Tampilkan postingan dengan label Amr bin Ash. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amr bin Ash. Tampilkan semua postingan

Napoleon Arab





            Terik matahari yang menyengat. Padang pasir kering berdebu. Kafilah kafilah berjubah kumal berjalan menuntun unta, pundak unta dipenuhi barang dagangan yang berat. Melaju memanjang, unta unta itu patuh membuntuti tuannya. Menyisakan jejak kaki sepanjang rute yang membakar kulit. Konon jalur kuno itu disebut jalur sutra. Lintasan tradisional yang melewati dua Kekaisaran digjaya pada periode klasik, Kekaisaran Sasanid Persia dan rival abadinya Kekaisaran Byzantium. Pertempuran akbar seringkali terjadi di daerah perbatasan, Provinsi Irak sebagai perbatasan Kekaisaran Sasanid sedangkan Suriah sebagai perbatasan Kekaisaran Byzantium. Mengingatkan saya akan konflik Kekaisaran Ottoman, Suleyman The Magnificient melawan Shah Thamasp I dari Kekaisaran Safavid, bahkan rentan konflik hingga periode kontemporer dengan mencuatnya ISIS.
          Orang orang Persia, bukanlah rumput semit seperti halnya Arab atau Yahudi. Mereka adalah suku bangsa Arya yang gemar berperang. Bangsa Arya menikmati eksistensi berabad abad dan mewakili kekuatan militer yang disiplin, terorganisir dengan baik dan penguasa tanah Sabit Subur[1]. Demikian pula, orang orang Romawi sudah melegenda melahirkan legiun legiun gagah berani, administrator ulung dan penguasa Laut Mediterania. Kedua kekaisaran hasil kelahiran kembali dari kekaisaran kuno yang pernah berjaya. Byzantium adalah kekaisaran Romawi yang tersisa semenjak kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat yang berpusat di Roma sedangkan Sasanid merupakan kekaisaran yang dibangun kembali oleh bangsa Persia diatas puing puing reruntuhan kekaisaran Persia, yang hancur akibat ekspansi Alexander Agung yang memukau.
         Perseteruan selama 400 tahun berakhir dengan perjanjian damai. Kekaisaran Romawi Timur berpindah fokus ke masalah Eropa yang kerap kali di terror oleh suku suku Jermanik yang beringas. Sementara itu, Kekaisaran Sasanid sibuk memadamkan pemberontakan di provinsi provinsi utara, sepanjang pegunungan Kaukakus yang selalu bergejolak. Kekaisaran Sasanid maupun Byzantium, membiarkan orang Arab seliweran keluar masuk negerinya.
Dua raksasa superior itu setuju bahwa tidak ada potensi bahaya dari Jazirah Arab[2]. Jazirah Arab diselimuti gurun yang tandus dan gersang. Kawasan pelosok yang terpencil, selalu mengurungkan minat siapapun yang ingin menguasainya. Miskin, kesulitan logistik yang parah dan tanah yang tidak dapat ditanami tumbuhan, bahkan tidak ada sumber pendapatan yang berarti disana. Seseorang akan dianggap gila jika pada tahun ketiga abad 5 M meramalkan tiga dekade kedepan akan muncul kekuatan tersembunyi dan tak terduga dari kawasan Jazirah Arab. Mereka dinilai sangat dekat dengan dua peradaban tinggi, namun dianggap asing dan barbar. Semua pemahaman tentang itu akan berubah drastis ketika seorang laki laki yang dikenang sebagai manusia paling berpengaruh di dunia, lahir di wilayah tersebut.
       Kegelapan malam yang sunyi selama akhir Ramadhan. Cahaya rembulan redup bulan kesembilan, sekitar tahun 610 M. Muhammad Ibn Abdullah, seorang pedagang berusia empat puluh tahun sedang tidur nyenyak di sebuah gua dekat Gunung Hirah[3]. Dia merasa nyaman berada dalam gua, menghabiskan waktu malamnya untuk berdoa dan meditasi. Muhammad Ibn Abdullah seketika terbangun, setelah mendengar suara surgawi yang mengatakan kepadanya bahwa dia adalah Rasulullah. Menurut tradisi Islam, Muhammad Ibn Abdullah sedang menerima wahyu. Peristiwa yang mengawali, lahirnya salah satu agama terbesar di dunia.
