Tampilkan postingan dengan label Rabbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rabbi. Tampilkan semua postingan

Negeri Harapan



Al Wansharisi (Ahmad ibn Yahya al-Wansharisi was a North African Muslim theologian and jurist of the Maliki school around the time of the fall of Granada. He was one of the leading authorities on the issues of Iberian Muslims living under Christian rule) dramatizes his ruling in the phrase: "Rather Muslim tyranny than Christian justice.
~ 1430 – 1481 M ~





Gambar 2.2 Lukisan Selat Bosphorus Istanbul oleh pelukis Belanda Jacques Carabain, 1800-an.
Source: Ottoman Imperial Archives Page
              Bendera sabit subur menjelajahi dunia. Tentara gagah berani dari padang pasir gersang Arabia, untuk kesekian kalinya bangkit. Semangat heroik mengusung agama Muhammad menggema seluruh negeri. Pengikut agama baru merapatkan barisan menghantam kekuatan besar kala itu. Kekaisaran tua nan rapuh itu, berulangkali harus merelakan melepas satu persatu wilayahnya. Tergeletak tak berdaya melawan bangsa yang sudah lama diremehkannya. Romawi Timur, sisa sisa kegemilangan Kekaisaran Romawi itu digasak habis habisan. Dataran subur sekitar sungai nil dirampas paksa oleh orang orang Arab. Kekaisaran Byzantium semakin tak berdaya, ketika pundi pundi keuangannya direbut. Ksatria padang pasir itu melanjutkan ekspansi brutalnya, menaklukan berbagai negeri sepanjang pantai laut Afrika Utara.
              Semenjak kekuasaan bangsa Arab runtuh, kekuatan Islam dipegang oleh bangsa tak terduga. Bukan bangsa Arab, Berber ataupun Persia namun bangsa Turki. Suku suku Turki yang nomaden di Asia Tengah mampu menggantikan semangat perjuangan bangsa Arab yang luntur. Pekik takbir dan genderang perang berpindah tangan ke suku suku Turki. Mereka dipopulerkan oleh kekaisaran Abbassiyah. Berawal dari budak budak Turki yang dijadikan tentara tentara bayaran dan berakhir dengan pengembalian kejayaan Baghdad oleh Alp Al Arslan dan Maliksyah. Sementara itu, suku suku Turki lain datang sebagai gelombang kedua. Mereka bermigrasi dari daratan yang sekarang China menuju Anatolia (Turki) untuk menghindari serangan bangsa barbar yang ganas. Rombongan suku suku Turki menetap diwilayah sahabat jauhnya, setelah membantu Sultan Alaudin merebut kemenangan. Sultan terakhir dinasti Seljuk Rum ini memberikan hadiah berupa wilayah diperbatasan.
              Sultan Alaudin meninggal dunia, suku suku Seljuk terpecah pecah. Saling berebut tahta, perag saudara serta komandan komandannya mendirikan dinasti independen. Kekuatan baru, generasi kedua suku suku Turki dibawah Erthugul mepertahankan otoritasnya. Osman, anak Erthugul meneruskan perjuangan ayahnya. Dia mendirikan pondasi kerajaan yang bertahan lebih dari enam abad. Kekaisaran Ottoman adalah bukti mimpi Osman mengenai pohon besar yang memiliki banyak cabang. Penguasa selanjutnya menciptakan kesatuan tentara Jennisari, tentara elit yang dilatih sejak dini. Anak anak di daerah yang baru ditaklukan diasuh di istana untuk diajarkan seni berperang bagi yang berotot dan bekerja diadministrasi Ottoman bagi yang cerdas. Sultan Orhan, pelopor pendirian kesatuan elit Jenissari yang akan mengguncangkan dunia.
              Tentara paling ditakuti oleh orang orang Eropa, mesin perang yang mengerikan. Terdidik untuk mengabdi kepada sultan dan agama Islam, korps tentara elit ini mengantarkan bangsa Turki menuju kedigdayaan. Merangsek tanah tanah di Eropa Timur, menghancurkan kerajaan kerajaan Balkan. Perang Kasovo, dimana seluruh kerajaan Kristen menghimpun pasukannya demi mengusir orang orang Turki. Kemenangan Turki memunculkan anggapan dibenak orang orang Eropa bahwa Turki tak terkalahkan.
