Tampilkan postingan dengan label Sultan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sultan. Tampilkan semua postingan

Gaya Meledek ala Sultan Suleyman the Magnificient

I, who am the sultan of sultans,the sovereign of sovereigns, the dispenser of crown to the monarchs on the face of the earth, shadow of god on earth, the sultan and sovereign lord of the Mediterranean and the Black Sea, of Rumelia and Anatolia, of Karamania and the land of Rum, of Zulkadria, Diyarbakir, of Kurdistan, of Azerbaijan, Persia, Damascus, Cairo, Aleppo, of the Mecca and Medina, of Jerusalem, of all Arabia, of the Yemen and many other lands, which my noble forefathers and my glorious ancestors - may God light up their tombs - conquered by the force of their arms and which my august majesty has made subject to my flaming sword and victorious blade, I, Sultan Süleyman Han, to thee, who art Francis, king of the land of France ...
~ Istanbul, Constantinople 1536,
       Letter of Süleyman, the Magnificent, to Francis I, King of France
~ 1543 – 1557 M ~

            Ombak lautan menghempas kapal kapal besar dengan beragam muatan. Kesibukan pelabuhan, lalu lalang kapal kapal berukuran besar maupun kecil yang mengibarkan macam macam lambang bendera. Ragam logat dan bahasa keluar dari pedagang pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Interaksi sosial tanpa memperdulikan ras, agama dan adat istiadat. Perairan tenang laut mediterania menciptakan pasar berskala internasional. Transportasi laut berupa kapal berhasil memuaskan hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penghasilan pajak yang berlimpah bagi penguasa. Letak strategis yang berada di jantung dunia. Gerbang bagi dunia timur dan barat. Kota di persimpangan benua yang menakjubkan. Calon ibukota yang diperebutkan berbagai kekaisaran besar.
            Inilah kota Istanbul. Kota menarik yang sudah berganti ganti nama berkali kali. Nama Byzantium[1] diberikan oleh para penguasa Yunani yang menjadikan kota ini bagian dari polis. Constantine merebutnya, menjadikannya ibukota Romawi Timur. Mengganti namanya menjadi Constantinople atau kota Constantine. Sekian lama bertahan dengan nama tersebut, gelombang tentara dibawah panji panji islam datang bergelombang merebut kota bersejarah ini. Baru menemui keberhasilan, ketika Mehmet II bertahta di kekaisaran Ottoman dan memimpin penaklukan kota Constantinople. Menamai ulang kota ini. Merubah namanya, dari Constantinople menjadi Istanbul yang berarti kota islam.  Pertahanan sempurna memang julukan yang pantas bagi dua lapis tembok tebal beserta parit yang berfungsi sebagai penghambat gerak tentara penyerbu, namun dalam konteks era Constantine hidup. Senjata penghacur tembok model terbaru dinilai sanggup meruntuhkannya. Lebih canggih dari katalput atau alat pelontar batu lainnya. Memerlukan serbuk bubuk mesiu, meriam mengeluarkan bunyi dentuman keras. Penemuan paling spektakuler di zamannya, buah hasil kerja keras para ilmuwan (ahli kimia) Spanyol Islam (Andalusia).
            Perjuangan heroik penaklukan kota legendaris. Memeras otak dan tenaga akibat pengepungan panjang yang melelahkan. Cerita sejarah kehebatan keturunan Usman (Osman ; pendiri kekaisaran Ottoman), Sultan muda naik tahta, Suleyman I berharap melampaui pendahulunya. Kekaguman berlebih pada prestasi penaklukan. Gengsi sang Sultan terhadap kebesaran. Cerita cerita para penakluk agung mengundang luapan luapan emosi yang selalu memotivasinya. Kisah Jendral Macedonia yang perkasa. Penakluk kerajaan besar Persia oleh Alexander Agung, salah satu sosok tokoh favorit Suleyman I. Manusia gila yang tak pernah kalah dalam peperangan. Selalu haus tanah baru, darah, perang dan kehormatan sebagai jendral sekaligus raja muda.
            Singgasana agung nan megah belum memuaskan nafsu duniawinya. Suleyman I berencana menjadi penguasa paling ditakuti seluruh sentero dunia. Raja yang ambisius ini bukan hanya mengidolakan Alexander Agung. Contoh terbaik menurutnya tergambar dalam kitab kitab suci agama agama samawi, termasuk kitab yang dipercayainya. Raja Sulaiman, pemimpin yang mengantarkan kejayaan orang orang yahudi. Sosok nabi penuh anugerah, melekat beragam mu’jizat yang membuatnya luar biasa. Penguasa kerajaan maha besar. Pemilik kekayaan yang melimpah ruah serta bala tentara yang terdiri dari berbagai mahkluk.
            Cuplikan sejarah dalam Al Qur’an. Kitab suci seluruh umat islam ini selalu menggetarkan hati Sultan. Dia membayangkan kelak dirinya akan menjadi seperti nabi Sulaiman A.s . Berharap nama yang sama (Solomon /Ibrani : Süleymaniye/ Turki) akan mengantarkan pada nasib yang serupa. Suleyman I berkali kali meneguhkan kepercayaan dirinya. “Kelak aku akan melampauimu, (nabi) Sulaiman A.s”, kalimat ajaib yang selalu diulang ulang olehnya. Merenungkan cerita kemegahan singgasana istana nabi Sulaiman A.s menyebabkan sang Sultan semakin bergairah. Demi menandinginya, dia membangun salah satu monumen religius, manifestasi kebesaran dirinya sebagai Sultan Ottoman. Proyek pembangunan Masjid Süleymaniye dimulai tahun 1543 M.






