Sebuah Aib di Balik Drama Sejarah Islam





Dunia Islam dirundung perang saudara. Peradaban Arab mengalami teror semenjak meninggalnya khalifah Utsman secara tragis. Ketika Ali menyingkirkan Thalhah dan Zubair dalam perebutan panggung politik kekhalifahan maka Hijaz dan Irak menolak mengakui kekhalifahan Ali. Aisyah, anak Abu Bakr sekaligus istri Nabi Muhammad melancarkan pemberontakan terhadap Ali, setelah mengkudeta Utsman bin Affan. Perang tak terelakkan lagi, tragedi memalukan dimana Aisyah menunggangi seekor unta dengan penuh amarah. Aisyah tertangkap menandai berakhirnya perang Jamal. Sementara Thalhah dan Zubair gugur dalam medan peperangan.
Kerabat Utsman dari Suriah menuntut kematian Utsman. Muawiyah yang cerdik memainkan emosi umat Islam dengan mempertontonkan baju Utsman yang terkena bercak bercak darah dan potongan jari tangan istrinya, Nailah yang putus ketika melindungi suaminya. Konflik keluarga yang sebenarnya urusan pribadi dialihkan keurusan umat Islam. Perebutan pengaruh dan penetuan provinsi manakah yang akan menerima mandat tertinggi dalam pemerintahan Islam. Apakah Kufah atau Damaskus, lebih luasnya Irak atau Suriah.
Medan perang sipil kedua berlangsung di dataran terbuka Shiffin, di tepi sungai Eufrat, sebelah selatan Raqqah. Saudara saudara Muhammad Ibn Abdullah mempeributkan warisan. Bentrokan berdarah antara Ali dan Muawiyah sangat sengit. Pertempuran orang orang Suriah dan orang orang Irak yang tidak jauh berbeda dengan konflik ISIS baru baru ini. Pertempuran yang berlarut larut itu hampir dimenangkan oleh Ali, namun berkat siasat licik Amr bin Ash, Muawiyah dapat terselamatkan dari kekalahan sia sia. Salinan Al Qur’an tertusuk ujung tombak dan diacung acungkan sebagai tanda untuk mengakhiri bentrokan senjata dan mengembalikan keputusan mutlak kepada Al Qur’an.
Ali menyetujui usulan Muawiyah, persoalan rumit berusaha dituntaskan dengan arbitrase. Muawiyah menunjuk sang politisi ulung bangsa Arab, Amr bin Ash sedangkan Ali memilih Abu Musa al- Asy’ari yang saleh tapi kurang loyal. Ali tidak menyadari arbitrase merugikannya sejak awal, memposisikan kedudukan Ali menjadi seperti Muawiyah yang hanya gubernur Suriah, sehingga Ali setara dengan Muawiyah sekaligus berdampak otoritasya jatuh akibat ulahnya yang merendah. Dokumen tertulis disepakati dihadapan 400 orang saksi, kedua arbiter mengadakan rapat umum pada bulan Januari 659 di Adhruh.
Diskusi berakhir dengan keputusan untuk melengserkan Ali dari jabatan Khalifah yang sebenarnya, sementara Muawiyah juga dilengserkan dari jabatan Khalifah fiktif yang diklaim sepihak olehnya. Tawaran arbitrase menyurutkan simpati sejumlah besar pendukung Ali, mereka memisahkan diri dan membentuk kelompok yang dikenal belakangan dengan sebutan Khawarij atau pembelot golongan beriman. Hasil rapat umum dalam dokumen tertulis, belum berani dipublikasikan sebelum kedua Arbitor sendiri yang mengemukakan didepan umum.Abu Musa mendahului Amr bin Ash, pria tua yang kolot, kaku serta konservatif dengan serius memecat orang yang memberinya amanah. Bertolak belakang dengan Amr bin Ash yang setia, dia mengkhianati keputusan arbitrase dan menetapkan Muawiyah sebagai khalifah umat Islam.
            Muawiyah dimuliakan selayaknya Syaikh, tetapi juga melambangkan karakter raja karena mempunyai panglima panglima setia.         Kebijakan pembaharu dilakukan Muawiyah dengan meninggalkan teokrasi murni Madinah dan mengubah sistem kekhalifahan menjadi sistem kerajaan yang meniru gaya Caesars Byzantium atau Shirvan Persia. Penerusnya yang ditunjuk adalah anaknya Yazid yang menyebelih Husain, cucu Nabi Muhammad sekaligus anak Ali bin Abi Thalib. Kepala Husain lepas dari tubuhnya yang terkubur secara terpisah di Karbala, lokasi pembantaian Husain dan 200 pengawalnya. Rombongan itu dikepung 4000 pasukan dibawah anak Saad Ibn Abi Waqqash, Umar. Husain yang menolak menyerah bahkan sampai akhir hayatnya menerima bekas luka disekujur tubuhnya, menginspirasi cerita cerita yang terlalu didramatisir.