         Agama Islam masih berupa benih. Perkembangan di dunia Arab kuno jelas sangat sulit. Rumpun semit yang suka jual beli budak bertentangan dengan konsep Islam. Penyiksaan, penghinaan, intimidasi bahkan pengucilan selalu diterima pengikut setia Nabi Muhammad SAW dengan hati ikhlas. Perjuangan Assabiqunal Awwallun hampir mirip dengan penderitaan umat Kristiani ketika dituduh Romawi sebagai biang keladi kesialan Kekaisaran Romawi. Nasib umat Islam berangsur angsur membaik setelah hijrah ke Yasrib[4], sekitar 275 mil dari Mekkah[5].Yasrib, kota oasis yang menjadi jalur sutra versi Arab[6]. Romawi menaklukkan Palestina pada abad pertama Masehi, orang orang Israel lari ke Yasrib dan mengelolah perkebunan kurma. 
Suku utama non Yahudi, yang berasal dari Yaman, Kharaj dan Aws yang ramah menyambut hangat kedatangan Rasulullah. Mereka berikrar, memberikan sumpah setia kepada Nabi Muhammad SAW dan sigap bertarung dengan siapapun yang memusuhinya. Peran sang nabi di Yasrib sangat krusial. Menjadi juru damai dan hakim bagi suku Kharaj dan Aws yang rentan bertikai. Disana, pengikut Nabi Muhammad SAW semakin bertambah. Orang orang Mekkah yang cemas, sepakat membinasakan Islam selamanya. Mereka tidak tangung tanggung menghimpun 1000 orang Mekkah yang maniak perang. Mengantarkan pada perang yang tidak adil, 300 prajurit Islam berduel dengan semangat membara. Serangkaian peperangan yang melelahkan, antara kedua kubu yang bersitegang. Gencatan senjata baru diumumkan setelah pasukan Muslim menang telak dalam pertempuran parit pada 627 M. Sang nabi mulai menyusun pondasi imperiumnya, mengalihkan pandangan ke komunitas Yahudi Khaibar yang kaya.
            Sang Nabi menghukum komunitas Yahudi yang ingkar janji tersebut. Mengepung Kota Khaibar hingga menyerah. Komunitas Yahudi yang membelot akhirnya bersedia membayar upeti tahunan. Kekuatan kerajaan Islam Madinah sudah patut dipertimbangkan. Pembunuhan seorang Muslim oleh kafir Quraisy Mekkah melanggar perjanjian Hudaibiya. Rasulullah bertindak tegas, pada tanggal 1 Januari 630 M ribuan pasukan Islam yang tangguh mengadakan kampaye militer ke Mekkah, kota Mekkah menyerah tanpa menawarkan perlawanan serius, nantinya peristiwa ini dikenal di dunia Islam sebagai Fathu Mekkah.
            Beberapa tahun berikutnya, Madinah dibanjiri tamu tamu berwibawa. Pejabat pejabat lokal dan kepala suku setempat dari seluruh penjuru semenanjung berduyun duyun menyatakan sikap tunduk kepada Muhammad Ibn Abdullah. Pada bulan Maret 632, Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji dengan suasana damai. Puas menikmati ketenangan kota kelahirannya, tiga bulan kemudian nabi tiba tiba demam tinggi dan mengeluh kepalanya sakit. Takdir menjemput Rasulullah, seberapa pun luar biasa sosok Muhammad Ibn Abdullah, beliau hanya manusia yang pasti meninggal dunia (tanggal 8 Juni 632 M).
Seluruh jazirah Arab dirundung duka atas wafatnya sang nabi. Sepeninggalannya menyisakan misteri. Nabi Muhammad tidak menunjuk penerus kepemimpinannya. Perseteruan hebat muncul. Siapa yang berhak menggantikan nabi? Persoalan publik di gembor gemborkan, dua kubu beradu argumen. Kubu Muhajirin mengklaim layak atas dasar golongan pertama yang mengakui nabi sedangkan kubu Anshar, berhak karena tanpa mereka Islam masih lemah dan terancam musnah. Meski demikian, kedua kubu akhirnya sepakat memilih Abu Bakr yang saleh dan lanjut usia.  Kekhalifahan Abu Bakr yang singkat dan disibukkan masalah internal. Peperangan melawan kelompok murtad yang membelot. Nabi nabi palsu yang sedang tren, dibasmi bersih. Negara Islam Madinah pun selamat dari perpecahan.
            Imperium baru berlandaskan Islam berdiri kukuh, stabilistas politik sudah pulih dan bersiap melebarkan sayapnya. Tiga detasemen yang masing masing terdiri atas 3000 orang berangkat menuju Suriah. Pasukan Yazid Ibn Sufyan dan Syurabil Ibn Hasanah bergerak ke Tabuk-Ma an, sementara Amr bin Ash melakukan operasi gabungan menyusuri rute Aylah bersama 3500 orang pimpinan Abu Ubaydah Ibn Jarrah yang datang menyusul. Sentuhan pertama terjadi di dataran rendah selatan Laut Mati, Yazid mengalahkan legiun Romawi di Lembah Arabah. Legiun Romawi yang bermarkas di Caesarea itu buru buru kabur dari medan perang. Mundur ke Gazza, tentara Romawi yang berserakan disatukan kembali oleh Jendral Sergius dan mengadakan perlawanan lagi. Sergius tewas di Dathin, terkubur bersama ribuan tentara Romawi (4 Februari 634 M).