Gambar 5.3 Masjid Süleymaniye (Photo by Zeynep Ahunbay)

            Empat menara masjid menjulang tinggi. Seluruh menara digunakan untuk mengumandangkan azan. Suleyman I adalah Padishah kesepuluh dari dinasti Ottoman, sehingga sultan memerintahkan pembangunan sepuluh galeri, masing masing satu galeri di empat menara. Pendakian menuju puncak menara menempuh seratus anak tangga. Sebelah kanan dan kiri masjid masing masing berdiri tiga galeri. Dua menara di sudut belakang halaman dibuat lebih rendah dan memiliki dua galeri. Menara di sebelah kiri dengan tiga galeri disebut Jewel Minaret.
            Suleyman I tiba tiba memberhentikan pembangunan Masjid Süleymaniye yang sudah berjalan selama satu tahun. Suleyman I tergiur untuk membangun bangunan bangunan indah lainnya. Berita pemberhentian pembangunan masjid terdengar oleh telinga rival Sultan. Raja Safavid (Kerajaan Islam Safawi terletak di Iran). Shah Thamasp langsung mengirim 1000 kantong berisi uang dan semua jenis perhiasan berharga yang terbungkus dalam kotak besar. Seluruhnya tiba bersamaan dengan utusan raja Safavid yang ditugaskan mengantarkan surat. Raja dermawan itu menitipkan pesan dalam surat tersebut. Shah Thamasp menulis :
“Saya mendengar anda tidak memiliki dana untuk menyelesaikan pembangunan masjid sehingga anda memberhentikanya. Karena persahabatan kita, maka saya mengirim kepada anda sejumlah uang dari kas beserta kotak berisi perhiasan. Anda boleh menjualnya dan menghabiskan uangnya untuk melanjutkan kembali pembangunan masjid. Mari kita saling menyumbang dana dalam karya saleh (Bangunan Suci; Masjid Süleymaniye) anda”.
            Isi surat itu dianggap penghinaan dan menjatuhkan harga diri Sultan.  Suleyman I naik pitam, gejolak amarah sudah sampai ubun ubun. Jeda singkat. Luapan kekesalan yang siap untuk dimuntahkan berusaha diredam. Memasang raut muka geram sambil mengontrol diri untuk tetap tenang. Sultan harus menjaga wibawanya. Di tengah lautan buruh dan tukang batu yang sedang bekerja untuknya. Perasaan mempengaruhi keputusannya. Dia membagi bagikan 1000 kantong berisi uang tersebut kepada orang orang yahudi di Istanbul.  Seluruhnya dibagikan hingga tak ada yang tersisa. Dia sengaja membagikan ke orang orang Yahudi. Bentuk pembalasan atas penghinaan. Suleyman I sempat melontarkan dua kalimat pendek ketika amarahnya memuncak.
Orang sesat (bid’ah) pada hari penghakiman
Akan menjadi keledai (penghinaan; orang bodoh) dibawah (budak) Yahudi.[2]
Di hadapan utusan dia memerintah anak buahnya untuk membagikan 1.000 kantong uang itu kepada orang-orang Yahudi di Istanbul, dan tidak sebutir pun tersisa. Dia lalu menulis balasan suratnya dan mengirimnya balik melalui perantara utusan raja Safavid tadi, Suleyman I menulis :
 “Untuk majikan Anda orang-orang Yahudi itu, yang akan menunggangi Anda ketika saatnya tiba, biarkan uang Anda dialokasikan, sehingga ketika mereka menunggangi Anda pada hari penghakiman, mereka mungkin memacu dan mencambuk anda. Sebaliknya, apa rakyat jelata seperti Anda berupaya menghentikan upacara besar pembangunan karya-karya saleh (bangunan bangunan suci) seperti pendirian masjid? "
Kemudian Sultan memberikan kotak perhiasan tersebut kepada Sinan. Pria berumur lima puluh tahunan ini adalah seorang arsitek yang bergelimang prestasi. Arsitek handal ini merupakan perancang kemegahan arsitektur klasik kekaisaran Ottoman. Pria kelahiran 1489 ini menjadikan Masjid Süleymaniye sebagai karya agung yang fenomenal. Sementara itu, utusan raja Safavid masih berada disitu dan Sinan berkata kepadanya:
“Ini yang disebut batu berharga, dia mengirim barang yang tidak berharga untuk ditaruh disamping batu mulia dari masjid saya. Jadi menempatkan batu ini dengan yang lain dan menggunakannya dalam konstruksi.” Ketika utusan itu sadar akan situasi, dia kaget. Utusan dari kerajaan Safavid tersebut baru mengerti makna ucapan dari arsitek perancang berbagai jembatan ini. Selama ini, dia tidak memperhatikan sekelilingnya. Dia lupa mengamati batu mulia yang akan digunakan untuk membangun masjid Süleymaniye tersebut.
Beberapa surat ditulis dengan sindiran mengejek namun terkesan formal dan menunjukkan kewibawaan dari ego masing masing penguasa. Surat balasan itu diberikan kepada utusan tersebut dan ia berangkat menuju Revan (Erevan, bagian dari kerajaan Safavid pada waktu itu).
Masjid Süleymaniye nantinya akan menjadi mahakarya Sinan melebihi masjid Atik Valide Sultan. Kepala arsitek ini untuk menghias alur menara dengan segala macam perhiasan. Marmer marmer dihiasi dengan dekorasi mawar turut memperindah. Inilah sebabnya mengapa menaranya disebut dengan “Jewel Minaret”. Beberapa batu bersinar, memancarkan cahaya yang indah ketika terik matahari menyentuhnya, namun sebagian telah memudar dan kehilangan kilau menakjubkannya karena paparan panas, hujan mapun salju. Tetapi, di tengah tengah lengkungan yang berada tepat diatas pintu gerbang kiblat terdapat batu pirus Nishapur besar berwarna biru kehijau hijauan seperti mangkuk bulat, bila dipandang sangat mempesona. Lengkap dengan empat puluh keran wudhu pada kedua sisi Masjid Süleymaniye.




