Tampilkan postingan dengan label Islam Nyanmar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Nyanmar. Tampilkan semua postingan

Siapakah Etnis Rohingya




Rakhine (Arakan) merupakan provinsi yang terpisah dari Nyanmar. Provinsi independen yang berada di pegunungan Rakhine Yoma. Wilayah ini telah lama menjadi perbatasan Muslim dan Buddha di Asia. Kerajaan Rakhine didirikan di Mrauk-U tahun 1430 dengan bantuan militer Sultan Bengal. Kerajaan vassal bawahan sultan ini berguna untuk menjaga perbatasan timur yang sewaktu waktu bisa bergejolak. Raja raja Rakhine Buddha bersembunyi dalam jubah muslim melalui koin yang diterbitkan pada bantalan prasasti Muslim. Beberapa tentara muslim Bengal mendirikan kerajaan independen di Mrauk-U dan Kyauktaw. Kerajaan Rakhine memerdekakan diri pada tahun 1531 M ketika Mughal menginvasi Bengal. Kerajaan Rakhine dengan mudah mencaplok Bengal timur hingga Chittagong dari kerajaan Bengal yang sekarat. Meskipun kerajaan Rakhine bercorak Buddha namun berkedok Muslim jadi tidak mengherankan bila beberapa posisi penting dalam administrasi kerajaan tetap dipegang umat Islam.
Kerajaan Rakhine membangun angkatan laut yang kuat dan mendominasi sepanjang garis Teluk Benggala. Selama dua setengah abad berikutnya, perebutan wilayah kerapkali terjadi, akan tetapi kemakmuran akibat perdagangan di pelabuhan pesisir serta kunjungan pedagang dari bangsa Portugis dan Arab. Tentara bayaran dan bajak laut seringkali meneror Bengal dan pulang membawa tawanan sebagai budak sehingga populasi Muslim di Mrauk-U meningkat. Pada tahun 1660, Pangeran Mughal bernama Shah Shuja melarikan diri ke Mrauk-U membawa beberapa prajurit setianya. Shah Shuja tidak dapat mempertahankan hidupnya lebih lama, hubungan yang semakin memburuk mengakibatkan raja Rakhine membunuhnya. Tentara Shah Shuja yang tersisa dimasukkan dalam kesatuan elit penjaga istana sebagai kelompok khusus yakni unit pemanah yang dikenal sebagai “Kaman” (Bahasa Persia berarti “busur”). Kelompok elit ini diperkuat oleh tentara bayaran Afghanistan. Kesatuan tentara yang beranggotakan ksatria Muslim memainkan peran krusial dalam keberanjutan kerajaan Rakhine. Namun, pada tahu 1710 kesatuan elit Kaman diasingkan ke Pulau Ramree.
Muslim Kaman diakui sebagai etnis pribumi di negara bagian Kerajaan Rakhine dan mendapat posisi terhormat sebagai guru, dokter, pegawai negeri sipil dan pekerjaan professional lainnya. Anarki internal dikalangan bangsawan Rakhine menyebabkan kejatuhan ibukota Mrauk-U ditangan Burma. Raja Bodawpaya yang hebat mampu memaksa pasukan Rakhine bertekuk lutut melalui serangkai serangan mendadak. Kerajaan Burma menganeksasi Rakhine dan secara sporadis bangsawannya terpaksa dipindahkan ke Burma. Sebagian lain yakni 200.000 orang Rakhine lebih memilih melarikan diri ke Chittagong. Kerajaan Burma membentengi diri dengan tentara elit yang juga beranggotakan orang orang Muslim. Desa Myedu di kabupaten Shwebo, Burma adalah daerah dimana tumbuh pemukiman umat Islam, penduduk Muslim disana merupakan tawanan perang yang ditangkap oleh raja raja Burma dalam penggerebekan di Mrauk-U dan di tempat tempat lain pada abad ke 17 dan 18. Sensus kolonial pada tahun 1931 membuktikan 5.000 muslim di Kabupaten Thandwe mengaku keturunan para tentara elit sehingga dokumen tersebut mencantumkan nama “Myedus”.

