Sadar Arsip sebagai Kontribusi Membangun Peradaban




Ketika usai membaca buku sejarah, sesuatu mengganjal dibenakku. Pertanyaan sederhana mengenai mengapa sejarah harus bermula dari Yunani kuno? Peradaban yang melahirkan banyak manusia bijak yang gagasannya masih dikutip hingga sekarang. Pertanyaan selanjutnya muncul, apakah nenek moyang orang Nusantara tidak memiliki peradaban yang penuh oleh manusia bijak. Seharusnya memang ada, seluruh kebijakannya lenyap pudar dalam kabut sejarah. Keganasan waktu menelan itu semua tanpa belas kasihan hingga menyisakan apa yang dinamakan kebijakan setempat atau kearifan lokal.
Semua kearifan lokal berasal dari tradisi lisan yang tidak menyebutkan siapa penuturnya. Dari sini, kita mengetahui bahwa ukuran sebuah peradaban yang sudah terkonstruksi dalam pemikiran global adalah karya tulis. Salah satu manusia kuno yang bijak yaitu Herodotus yang mewariskan quote sederhana “Aku menulis untuk mengabadikan seluruh tindakan manusia”. Bapak sejarah itu merekam peristiwa yang ditemui sehingga tulisannya sekarang menjadi arsip penting. Akibat dari manusia manusia bijak seperti Herodutus dkk yang meninggalkan karya tulis adalah penobatan Yunani kuno sebagai pusat peradaban dan intelektual tertua.
            Rekam jejak kegemilangan Yunani kuno dapat ditelusuri berkat adanya arsip. Oleh karena itu, arsip merupakan memori kolektif masyarakat. Diary kehidupan masyarakat yang berhasil terdokumentasi dengan baik akan mampu mengkisahkan ulang kenangan masa lampau. Elie Wiesel bahkan dengan keras mengatakan “Without memory, there is no culture. Without memory, there would be no civilization, no society, no future. Ungkapan Elie Wiesel memberikan pemahaman bahwa pelestarian memori sangatlah penting untuk keperluan eksistensi identitas sebagai suatu budaya, masyarakat, peradaban maupun demi mengisi jawaban pertanyaan masa lalu ketika sudah berada di masa depan.
Memori Kolektif
Setiap individu membutuhkan identitas. Untuk memperolehnya mereka akan mengorek ngorek memori masa lalunya, begitu pula masyarakat. Individu dan masyarakat adalah komponen sosial yang tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi dan tidak berseberangan. Setiap manusia adalah bagian dari masyarakat sehingga memori individu juga merupakan memori masyarakat. Memori masyarakat terdiri dari gabungan dari memori memori individu. Jadi dapat pula disebut memori kolektif. Istilah memori berasal dari Yunani kuno, diangkat dari nama ibu dari sembilan dewi, Mnemosin. Ibu dari sembilan dewi mengkiaskan sebagai induk segala seni. Bahasa Latin pun menyerapnya menjadi memor-oris atau ia yang mengingat.
Menurut Fernando Baez, adanya memori menyebabkan teks arsip bisa dilihat sebagai patrimonium budaya. Pakar perbukuan asal Venezuela ini berusaha mencermati hubungan memori dengan patrimonium budaya melalui kajian Historio-Linguistik.  Patrimonium juga berasal dari bahasa Yunani Padre berarti Ayah dan kata kerja moneo yang diterjemahkan sebagai mengingat. Maka secara harfiah partrimonium berarti yang diingat oleh ayah. Patrimonium budaya yang berperan sebagai ayah dan Mnemosin sebagai ibu. Patrimonium budaya berupa perpustakaan, arsip dan museum sedangkan Mnemosin adalah gudang memorinya yang akan melahirkan memori memori lainnya. Keduanya merupakan bentuk dari identitas masyarakat, bangsa, negara maupun peradaban. Oleh karena itu, pelestarian arsip yang sesuai dengan prosedur, ketentuan dan tata tertib yang berlaku bisa dikatakan sebagai upaya menjaga identitas masyarakat, bangsa maupun negara dengan tujuan akhir membangun peradaban.
Konservasi Arsip untuk mencegah Amnesia Publik
            Manusia adalah sekumpulan ingatan. Dokumentasi ingatan terdiri dari dua macam, tulisan dan lisan. Tulisan bersifat statis sedangkan lisan bersifat dinamis. Arsip merupakan dokumentasi ingatan jangka panjang berupa tulisan. Sementara itu, tradisi lisan merupakan ingatan jangka pendek yang seiring waktu dapat berubah tergantung keadaan, kualitas otak dan daya ingat. Tradisi lisan menguat akibat budaya menulis yang lemah, kegemaran merumpi, meggosip serta isu yang sambil lalu. Sewaktu waktu ingatan jangka pendek tersebut akan benar benar musnah dalam memori kolektif masyarakat.