              Perluasan wilayah kekuasan Kekaisaran Ottoman mempercepat bertambahnya penduduk Yahudi. Selain itu, imigrasi orang orang Yahudi turut meramaikannya. Selama berabad abad orang orang Yahudi dalam jumlah besar terus melakukan perjalanan dari berbagai wilayah Eropa Kristen ke tanah Ottoman, tertarik dengan laporan yang telah mereka dengar tentang sikap toleransi tinggi dan kesempatan luas untuk berkembang yang ditawarkan oleh pemerintahan Ottoman. Salah satunya, berkat informasi dari Isaac Tzafati. Seorang Rabbi dari Edirne (Adrianople) menulis surat untuk orang orang Yahudi di Eropa Tengah di pertengahan abad ke-15.
Dalam surat tersebut dia mengajak umat untuk meninggalkan siksaan abadi mereka dalam dunia Kristen dan mencari keselamatan dan kemakmuran di negeri Islam. Dia mendengar berita berita buruk seputar umat Yahudi. Berita tentang penderitaan tiada akhir. Kepahitan hidup lebih menyiksa daripada maut dan kiasan kiasan menakutkan dan mengerikan lainnya. Tentunya berita berita yang membuat bulu kuduk berdiri karena merinding itu datang dari orang orang Yahudi yang tingga di wilayah kekuasaan Kristen. Rabbi Edirne ini merasa empati kepada mereka yang tertimpa musibah, saudara saudara jauhnya di Jerman yang menerapkan hukum tirani.
Kabar kabar heboh nampak biasa. Pembaptisan wajib bukanlah pemandangan langka. Penyiksaan terjadi dimana mana. Mudah memberi hukuman walaupun landasannya cuma tuduhan. Hari hari sulit tanpa toleransi.
“Saya diberitahu bahwa ketika mereka melarikan diri dari satu tempat, di tempat lain nasib keras juga menimpa mereka … di semua sisi saya belajar dari penderitaan jiwa dan siksaan dari tubuh; dari pemerasan harian dipungut oleh penindas tanpa ampun. Mereka para pendeta dan para biarawan, imam palsu, bangkit melawan orang-orang bahagia dijalan Allah . . . untuk alasan ini mereka telah membuat hukum yang setiap orang Yahudi ditemukan pada sebuah kapal Kristen menuju Timur harus terlempar ke laut. Aduh!(menyatakan kesusahan,penyesalan dan ketakutan) Seberapa malang umat Allah di Jerman memohon; bagaimana menyedihkannya keberangkatan mereka! Mereka didorong kesana kemari dan mereka dikejar bahkan sampai mati... Saudara saudara,guru dan teman-teman. Perkenalkan ! Aku, Isaac Zarfati, meskipun saya keturunan Perancis, namun saya lahir di Jerman, dan duduk disana di kaki guru saya yang terhormat. Saya menyatakan kepada Anda bahwa Turki adalah tanah dimana tidak ada yang kurang, dan dimana pun, jika Anda berkemauan, semua akan menerima anda dengan baik. Jalan menuju Tanah Suci terbuka untuk Anda melalui Turki. Apakah tidak lebih baik bagi Anda untuk hidup di bawah Muslim daripada di bawah Kristen? Di sini setiap orang dapat tinggal damai di bawah pohon anggur dan pohon ara sendiri. Di sini Anda diperbolehkan untuk memakai pakaian yang paling berharga. Dalam Kristen, sebaliknya, Anda tidak berani mengambil resiko memakaikan pakaian merah atau biru kepada anak anak anda, sesuai selera kita, tanpa mencelakakan mereka, (aturan yang dibudayakan bagi orang Yahudi bila memakai baju hitam akan dihina dan biru akan dipukuli atau ditendang bagi yang memakai baju warna hijau dan merah, dan oleh karena itu kamu dikutuk untuk selalu membalut diri menggunakan pakaian yang berwarna menyedihkan. . . dan sekarang, melihat semua hal ini, hai orang Israel, mengapa engkau tertidur terlampau lama? Bangunlah! Dan tinggalkanlah tanah terkutuk itu selamanya!”
“Saudara-saudara saya dan master saya, setelah berdoa kepada Tuhan untuk memberikan Anda ketenangan, saya ingin menceritakan kepada Anda tentang keadaan disini, Rabbi muda Zalman dan temannya Rabbi David Cohen datang kepada saya. Mereka menceritakan kepada saya semua cobaan, lebih keras daripada kematian, yang saudara-saudara kita, bani Israel yang tinggal di Jerman, telah menjalaninya dan masih bertahan; keputusan yang diambil terhadap mereka, para martir (korban yang sudah meninggal dunia; Syuhada; Syahid), pengusiran, yang berlangsung setiap hari dan memaksa mereka untuk mengembara dari satu negara ke negara lain, dari kota ke kota lain, tanpa henti, tanpa setiap tempat menerima mereka [...]