Siapa sebenarnya Rohingya
Abad ke 21 menyaksikan tragedi manusiawi yang sumbernya berasal dari konflik etnis. Isu konflik etnis dengan gembar gembor nama “Rohingya” kerapkali muncul dari berbagai media baik nasional maupun internasional. Salah satu berita heboh nan miris berkaitan dengan dehumanisasi. Genosida berkepanjangan yang memuncak pada upaya pembersihan etnis. Meskipun Nyanmar memiliki beragam etnis namun masih jauh lebih beragam etnis di Indonesia, akan tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa konflik etnis di Nyanmar sangat rentan terjadi. Bila ditarik kebelakang, kita dapat menjumpai liku liku sejarah Nyanmar yang menciptakan kemungkinan besar konflik etnis. Namun, sebelum membahas itu semua setidaknya kita harus mengetahui Siapa Rohingya?. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengetahui tentang Rohingya tapi tidak tahu siapa mereka karena faktor berita yang menyajikannya terlalu sederhana ataupun masyarakat Indonesia sendiri yang hanya ingin mengerti bahwa Rohingnya terdiri dari orang orang muslim.
Orang orang yang menyebut diri mereka Rohingya adalah masyarakat Muslim dari wilayah pinggiran Mayu, kini Buthidaung dan Maungdaw di kota kota Arakan (Rakhine). Sebuah provinsi terpencil di bagian barat negara di perbatasan Bangladesh. Sekitar tahun 1950an awal beberapa intelektual Bengal menggunakan istilah Rohingya bagi masyarakat Muslim Rakhine di Arakan. Rohingya merupakan keturunan langsung imigran dari Chittagong District of East Bengal (Bangladesh). Perang Anglo-Burma Pertama (1824-1826) menyebabkan mereka bermigrasi ke Arakan, sebab suprioritas Inggris sebagai pemenang membuatnya menerapkan persyaratan berat melalui perjanjian yandaboo.[1] Akan tetapi asal usul istilah Rohingya masih belum jelas. Pada tahun 1950, Nyanmar memilih istilah Rohingya untuk menyebut etnis tersebut bahkan presiden pertama Burma, Sao Shwe Thaike pada tahun 1959 dengan lantang mengatakan “Muslim arakan adalah ras asli Burma, jika mereka bukan termasuk ras pribumi maka kami juga bukan ras pribumi”.
Pada tahun 1948 Burma memperoleh kemerdekaan dari Inggris Raya. Pemerintah kolonial digantikan oleh penguasa Burma bukan berarti masalah Burma telah usai. Sejak saat itu Burma harus bergulat dengan permasalahan lain yaitu masalah internal negara. Arakan memang pernah menjadi kerajaan independen sebelum ditaklukkan oleh Burma, akan tetapi sejarawan Rohingya telah menulis banyak risalah yang menegaskan bahwa mereka sudah menempati provinsi Arakan selama lebih dari seribu tahun. Meskipun agak sesuai fakta sejarah namun para akademisi tidak menerima klaim tersebut karena beberapa volume buku memuat unsur unsur cerita fiktif,mitos dan legenda. Sebagian besar pengungsi di area pinggiran Mayu, perbatasan Burma – Bangladesh dalam catatan kolonial Inggris disebut “Chittagonians”. Secara umum umat Islam di Arakan dibagi menjadi empat kelompok ang berbeda. Pertama Muslim di Chittagong Bengali di perbatasan Mayu. Kedua, Muslim di kota kota Kyauktaw. Ketiga, Muslim di Pulau Ramree dan terakhir Muslim dari daerah Myedu.
Provinsi Rakhine berada sepanjang pantai utara Nyanmar hingga perbatasan Bangladesh. Penduduk Rakhine berjumlah sekitar 3,2 juta orang beragama Buddha dan 2,1 juta orang beragama Islam. Masyarakat Rakhine aau Arakan adalah etnis minoritas di Myanmar yang hanya 6 persen dari populasi nasional. Etnis Rohingya hidup di kota kota Maungdaw dan Buthidaung, Rakhine utara. Ketika Rohingya mengukuhkan kedudukannya sebagai pribumi yang sah maka [2]nasionalis Burma dan Rakhine Buddha menuduh mereka memalsukan sejarah. Carlos Sardina Galache menjelaskan bahwa kaum nasionalis Burma dan Rakhine Buddha sering menuduh Rohingya memalsukan sejarah mereka dalam rangka untuk mengukuhkan klaim mereka melalui sejarawan etnis Rohingya yang cenderung meminimalkan atau mengabaikan sama sekali pentingnya peristiwa migrasi buruh ke Arakan dari Bengal selama masa penjajahan. Meskipun begitu, sejarahwan internasional mengakui kehadiran muslim lama di Rakhine. Masjid masjid kuno dan koin Islam penguasa Arakan memperkuat kenyataan historis itu.


Daftar Pustaka 

Aye Chan. 2005. The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma (Myanmar) : SOAS Bulletin of Burma Research, Vol.3, No. 2, Autumn, ISSN 1479-8484 
Penny Green, Thomas MacManus dan Alicia de la Cour Venning. 2015. COUNTDOWN TO ANNIHILATION: GENOCIDE IN MYANMAR. London: Internasional State.




[1] Aye Chan,The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma (Myanmar) : SOAS Bulletin of Burma Research, Vol.3, No. 2, Autumn 2005, ISSN 1479-8484, hal 396 – 397.
[2] Penny Green, Thomas MacManus dan Alicia de la Cour Venning. COUNTDOWN TO ANNIHILATION: GENOCIDE IN MYANMA, (London: Internasional State.2015), hal 27-28.
Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.