            Muawiyah yang kontroversi dalam tradisi Islam, ternyata sangat berjasa dalam mengedalikan kekaisaran Islam dari perpecahan. Monarki Arab yang kacau beransur ansur membaik. Konsolidasi internal dan strategi politik yang cemerlang mampu memulihkan kekuatan Islam. Melebarkan sayap panji panji Islam dimulai kembali, ekspansi ke timur berhasil menaklukkan Khurasan (663-671 M), gelombang serbuan dari arah Bashrah menyebrangi Oxus dan menyerbu Bukhara di Turkistan. Orang orang Suriah yang loyal terhadapnya menjadi asset berharga, terutama persediaan tentara terlatih. Asia kecil yang dikuasai Romawi Timur, berada di utara Suriah dijadikan arena latihan tentara elit sehingga wilayah tersebut tidak pernah dibangun pijakan kokoh.
            Jendral Muawiyah Uqbah ibn Nafi’ berjasa membangun al Qayrawan (670 M), batu pijakan rentetan penaklukan spektakuler di Afrika Utara. Hassan ibn al Nu’man al Ghassani (693-700 M) melanjutkan tanggung jawab Uqbah ibn Nafi', dibawah naungannya pejuang pejuang Arab memaksa legiun legiun Byzantium keluar dari Karthago (698 M) dan kota kota pesisir laut Mediterania lainnya. Hassan memadamkan perlawanan rakyat Berber yang telah dimanipulasi oleh seorang peramal perempuan[1] dan menaklukan kembali Ifriqiyah yang bergejolak[2]. Stabilitas politik dan keamaan membuka kesempatan yang lebih luas bagi penerusnya Musa ibn Nushair[3]. Gubernur Afrika Utara ini berhasil mempersatukan seluruh Afrika Utara.
            Gerbang barat daya Eropa menyaksikan operasi militer Arab paling fenomenal. Serangan terakhir orang Arab yang menandai surutnya energi ekspansioner suku Arab yang fantastis.Operasi militer yang tergolong unik ini diawali pengintaian oleh Tharif. Orang kepercayaan Musa bin Nushair ini mendarat di semenanjung kecil yang kelak disebut Tarifa. Dengan membawa empat ratus infanteri dan seratus kavaleri, Tharif sukses mencaplok daratan di ujung paling selatan benua Eropa. Adanya konflik penguasa di kerajaan Spanyol Gothik Barat merupakan informasi berharga yang mendorong Thariq bin Ziyad memimpin 7000 pasukan gabungan Arab – Berber. Thariq bin Ziyad melewati gunung batu besar yang nantinya mengabadikan namanya, Jabal Thariq (lidah orang Eropa - Gilbraltar).
            Thariq merangsek terus hingga terhalau sejenak oleh 25.000 tentara Raja Roderick. Tentara bantuan yang meningkatkan kekuatan pasukannya menjadi 12.000 ternyata belum mampu melampaui jumlah pasukan musuhnya.  Mulut sungai Barbate di pesisir laguna Janda adalah arena berduel yang bersejarah. Pengkhianatan Uskup Oppas yang merupakan saudara Witiza, musuh politik Roderick yang ditumbangkan dari singgasananya mampu memutar kemungkinan kalah menjadi kemenangan. Batu kerikil yang menghambat sudah disingkirkan, pasukan mulim dengan leluasa melintasi kota kota Spanyol. Setiap kota ditundukkan cukup mudah, namun kota kota yang merupakan basis ksatria Gotik Barat harus mengeluarkan sedikit perjuangan.
            Prajurit gabungan menghancurkan perlawanan sengit di Ecija, lalu bergerak menuju Toledo. Disana terjadi pengkhiantan sejumlah penduduk Yahudi sehingga kota pun dikuasai. Operasi militer berlanjut dengan menyebarkan pasukannya ke kota kota tetangga. Pasukan pertama menduduki Arkidona tanpa mendapat perlawanan, sedangkan pasukan merebut Elvira tanpa menemui kesulitan. Pasukan ketiga yang terdiri atas kavaleri yang dikomandoi orang Romawi, Mughith al Rumi yang mengepung Kordoba selama 2 bulan lamanya. Kordoba menyerah kepada penguasa baru setelah pengkhianatan seorang penggembala yang menunjukkan jalan terobosan dinding benteng. Sementara Malaga diambil alih dengan mudah. Hari hari penutupan musim panas adalah saksi separuh wilayah Spanyol lepas dari cengkraman Gothik Barat. Musa ibn Nushair tidak menyangka Thariq bin Ziyad bisa menelurkan prestasi luar biasa.