              Arsip berupa surat ini merupakan bukti derita yang dialami bani Israel dibawah kekuasaan Kristen Eropa. Ketakutan, penyiksaan, pengusiran, penghinaan terhadap mereka kerap kali terjadi. Pemusnahan massal kaum Yahudi di masa rezim Hitler bukanlah kasus anti semit yang baru. Sudah sejak lama kebencian terhadap etnis Yahudi tertanam pada benak orang orang Eropa. Etnis Yahudi di Eropa saat itu bagaikan Etnis China di Indonesia saat ini. Orang orang Yahudi diberkahi kecerdasan luar biasa, terutama dalam hal ekonomi. Sampai sekarang pun tetap seperti itu, di masa nabi Muhammad, orang Yahudi dengan cerdiknya memanipulasi barang dagangan. Menampilkan sisi luar yang masih segar dan bagian dalam yang sudah membusuk. Karena itu, sistem ijon dilarang.
              Berbeda zaman, muncul lagi sistem riba. Meminjam uang dengan diberi bunga sekian persen. Dinasti Roshchild asal Frankurt Jerman, mampu menghutangi kerajaan Prancis maupun kerajaan Inggris bahkan mencampuri urusan politik gereja Vatikan hanya dengan cara ini. Sekarang ini muncul sistem kredit. Sistem manipulatif ciptaan orang Yahudi karena terinspirasi setelah secuil kesengsaraan dalam transaksi perdagangan. Pengembalian uang kembalian yang ribet membuatnya berpikir keras mencari cara yang lebih praktis. Ide ide brilian, betapa cerdasnya mereka. Orang Yahudi juga dikenal ulet, tekun serta pekerja keras. Ketika Kekaisaran Ottoman berada pada pucuk kebinasaan, semua sektor ekonomi makro dipegang oleh bisnismen Yahudi yang kaya raya. Proyek pembangunan kereta adalah dana pinjaman dari orang Yahudi Yunani, kemungkinan besar berasal dari Salonika.
“Ketika mereka tiba di sini di Turki, tanah yang dimurkai Allah dengan tidak memiliki beban berat, ketika mereka melihat perdamaian,ketenangan dan kelimpahan yang memegang kekuasaan di tanah ini dan ketika mereka melihat bahwa jarak Turki dan Yerusalem yang dekat dan dapat dilalui darat, mereka mengatasi semua keluhan dengan sukacita.”
              Dua Rabbi Yahudi, sekaligus turis asing terbelangah memandangi sekitar. Menelanjangi fakta yang ditutup tutupi karena alasan tertentu. Kebahagian terpanjat beriringan dengan rasa syukur. Dorongan perasaan yang sekejab meninggi, menggebu gebu menatap bayangan masa depan yang cerah bagi para pengikut pengikut setianya. Keduanya tak berhenti takjub.
“Dan mereka mengatakan: tanpa keraguan jika orang-orang Yahudi yang tinggal di Jerman tahu sepersepuluh dari berkat-berkat yang Tuhan telah berikan kepada umat-Nya Israel di negeri ini, baik salju atau hujan , baik siang maupun malam, akan menjadi konsekuensi sampai mereka berangkat kesini. Mereka telah meminta saya untuk menulis kepada orang-orang buangan, untuk komunitas Yahudi yang tinggal di Jerman, di kota-kota Swabia, Rhineland, Styria, Moravia dan Hongaria, untuk memberitahu mereka bagaimana menyenangkannya negara ini. [...] Ketika saya menyadari bahwa keinginan mereka yang tertarik, saya memutuskan untuk menyetujui permohonan mereka, karena aku ingin memberikan Israel kesempatan memperoleh tempat hidup bukan hanya gurun.”
