The reason for the large number of Jewish inhabitants is this, that
it was the
original homeland of the Children of Israel and – saving the
comparison! – their
Ka‘ba and House of Sorrows ~ Evliya Celebi
~ 1516 – 1579 M ~
Setelah banjir besar yang
menenggelamkan umat (nabi) Nuh A.s. Bencana dashyat ini menyisakan segelintir
pengikut (nabi) Nuh A.s. Shem anak (nabi) Nuh A.s mendirikan pemukiman pertama
di Kafr Nahon. Sebuah daerah kecil di Safed yang terletak di provinsi Kanaan.
Penghuninya adalah orang orang Yahudi pimpinan Shem. Daerah kecil ini menjelma
menjadi kerajaan orang orang Yahudi. Sampat saat kepemimpinan dipegang oleh
Jacob (nabi Yakub A.s) kota Safed tetap menjadi kota makmur. Kemakmuran kota
Safed jauh melebihi kota kota orang Yahudi lainnya seperti Zagzaga, Yerusalem,
Tiberias, Askalon dan Hasan (Bilbays) yang tidak begitu makmur. Itu karena kota
legendaris yang penuh akan nilai historis ini memiliki berbagai peninggalan
peninggalan dari leluhur mereka berupa kuil kuil kuno. Kota ini telah menjadi
Ka’bah bagi orang orang Yahudi. Seperti layaknya kota Mekkah yang tandus, namun
masuk nominasi kota kaya raya, karena sebab yang sama yakni tempat wisata
religi.
Kota Safed bagi masyarakat Yahudi
memang seperti Kota Mekkah bagi masyarakat Muslim. Keduanya mempunyai ikon
historis yang memberi kemakmuran luar biasa. Menarik wisatawan dari daya tarik
religius, Kuli kuno di kota Safed sudah menjadi objek wisata religi sejak
kepemimpinan Shem, begitu pun Ka’bah yang sudah menjadi objek wisata religi
sejak peradaban Arab kuno. Kedua kota tersebut nyatanya tetap eksis hingga
sekarang. Pemandangan mistis melekat pada bangunan bangunan kuno disana. Mistis
kabbalah yang populer juga berasal dari tempat ini. Seperti kebanyakan kota
kota tua di Timur Tengah, Kota Safed juga sering berganti ganti penguasa.
Namun, meskipun begitu orang Yahudi di Safed menjadi mayoritas Yahudi yang
kaya. Sejarah orang Yahudi di Safed berubah drastis tergantung kebijakan
sultan, ketika kota ini dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman.
Semua itu berawal dari para pelaut
Portugis berlayar meraungi hamparan samudera yang luas. Keberhasilan penaklukan
kembali tanah leluhur atas penguasa Arab – Berber berbuah malapetaka. Kerajaan
kerajaan Timur bercorak Islam memusuhi bangsa yang baru bangkit dari
keterpurukan. Sebuah misi mereka emban. Misi pencarian sumber rempah rempah
yang selama ini dimonopoli pedagang Arab. Misi besar yang berjalan bertahun
tahun lamanya mendapat tantangan keras. Usaha Portugis dapat menghancurkan
monopoli perdagangan rempah rempah di laut Mediterania. Banyak pihak yang
dirugikan. Gilda gilda negara kota di sepanjang pantai Italia yang bermusuhan
seketika berubah menjadi kawan. Begitu pula, Kekaisaran Ottoman (Dinasti
Utsmaniyah) dan Kekaisaran Mamluk. Mereka semua bekerja sama dalam menghacurkan
Portugis.
Warisan
kekayaan dan keilmuan dari orang orang Arab terutama dibidang navigasi kelautan
menjadi keberuntungan bagi Portugis. Pelayaran pertama yang terdampar di
Tanjung Harapan (Afrika Selatan) bukan hal yang bodoh. Itu adalah gebrakan
besar dalam memusnahkan mitos konyol orang Eropa. Keluar dari zona nyaman yang
menganggap dunia hanya sebatas benua Eropa, Afrika Utara dan Timur Tengah
selebihnya akan menghilang. Penemuan Rute ke India dengan menyusuri pantai
timur Afrika oleh Portugis adalah mimpi buruk Kekaisaran Ottoman. Kerajaan
Mamluk mulai merasakan kemerosotan pendapatan. Kesulitan ekonomi kerajaan ini
sudah sangat parah, apalagi kontribusi pelabuhan Alexandria dalam keuangan
semakin berkurang.
Portugis membuka pasar rempah rempah
di Lisbon dengan harga yang jauh lebih murah. Orang orang Eropa berbondong
bondong membeli rempah rempah ke para pelaut Portugis. Aktivitas dagang dan
militer Portugis mengancam Laut Merah dan tempat tempat suci Islam di Hijaz.