            Gengsi Musa ibn Nushair karena tidak mau kalah dengan letnannya membuatnya nekat memimpin 10.000 tentara gabungan Arab- Arab Suriah (712 M). Medina Sidon, Carmona dan Seville yang dikelilingi benteng benteng kokoh adalah target yang dibidik Musa bin Nushair. Ribuan pasukan Arab mencaplok kota kota yang dihindari Thariq bin Ziyad. Musa ibn Nushair susah payah menaklukkan Seville yang menyambutnya dengan perlawanan gigih. Thariq dan Musa bertemu di dekat Toledo, Musa mencambuk bawahannya dengan rantai sebab tidak mematuhi perintahnya untuk berhenti sejenak. Namun, Musa bin Nushair mendapat perintah untuk kembali ke Damaskus. Khalifah Al- Walid menuduh Musa bin Nushair seperti halnya dia menuduh Thariq bin Ziyad. Meskipun Musa bin Nushair berusaha menjilat atasanya dengan menggiring empat ratus pangeran Gothik Barat yang masing masing mengenakan mahkota dan korset yang berhiaskan emas, serta rombongan budak budak, rampasan perang yang melimpah dan tawanan tawanan lain, tetap saja Jendral hebat ini harus menerima hukuman.
            Musa bin Nushair mendapat hukuman berdiri sampai kelelahan dibawah terik matahari sekaligus dicabut otoritasnya serta menyita seluruh asset kekayaannya. Penerus al Walid lah yang menceburkannya di jurang paling hina, penakluk Afrika Utara dan Spanyol yang kini beranjak tua harus menjalani kehidupan sebagai seorang pengemis di sebuah desa terpencil di kawasan Hijaz, Wadi al Qura. Seakan tidak peduli dengan nasib Musa bin Nushair, tentara Arab- Berber malah keasyikan mencaplok Saragossa, dataran tinggi Aragon, Leon, Asturia dan Galicia. Persengketaan tanah antara pengklaim tanah nenek moyang dan pendatang baru masih terus berkelanjutan. Titik terjauh telah diresmikan, pembawa panji panji Muhammad telah mencapai perhentian alamiahnya dan sudah kehilangan momentum serta kehabisan tenaga. Seratus tahun wafatnya Rasulullah diperingati oleh beragam kesuksesan yang telah melahirkan imperium Damaskus yang terbentang dari China hingga Gaul.
            Rentetan kemenangan cemerlang yang diraih karena situasi yang mendukung. Penguasa Gothik yang angkuh masih berjuang membinasakan suku Suevi dan Vandal, kedua suku barbar pendahulunya seringkali menjadi duri. Penguasa Gothik yang kejam acapkali memperbudak penduduknya, selalu memaksakan kehendak yang mengekang kebebasan beragama. Kaum Gothik yang sarat akan bid’ah sangat dibenci rakyat, menyedot rakyatnya bagaikan linta darat. Minoritas Yahudi yang teraniaya adalah pembelot utama. Dekrit kerajaan yang memaksa pindah agama dan penyitaan kekayaan secara sepihak telah membuat minoritas terasing ini mengutuk penguasa Gothik. Selain itu, pertikaian politik dalam internal istana dan semangat heroik tentara Arab – Berber yang berani mati merupakan kunci sukses dari kegemilangan peradaban Islam.
           



[1] Peramal perempuan terbunuh oleh pengkhianatan pengikutnya sendiri, dibunuh di dekat sungai yang kemudian dikenal sebagai Bi’r al-Kahinah, (kahinah, perempuan peramal dari bahasa Arab). Menurut cerita rakyat dia memakai kekuatan gaib untuk mendapatkan pengikut, ada benarnya ketika membicarakan orang orang berber dalam konteks saat itu yang masih menyakini agama pagan.
[2] Ifriqiyah beberapa kali melepaskan diri dari cengkraman penjajah Arab, sebelum Uqbah ibn Nafi’ menerobos masuk Afrika utara hingga laut menghentikan laju kudanya dan meninggal di Biskra, Aljazair, dia menaklukan kembali Mesir dan Ifriqiyah yang pernah dikuasai Amr bin Ash.
[3] Musa ibn Nusair adalah cucu dari Ishaq, seorang penulis biografi Muhammad ibn Abdullah, dia penganut Kristen yang ditawan oleh Khalid bin Walid ketika sedang membaca injil di gereja Ayn al Tamr. 

0 komentar:

Posting Komentar

Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.