Sebuah fenomena amnesia publik sehingga peristiwa sejarah benar benar diragukan atau bahkan dianggap tidak pernah terjadi. Amnesia publik merupakan suatu istilah dimana semua orang serentak melupakan “sesuatu” dalam sejarah. Ketika itu terjadi maka “sesuatu” dalam sejarah tersebut akan benar benar dianggap tidak pernah terjadi. Semisal tidak ada satu pun kronik, prasasti ataupun arsip lainnya yang mengkabarkan keberadaan kerajaan Majapahit, maka sebanyak apapun peninggalannya tetap saja akan menjadi komponen yang tidak teridentifikasi. Tidak teridentifikasi karena tidak ada keterangan, atau keterangan lain yang bukan dari kerajaan Majapahit mampu mengklaim hal tersebut. Itulah keunggulan sebuah arsip (dokumen, manuskrip, babad, kronik dll) daripada peninggalan fisik (reruntuhan, lukisan, arca, candi, fosil dll) maupun lisan (dongeng, legenda, epik, mitos dll).
            Dunia akademis bahkan memberikan stigma bagi dua macam dokumentasi ingatan ini. Tradisi tulis menulis merupakan indikasi kemajuan peradaban. Oleh karena itu, menulis adalah sarana untuk berkontribusi kepada kemajuan peradaban. Universitas universitas didirikan untuk melawan tradisi lisan sekaligus mendokumentasikan seluruh tradisi lisan. Sementara itu, tradisi lisan dalam dunia akademis merupakan simbol keprimitifan atau keterbelakangan. Jadi sadar arsip bisa menjadi perilaku positif yang menunjukkan kontribusi membangun peradaban. Masyarakat yang sadar arsip memahami bahwa arsip adalah memori kolektif mereka. Eksistensi dan identitas serta warisan budaya yang menandakan bahwa mereka ada. Arsip adalah kebanggaan masyarakat yang telah berlalu. Arsip memang seperti tanda bukti kehadiran. Ketakutan paling mendalam setiap orang adalah dilupakan, sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh nenek moyang kita. Arsip mencegah keberadaannya menghilang begitu saja dalam perputaran roda sejarah.
Mengabadikan Memori
            Arsip adalah kronik memori dengan periode temporal yang bermacam macam sehingga arsip bisa disebut juga sebagai catatan kemajuan. Manusia selalu mengalami kemajuan. Manusia modern dengan manusia purba jelas berbeda meskipun Tuhan memberikan otak yang sama. Manusia sekarang dengan manusia yang hidup dua juta tahun yang lalu dapat dikatakan mempunyai porsi kemampuan berpikir bawaan yang sama. Namun, efektivitas pemikiran manusia modern sudah melampaui manusia purba berkali kali lipat karena dari generasi kegenerasi transfer pengalaman kerap kali dilakukan. Dari generasi ke generasi juga terus mengalami perkembangan dengan adanya inovasi inovasi baru. Manusia selalu berpikir cara yang lebih mudah dalam mengeksploitasi atau memanfaatkan apapun. Jika menurut Ibnu Khaldun, pondasi dasar sesuatu peradaban adalah pikiran (mengelolah kreativitas) dan tangan manusia (keterampilan) yang melahirkan keahlihan keahlian kemudian membangkitkan perekenomian dengan produk yang beraneka ragam, maka sejarah baginya adalah sebuah kemajuan yang diperoleh dari pewarisan keahlian keahlian yang berjalan turun temurun dari generasi ke generasi. Karena sejarah sebagai besar bersumber dari arsip maka melalui arsip pula alur kemajuan dapat dilacak.
            Memperlajari sejarah seakan akan melihat proses perkembangan manusia sehingga pembaca akan memahami bahwa dibutuhkan inovasi untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Tidak mengherankan jikalau pengusaha milyader sekaligus calon presiden Amerika Serikat yakni Donald Trump, dalam buku Why We Want You to be Rich menyarankan membaca buku sejarah apapun meskipun dia belum sepenuhnya paham manfaatnya. Oleh sebab itu, pengarsipan yang merupakan bentuk dari usaha mengabadikan memori menjadi sangat penting. Dalam rangka menjaga atau melestarikan memori kolektif, pemerintah Indonesia membentuk ANRI untuk menyediakan fasilitas dan layanan yang berkaitan langsung dengan arsip. ANRI sebagai badan yang bertugas melakukan konservasi arsip harus mematuhi tata tertib pengarsipan. Cagar memori ini diharapkan mampu menjaga memori kolektif bangsa Indonesia dengan selalu istiqomah menjalankan tugas mulianya.

0 komentar:

Posting Komentar

Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.