Kerajaan Mamluk kebingungan, tidak sanggup mengambil sikap melawan karena tidak
mengembangkan angkatan laut. Kerajaan ini meminta pertolongan Kerajaan Ottoman.
Bantuan laut pun datang membantu. Sementara itu, kekuatan lain mulai bangkit,
dinasti Syi’ah Safavid (Safawi) di Persia (Iran) bersatu dibawah Ismail Shah.
Kekaisaran Ottoman khawatir akan
terjadi aliansi untuk melawannya. Aliansi yang dibangun oleh Safavid bersama
suku suku Turkoman (suku suku Turki Seljuk yang terpecah pecah) di Anatolia dan
Mamluk. Selim I yang selalu menampilkan muka muram membantai Turkoman yang
menjadi simpatisan Safavid. Dia menggantikan ayahnya Sultan Beyezid II, anak
dari penakluk kota Konstantinople. Kedigdayaan tentara Selim tergambar dari
kemenangannya melawan Isma’il dalam pertempuran Chaldiran di Azerbaijan tahu
1514 M.
Selim I curiga akan kemungkinan perjanjian Mamluk Safavid.
Kecurigaan yang berasal dari ketakutan itu berbuah tindakan Selim I yang
memimpin pasukannya menuju Suriah Utara, tindakan yang belum memiliki tujuan
jelas ini menyebabkan Mamluk mengambil langkah devensif. Dibawah Sultan Qansawh
al Ghawri, tentara Mamluk bergerak maju menuju perbatasan Suriah – Ottoman.
Langkah maju tidak biasa yang membenarkan keputusan untuk mendeklarasikan
perang. Pertempuran pun terjadi secara singkat pada bulan Agustus 1516 M di
daratan Marj Dabiq, utara kota Aleppo. Tentara Mamluk dikalahkan dengan mudah,
Sultan Mamluk meninggal di Medan Pertempuran, entah terbunuh atau kemungkinan
terkena stroke. Senjata api Ottoman dengan tentara elit Jennissarinya
memberikan keunggulan penuh atas Mamluk. Kemenangan yang sudah pasti,
perbedaaan jumlah tentara, sekitar 60.000 tentara Ottoman berhadapan dengan
20.000 tentara Mamluk. Apalagi ketika berlangsung peperangan, Gubernur Aleppo
Kha’ir Bey berkhianat, sebagian sayap kanan tentara Mamluk membelot dan
bergabung dalam pertempuran di pihak Ottoman. Sayap kanan yang memerankan peran
penting malah kocar kacir dan sebagian darinya bergabung dengan pasukan Selim.
Rencana keji, pengkhianatan yang telah disepakati sebelumnya. Mental tentara Mamluk hancur,
barisan tentara terpecah belah. Ketakutan membuat mereka melarikan diri dari
keganasan medan pertempuran sedangkan tentara Ottoman dengan percaya diri
mengejar serta membantai mereka.
Kekaisaran
Ottoman dengan mudah merebut semua provinsi di Suriah termasuk kota Safed. Kota
penting kaum Yahudi yang kurang terkenal dibanding Jerussalem. Sultan menjaga
kota Safed, tidak ada penjarahan maupun pengerusakan terhadap kuil kuil kuno
atau pemukiman pemukiman penduduk. Sebagai gantinya, berdasarkan daftar catatan
Tavaşi Sinan Pasha 600.000 orang Yahudi dikenakan pajak haraq. Kenyataannya
pajak haraq jauh meringankan orang orang Yahudi ketimbang pajak dari kerajaan
pimpinan mantan budak (Mamluk) yang memberatkan karena faktor korupsi yang
sudah terlanjur membudaya. Sampai hari ini antara tujuh dan delapan puluh ribu
orang Yahudi masih tinggal di sini, rumah rumah mereka masih mempertahankan
arsitektur kuno. Kesan klasik yang membekas merupakan keunikan kota ini. Kota
Safed adalah tempat berhaji orang Yahudi selayaknya Kota Mekkah bagi orang
Muslim. Sebagaimana ritual ritual ketika berhaji di Mekkah bagi umat muslim
yang mengusung kegiatan kegiatan seperti mengelilingi Ka’bah, bermukim di Mina,
memotong rambut dan lain lain.