            Undangan bagi orang orang Yahudi di tanah harapan, tanah kekuasaan Islam dibawah kekaisaran Turki Ottoman. Sebuah tempat yang nyaman dan tentram, tempat idaman yang aman dari bahaya. Kekaisaran Ottoman yang tengah menjadi Kerajaan Super Power. Paling ditakuti diseluruh penjuru dunia, tentara yang kuat dengan kekayaan alam yang melimpah. Menguasai sebagian besar laut mediteranian, lokasi perdagangan internasional yang amat menguntungkan. Tentu prospek harapan hidup yang menggiurkan bagi orang orang Yahudi. Mereka diterima baik, dihormati bahkan dapat menikmati hidup enak di jaman yang masih kacau. Pengungsi pengungsi Yahudi yang miskin pun diberikan tempat yang layak. Bagi imigran imigran ini diberikan pelayanan admnistrasi yang baik, meski sepenuhnya dari sukarelawan. Terkadang registrasi daftar kelompok Yahudi dalam satu atau kota lain direncanakan melalui sürgün. Kata Turki ini berarti pengasingan atau deportasi, atau pemindahan wajib dari satu tempat ke tempat lain. Sürgün adalah metode yang digunakan oleh Kerajaan Ottoman, diterapkan untuk individu atau keluarga, atau sekelompok individu atau keluarga, untuk sebuah suku nomaden, untuk seluruh populasi, kadang-kadang bahkan untuk seluruh kabupaten.
            Kekaisaran Ottoman menampung populasi besar Yahudi berbahasa Arab. Catatan Kerajaan Ottoman, musta’riba menjadi bukti penting kebaikan sultan. Penggunaan kata yang diarabkan tampaknya ulah pejabat Ottoman untuk membedakan orang orang Yahudi berbahasa Arab dari Suriah, Irak,Mesir, Yunani dan Turki atau berbahasa Spayol Yahudi yang lebih akrab bagi mereka. Ada beberapa kelompok yang jauh lebih kecil dari Yahudi berbahasa Kurdi dan berbahasa Arah. Mereka menempati daerah daerah terpencil. Informasi itu didapat dari sumber sumber arsip setempat yang sudah diterjemahkan, namun sumber sejarah itu tak menampilkan numerik signifikannya (jumlah), ini masih teka teki yang perlu dibuktikan kebenarannya.
            Gelombang imigran berdatangan setelah penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453, sejumlah besar orang Yahudi meminta izin sultan untuk tinggal di Ibukota Ottoman. Namun, Ibukota baru Ottoman itu sudah tidak menerima lagi. Istanbul sudah menampung komunitas Yahudi yang sudah melebihi batas. Mereka pun dibawa ke provinsi kedua yakni Anatolia dan semenanjung Balkan, dimana dapat dilihat dari catatan registrasi Ottoman, banyak kota yang hampir tak ada penduduk Yahudinya.
            Seratus atau mungkin lebih, keluarga Yahudi Genoa yang makmur, menempati kota Pera pada saat penaklukan rupanya mereka juga bergerak ke daerah Golden Horn lalu menuju kota tua Istanbul. Kota yang populasinya aktif secara ekonomi dan handal dalam politik. Tujuan mereka ingin ikut serta dalam peran dalam menjalankan roda ekonomi yang beresiko besar. Yahudi Genoa terkenal cerdas mengelolah keuangan, berbisnis dan berpolitik. Mereka sudah terlatih menghadapi bahaya yang seringkali menghadang didepannya. Semacam ancaman bagi para pedagang Kristen yang mungkin tidak puas.
            Laporan sensus kekaisaran Ottoman tahun 1477 M menunjukkan bahwa kota Istanbul pada waktu itu memiliki populasi 1.647 rumah tangga Yahudi, membentuk 11 persen dari total keseluruhan populasi penduduk kota Istanbul. Angka angka penghitungan jelas meningkat tajam setelah kedatangan orang orang Yahudi Iberia dan Italia, seperti yang ditunjukkan oleh perkiraan data di tahun tahun kemudian. Sebuah daftar sensus penduduk kekaisaran Ottoman untuk ibukota tahun 1535 M menunjukkan bahwa Kota Istanbul berisi 8.070 rumah tangga Yahudi.
            Pada tahun tahun terakhir abad kelima belas, seorang peziarah Jerman bernama Arnold von Harff memperkirakan jumlah orang orang Yahudi yang menempati Istanbul. Menurut turis asing itu, sekitar 36.000 orang Yahudi mendapat fasilitas tempat tinggal di Istabul. Meski agak diragukan keterangannya, karena mana mungkin orang yang numpang lewat bisa menghitung jumlah orang Yahudi hingga ribuan. Namun, dari situ dapat diketahui bahwa penduduk Yahudi di Istanbul sangatlah banyak.
