkitan keemiran Kordova beraliran
Umayyah itu meredup setelah kematian
Al-Hajib al-Mansur (1002 M), politis sekaligus negarawan berbakat yang
mendapat julukan “Bismarck Abad Kesepuluh” oleh sejarawan Barat. Kordova dalam
kemelut politik, kekacauan menyebabkan rakyat bringas dan bertindak anarkis.
Kekhalifahan dihapuskan paksa sehingga Khalifah Hisyam III harus dikurung di
sebuah ruang sempit yang berdampingan dengan masjid agung Kordova. Raja malang
itu menerima kehinaan. Penerus Abd al-Rahman al Dakhil itu hampir mati lemas
kedinginan di kegelapan lorong. Pendahulunya yang membiarkan rezim Hamudiyah
mencemari singgasana Kordova menyebabkan Hisyam III merebut haknya, akan tetapi
setelah berhasil malah diasingkan dan mengemis meminta sepotong roti untuk
anaknya. Hisyam III harus duduk berjam jam sambil mendekap putrinya yang masih
bayi, sungguh tragis. Sementara itu, para wazir menyelenggarakan rapat umum
membahas peghapusan sistem Kekhalifahan dan membentuk dewan negara yang
diketuai Abu Hazm ibn Jahwar.
Sepeninggalan Abd al-Rahman III seluruh wilayah yang berhasil
ditaklukkannya perlahan lahan memisahkan diri dari Kordova. Andalusia yang
bersatu cuma menjadi slogan omong kosong. Negeri negeri Islam kecil pasca
runtuhnya dinasti Umayyah II saling berkonflik tanpa sadar pihak Kristen Barat
mulai bersatu. Kekuatan Islam sudah melemah di dataran Semenanjung Iberia.
Kekuatan Kristen merambat memasuki wilayah umat Islam yang ribut masalah internal.
Ketika perseteruan di perbatasan Dunia Islam Timur dan Dunia Kristen Barat,
muncul Yusuf Ibn Tasyfin. Seorang pria yang memimpin orang orang Murabitun
Berber, berdarah negro dan penguasa mutlak wilayah Aljazair hingga Senegal.
Alfonso VI yang kerapkali mengusik wilayah umat Islam mengalami kekalahan
memalukan dalam pertempuran pada tanggal 23 Oktober 1086.
Al-Mu’tadhid, penguasa Seville yang
menyewa tentara Yusuf Ibn Tasyfin berbangga diri karena Alfonso IV harus
bersusah payah kabur dari pembantai gila gilaan. Namun, episode selanjutnya
al-Mu’tadhid mengalami nasib yang sama. Yusuf Ibn Tasyfin dan gerombolan
tentaranya terlalu menikmati kenyamanan hidup di negeri Spanyol dan menyadari
gurun tandus sama sekali tidak menyenangkan. Dia datang lagi ke Spanyol bukan
sebagai tentara sewaan, akan tetapi sebagai penakluk. Yusuf Ibn Tasyfin
mencaplok seluruh wilayah Andalusia kecuali Toledo dan Saragossa. Sebuah era
dimana gerombolan suku suku Barbar [3]
mendiami serta memerintah kawasan beradab. Dinasti Murabitun berumur pendek
(1090-1147 M) karena ketidaksesuaian dengan habitatnya, korupsi merajalela,
kemalasan dan kebobrokan dalam tubuh militernya.
Pengganti Dinasti Murabitun adalah
Dinasti Muwahhidun. Catatan sejarah dalam buku mega-fenomenal karya Ibnu Khaldun
mengenai Muwahhidun memang cukup terpercaya. Sejarah Dinasti Muwahhidun
merupakan objek dari teori siklus peradaban, menurut Ibnu Khaldun kasus itu
menyerupai Islam di periode awal yang ekspansioner. Muhammad Ibn Tumar
(1078-1130 M) dari suku Masmuda mengaku sebagai al-Mahdi yang diutus Tuhan
untuk memulihkan Islam. Sependapat dengan Ibnu Khaldun bahwa dia adalah seorang
Sufi. Dia mengajarkan suku suku liar di Maroko mengenai keesaan Tuhan dan
konsep pemikiran keTuhanan khas intelektual Sufi. Muhammad Ibn Tumar mempunyai
postur tubuh pendek, bermuka kurang beruntung dan bekerja sebagai penyala lampu
masjid sambil menjalani kehidupan pertapa. Dia menjauhi keduniawian seperti
musik, minuman keras dan segala permainan yang melalaikan ibadah kepada Tuhan. Pembelajaran
sang Mahdi mengenai ilmu akhirat menyebabkan pengikutnya menjadi pemberani.
Mereka berjihad tanpa rasa takut karena kerinduannya bertemu Tuhan.
Muhammad Ibn Tumar digantikan oleh
sahabatnya Abd al-Mukmin ibn Ali. Seorang pembuat tembikar dari suku Zanatah
ini menghimpun pengikutnya untuk menyulutkan api peperangan melawan dinasti
Murabitun. Tentara nekat al-Mukmin menggairahkan medan perang dan mengurung
mental musuh musuhnya. Wajar saja, penaklukan demi penaklukan semakin menjalar.
Al-Mukmin ibn Ali pun berhasil menguasai Aljazair, Maroko dan Spanyol. Setelah
kematiannya pada tahun 1163 M, dinasti Muhawahhidun dapat mempertahankan
kekuasaan agak lama dibawah pemerintahan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansur
(1184-1199). Akan tetapi, penerus selanjutnya tidak mampu membendung agresi
militer dari pasukan Salib. Pada tahun 1212 M, dinasti Muwahhidun menderita
kekalahan telak dalam pertempuran di Las Navas de Tolosa sehingga terpaksa
meninggalkan semenanjung Iberia. Kejatuhan dinasti Muwahhidun menyebabkan Andalusia
terpecah pecah lagi menjadi negeri negeri kecil yang independen dan mudah di
adu domba.
Pihak Kristen Eropa menendangi
seluruh emir emir Muslim kecuali Granada. Emir Granada adalah Muhammad
(1232-1273 M). Karirnya berawal dari kerjasama dengan kerajaan Kristen. Oleh
sebab itu, orang orang Kristen menyisakan Granada sebagai negeri Muslim
terakhir di Spanyol sekaligus berstatus vassal dari kerajaan Castile. Granada
menampung sekitar setengah juta jiwa. Mayoritas adalah Muslim Suriah dan
komunitas Yahudi. Penghuni Granada tersebut akan merasakan pengusiran ketika
bendera salib menggantikan bulan sabit di menara menara kota.
[1] Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah
hampir saja terbunuh oleh Yusuf al-Fihri ketika melitasi wilayah Afrika Utara.
[2]
Suku Slavia adalah cabang suku Jermanik yang dainggap ras terendah di Eropa.
Mereka penghuni Eropa Timur dan sekarang menjadi penduduk Yugoslavia (Serbia,
Bosnia-Montenegro, Albania dll).
[3]
Kata Barbar dan Berber merupakan stereotype yang bisa anda temukan dalam buku
Mukkadimah karya Ibnu Khaldun.

0 komentar:
Posting Komentar