Gambar
4.1 City of Safed by Yidzi
Source : National Geographic
Menurut kenyakinan mereka, sia sia
bagi seorang Yahudi mengaku dirinya bagian dari kaum Yahudi, namun dia tidak
mengunjungi kota Safed meskipun hanya sekali dalam hidupya, jika tidak mampu
melakukannya, dia tidak bisa mengosok wajahnya dengan debu (debu suci asli kota
Safed), minum minuman dari air (air suci asli kota Safed; seperti air zam zam
di Mekah bagi orang muslim) atau tidak bisa mengasapi dirinya dengan (asap
dari) daun musim gugur dari pohon disana. Kota tua bangsa Yahudi, sangat
bersejarah dengan bangunan bangunan suci yang masih terawat. Dalam Buku Book of
Travels dealing with the Hajj Jilid 9 tertulis catatan rinci dari semua kuil dari
putra dan putri Yakub dan Bani Ismail. Rumah duka keluarga Yakub, rumah rumah
Efraim anak Yusuf, rumah Ishak, rumah Ismail dan rumah Ayub serta seribu
catatan catatan lainnya.
Kota Makmur ini menjadi tujuan utama
bagi imigran imigran miskin Yahudi. Mereka berkeinganan merubah nasib hidup
dengan bertempat tinggal di Kota Safed. Mereka mendengar isu kebijakan
kekaisaran Ottoman untuk orang Yahudi di Kota Safed menuai kontroversi.
Kebijakan Ottoman untuk memindah orang orang Yahudi dari Kota Safed ke kota Kristen
yang baru ditaklukannya. Upaya pemerataan penduduk untuk mengurangi ketimpangan
populasi. Orang orang Yahudi kadang dibujuk atau dipaksa untuk pergi kesana.
Kebijakan Sultan ini kiranya sangat mementingkan kesejahteraan bersama, namun
pastinya mendapat perlawanan elit politik kota yang mempunyai kepentingan.
Apalagi orang orang Yahudi di Kota Safed kaya raya karena keuntungan bertempat
tinggal di pusat wisata religi.
Menurut keterangan penjelajah Ottoman
Evliya Celebi, 12.000 orang Yahudi pernah tinggal di Safed, tetapi pada saat
ini (September 1648) jumlah mereka hanya 2.000 jiwa.[1]
Kota Safed memiliki tiga Bedestans (Pasar berciri khas Ottoman), dua
diantaranya kosong karena penduduknya menutup toko toko dan beralih menyewakan
penginapan bagi wisatawan. Akan tetapi, dari Sinan Pasha yang terletak di dekat
Masjid Sheikh Ni’ma terus berkembang. Bedestan tersebut dalam kondisi baik,
lima belas anak tangga batu dan pintu besi menyambut pembeli. Bedestan Sinan
Pasha terdiri dari dua puluh toko berdinding batu.
Semua barang berharga dapat ditemukan
di Kota Safed, selain dari Bedestan Sinan Pasha masih terdapat 120 toko yang
bisa dijumpai. Rumah rumah di Safed dibangun dari Ashlar putih dan kontruksi
kayu hanya digunakan pada pintu saja. Istana Pasha merupakan bangun terindah
disana. Bangunan kokoh dan penuh hiasan berisi tujuh puluh ruangan disediakan
untuk kediaman gubernur. Suasana gunung yang sejuk dengan cuaca dan iklim yang
mendukung perkebunan perkebunan zaitun dan murbei. Lembah Lamyun yang menawan,
Danau Minya yang memukau dan ratusan gua eksotis, belum lagi taman taman
hiburan yang turut mempercantik pemandangan Kota Safed. Mata air Melikü't-Tahir
(al-Zahir Baybars) mengalir menuruni perbukitan sekitar kota melengkapi surga
dunia yang kerapkali disengketakan penguasa penguasa dari berbagai kerajaan.
Konflik berdarah, penindasan, perampasan, pembantai acapkali mewarnai Kota
Safed yang penuh kenangan sejarah.
Mayoritas penghuni kota megah ini
adalah orang Yahudi. Umat Islam di Safed merupakan minoritas dari suku Kurdi.
Semua orang mengenakan jubah bergaris. Anak laki laki dan anak anak perempuan
memakai pakaian yang indah. Penutup kepala berwarna putih lazim dikenakan oleh
kaum hawa. Berbagai jenis makanan dan minuman tersedia, dari roti putih, buah zaitun
hinnga madu murni. Kerajinan tangan berupa killim, laken (felts) dan karpet
sholat berkembang pesat. Ketika penaklukan Rhodes (1523 M) dan Siprus (1571 M)
diikuti oleh perintah Sultan untuk mengirim orang orang Yahudi ke provinsi
provinsi yang baru diperolehnya itu. Pendokumentasian arsip yang baik merupakan
kasus menarik yang membuktikan keseriusan pihak kerajaan. Dalam periode penuh
kegemilangan ini, setelah penaklukan wilayah selalu disertai sejumlah perintah
deportasi untuk transfer penduduk. Dalam kasus Siprus, pihak kerajaan berusaha
untuk mengirim petani Turki yang beragama Islam sehingga tidak melulu orang
Kristen dan Yahudi.