[1] Menurut legenda, koloni koloni Yunani dari Megara mendirikan kota Byzantium pada tahun 667 SM dan menamainya Byzantion (dibaca latin Byzantium) berdasarkan nama raja Byzas atau Byzantas.
[2] Karaites merupakan kota dibawah kekuasaan Ottoman, tepatnya berada di provinsi Menkup, Krimea. Disana terdapat kira kira 1.000 rumah Yahudi yang kotor, buruk dan berapat genteng. Toko toko penyamak dan sepatu yang berbahan baku kulit rusa dikelolah oleh komunitas Yahudi. Seluruh orang Yahudi tidak menyukai ritus Yid (cuhudlar) di Karaites. Perilaku buruk dalam keseharian orang orang Yahudi Karaites terutama tidak membedakan makanan halal dan haram dalam perspektif muslim Krimea membuat masyarakat sekitar mengejeknya sesuai dengan ayat yang tertulis di ritus tersebut. Meskipun orang-orang Yahudi ini mengaku pengikut Musa, dan membaca Taurat dan Mazmur, mereka tidak tahu bahasa Yid (i.e., Ladino) sama sekali karena mereka semua berbicara Tatar. Komunitas Yahudi di Menkup lebih sejahtera dibanding saudara saudaranya di Dunia Kristen. Mereka memiliki sangat banyak anak laki laki. Salah satu kegemaran yang membudaya hingga sekarang di Krimea adalah pergulatan antar lelaki, ketika Evliya Celebi menonton pertandingannya salah seorang pemuda Yahudi berwajah kemerahan dengan mata kijang manis yang indah berpidato memukau dengan bumbu bahasa bahasa manis sekaligus menyertakan lantunan ayat nakal.  
Orang sesat (bid’ah) pada hari penghakiman
Akan menjadi keledai (penghinaan; orang bodoh) dibawah (budak) Yahudi.
lalu mengomentarinya.
A Jewish lad did I pervert,
To Love’s religion did I convert.
Satan cheered: ‘Bravo! Well done!’
This verse is just a load of dirt.



Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.