            Pandangan sekilas dari peziarah ternyata bertolak belakang jauh dengan seorang musafir Spanyol. Musafir Spanyol ini datang setengah abad setelahnya. Sekitar pertengahan abad keenam belas turis asing ini mengunjungi ibukota Ottoman. Tanpa bekal ilmu demografi ataupun data sensus, dia mengarang brutal seperti Arnold von Harff. Agak aneh kalau, pengelana Spanyol ini memperkirakan penduduk Yahudi di Istanbul berjumlah 10.000 rumah tangga. Sementara itu, pedagang Inggris yang mengunjungi Istanbul tahun 1594 M. Kira kira setengah abad setelah keterangan musafir spanyol, turis berkebangsan inggris ini memberikan keterangan tentang orang orang Yahudi yang berurbanisasi ke Istanbul, setidaknya 150.000 orang, menurut dia wanita belum masuk hitungan dalam angka itu.
            Kebijakan baru diterapkan kekaisaran Ottoman di Salonika pada pergantian abad kelima belas menuju abad keenam belas.Salonika salah satu provinsi di Yunani bagian utara ini ditaklukan oleh tentara Ottoman lebih dulu daripada konstantinopel. Pasukan berjubah merah dengan keberanian luar biasa, maju tak gentar menundukkan kota Salonika di tahun 1430 M. Disana sudah ada komunitas Yahudi, sisa sisa Abad Pertengahan di Eropa. Mereka berasal dari kota Venetian, dibawah aturan Venetian yang berat menyebabkan orang orang Yahudi memilih untuk meninggalkan kota tersebut. Namun, anehnya menurut survey pertama yang dilakukan pemerintah Ottoman terhadap Salonika menunjukkan bahwa tidak ada orang Yahudi disana. Daftar survey tersebut hanya menunjukkan sejumlah besar Yunani beragama Kristen, sejumlah kecil orang Kristen Katolik, dan beberapa Muslim. Padahal Survei tersebut dilakukan sebelum gelombang imigran Yahudi dari Semenanjung Iberia datang. Tepatnya disusun di tahun 1478 M. Jika ada mungkin pihak Ottoman akan mentransfer mereka ke Ibukota sesuai dengan pola kebiasaan dari kebijakannya.
            Urain diatas memperlihatkan sikap terbuka pihak Kekaisaran Ottoman. Namun, aneh jika hanya kekaisaran Ottoman yang bercorak Islam saja mampu mewakili Islam secara keseluruhan. Muncul pertanyaan menyangkut sikap orang orang Muslim Turki terhadap orang orang Yahudi. Semuanya akan terjawab. Keterangan orang Yahudi atas perilaku dan sikap orang Muslim dapat dilacak, laporan pertama datang dari Rabbi Yahudi. Dalam sebuah surat dari Edirne yang terkenal, ditulis diparuh pertama abad kelima belas oleh seorang penulis yang mengambarkan dirinya sebagai seorang Yahudi Prancis yang lahir di Jerman dan menetap di Edirne.
            Lebih dari satu abad kemudian, seorang Yahudi Portugis bernama Samuel Usque menulis sebuah buku terkenal yang disebut The Consolation for the Tribulations of Israel (Penghiburan untuk kesengsaraan Israel), mengungkapkan pandangan serupa dengan Isaac Tzafati. Menurut Usque terdapat dua kategori penghiburan yang tertulis di bukunya. Kategori pertama adalah penghiburan duniawi dan kategori penghiburan kedua adalah penghiburan ilahi. Kenikmatan duniawi yang bisa didapatkan oleh orang orang Yahudi di Kekaisaran Ottoman. Kerajaan agung Muslim Turki. Kekaisaran yang mengusai tempat tempat strategis untuk perdagangan. Laut Merah sedang ramai ramainya. Roda ekonomi yang berputar cepat. Iming iming keuntungan perdagangan yang menggairahkan. Potensi yang tinggi dalam kesejahteraan dan kekayaan yang melimpah ruah. Ketika laut Mediterania masih menjadi pusat perdagangan internasional dunia. Pusat monopoli rempah rempah berskala global. Dimana rempah rempah dari Timur berkali kali berpindah tangan. Lokasi tumbuh suburnya saudagar saudagar kaya yang terampil dan professional dalam kegiatan jual beli.
            Orang orang Yahudi menatap masa depan yang cerah. Kehidupan yang lebih baik akan menjemputnya. Mereka senantiasa bersyukur atas rahmat-Nya. Selain itu, kenimatan ilahi bisa dirasakan kapan pun dan dimanapun. Turki adalah gerbang kebebasan yang selalu terbuka untuk ketaatan Yudaisme. Turki, tanah umat Islam menjadi tujuan hidup paling populer dikalangan orang orang Yahudi sekaligus kejutan yang menawarkan solusi hidup lebih nyaman.


Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.