Pihak kerajaan juga memberikan
perintah untuk memindahkan Turcoman (Suku Turki Nomaden dari Anatolia) untuk
menjaga persediaan peningkatan pemasokan hewan untuk makanan dan transportasi
dan memastikan tetap aman ditangan orang muslim. Sekitar tahun 1576 M dan tahun
tahun seterusnya, orang Yahudi bergiliran dikirim ke Siprus dari berbagai
daerah kekuasaan kekaisaran Ottoman. Gubernur Sanjak dari Safed, Palestina
mendapat perintah untuk mengirim 1000 orang Yahudi yang kaya dan makmur beserta
properti dan keluarga mereka untuk bertransmigrasi ke Siprus. Satu tahun
kemudian, tepatnya tahun 1577 M, 500 keluarga Yahudi dari orang orang kaya di
Safed ditransfer ke Siprus.
Sebuah dokumen membicarakan
gubernur Siprus, dokumen yang memberitahukan bahwa orang orang Yahudi akan tiba
di Siprus. Gubernur ini diperintah oleh orang orang Yahudi untuk membuat
pemukiman khusus untuk mereka. Kalimat yang menarik terdapat diawal perintah:
“Dalam
kepentingan pulau Siprus, Yang Mulia memerintahkan saya dalam tulisannya . . .
untuk mengirim 500 keluarga dari orang orang Yahudi dari Safed. Tujuannya
adalah untuk melayani kepentingan pulau yang berarti tentu saja kepentingan
negara Ottoman di pulau Siprus ini”
Gubernur Safed diperingatkan bahwa
dia harus mengirim Yahudi kaya bukan yang miskin. Tertulis dalam surat perintah
langsung dari Istanbul.
“Dalam
mendaftarkan orang Yahudi dalam jumlah yang sudah ditentukan, jika ada yang
diterima atau dikeluarkan dari pendaftaran harus sesuai, mereka yang diambil
harus dari orang Yahudi yang kaya bukan yang miskin, alasan anda dalam bentuk
apapun tidak akan diterima…”
Gubernur Siprus lebih lanjut
diperingatkan bahwa ia tidak hanya akan diberhentikan bila melanggar tapi juga
akan dihukum berat. Kenyataannya orang orang Yahudi dari Safed sebenarnya tidak
dikirim. Mereka memiliki teman berpengaruh di Istanbul, sangat disayangkan jika
bukan suatu yang mengejutkan pihak berwenang mampu terbujuk untuk menjatuhkan
proposal ini. Meski begitu semua itu tidak tercatat dalam arsip Kerajaan
Ottoman dimana pun, akan tetapi bukti kongkrit terdapat pada pendataan penduduk
Siprus ditahun sesudahnya (1579 M). Gubernur Siprus yang tampaknya sangat cemas
berusaha mencari jalan keluar. Masalah pelik yang dideritanya ketika dia
diberikan jabatan Gubernur di kota yang baru ditaklukan.
Informasi tentang beberapa imigran
imigran gelap Yahudi yang ingin berpindah tempat tinggal di Kota Makmur Safed
terdengar ditelinga Gubernur Siprus. Baginya itu adalah berkah untuk
menyelesaikan masalahnya. Dia memerintahkan bawahannya mencegat beberapa orang
Yahudi yang sedang dalam perjalanan dari Salonika ke Safed. Perjalanan dari
Kota Salonika ke Kota Safed harus menempuh rute laut. Pulau Siprus yang berada
jalur laut rute imigran imigran Yahudi ini, akhirnya anak buah Gubernur Siprus
menangkap mereka dan memberikan tempat tinggal yang layak. Orang orang Yahudi
miskin ini beruntung dapat diberikan pemukiman yang layak huni di pulau Siprus.
Mereka juga mendapatkan jaminan keamanan, keberuntungan yang tidak biasa di
zaman itu bagi orang orang Yahudi. Orang orang Yahudi ini nantinya akan
memainkan peran penting dalam pengembangan perdagangan maritim kekaisaran
Ottoman.
[1]
Evliya Celebi menggunakan metode wawancara untuk menghasilkan sejarah lisan.
Mengenai keakuratan data memang perlu dikritik namun itu sudah menunjukkan
gambaran umumnya.

0 komentar:
Posting Komentar