            Jendral Arab paling cemerlang, Khalid bin Walid merebut Irak dari Kekaisaran Sasanid Persia, atas perintah Khalifah membawa serta 500 orang menuju Suriah, gabungan dari pasukan al Mutsanna Ibnu Haritsah[7] dan veteran perang Riddah[8]. Selama delapan belas hari perjalanan yang melelahkan, Khalid bin Walid diserbu pasukan Kristen Gassan[9] di Marja Rahit. Perang dimenangkan Khalid bin Walid dengan mudah. “Pedang Allah”[10] itu melanjutkan perjalanannya ke Bushra. Dia memimpin gabungan tentara Arab lainnya berperang di Ajnadyn (30 Juli 634 M). Perlawanan sengit legiun Romawi berhasil dipatahkan Khalid bin Walid. Islam menggapai kemenangan gemilang, tapi hasrat menaklukkan belum surut, panji panji Islam meneruskan perjalanan menuju Palestina.
            Romawi Timur yang meremehkan kehadiran ancaman dari orang Arab, sekarang hanya bisa melongo. Hampir seluruh wilayah kekuasaannya di Timur Tengah dirampas oleh orang Arab. Serangan sistematis, menjatuhkan kerajaan Gassan tanpa perlawanan berarti. Sebelah timur Yordania mendapatkan gilirannya (23 Januari 635 M). Akibat kekalahan memalukan legiun Romawi di Marja Shufar (25 Januari 635 M), Damaskus mengalami nasib yang sama setelah pengepungan selam 6 bulan (September 635 M). Kaisar Heraklius, pahlawan Constaninopel yang sukses mengusir Ksatria Teutonik[11] ternyata kewalahan menghadapi kebrutalan orang Arab dalam menendang penguasa Romawi. Kaisar Heraklius geram, dia menghimpun kekuatan hingga 50.000 prajurit untuk diserahkan kepada saudara laki lakinya, Theodorus.
Gelombang besar serangan kembali diluncurkan. Namun, Theodorus tidak mampu berkutik sedikit pun menghadapi gempuran hebat. Tentara bayaran yang tidak patuh apalagi setia, malah kabur duluan menyelamatkan diri melalui ke tepi sungai terjal menuju Lembah Rukkad. Medan Pertempuran layak disebut pembantaian daripada perang. Theodorus tewas, di tengah legiun Romawi yang panik, prajurit prajurit yang kocar kacir dan putus asa. Alexander Agung Arab atau Khalid bin Walid dicabut oleh khalifah baru Umar bin Khattab dari jabatan gubernur Suriah. Khalid digantikan Abu Ubaydah atas subjektif berlebih Umar.
            Kekaisaran Byzantium yang tiran dan penindas harus melepaskan kota Aleepo, Antiokia dan kota kota lain di sebelah utara jatuh ke tangan pasukan Arab, menyisakan kota Qinnasrin. Yerussalem memberikan kunci gerbang kota kepada tentara Islam tahun 638 M. Sementara Caesarea yang mendapat bantuan dari laut bisa bertahan gigih meski diserbu berkali kali. Para pembelot Yahudi membukakan gerbang bagi tentara Arab, beberapa hari kemudian kota itu menyerah. Berita kematian Abu Ubaydah di Amawas karena wabah penyakit, juga menewaskan 20.000 pasukannya, gubernur Suriah pun diambil alih oleh Mu’awiyah.
            Al Mutsanna ibn Haritsa diserahi tanggung jawab oleh sekutunya Khalid bin Walid. Sasanid hampir menenggelamkan pasukan Al Mutsanna ibn Haritsa dalam pertempuran di jembatan dekat Hirah (26 November 634 M). Kesalahan strategi tidak menyurutkan ambisinya. Satu tahun kemudian, Al Mutsanna melancarkan serangan balasan di al Buwayb, tepi sungai Efrat. Memporak porandakan serdadu serdadu Persia dibawah Jendral Mihran. Khalifah Umar bin Khattab mengutus sahabat nabi yang terkemuka, Sa’ad bin abi Waqqash mengkomandoi 10.000 singa padang pasir. Admnistrator Kerajaaan Sasanid, Rustam merespon penyerbu Arab dalam pertempuran paling menentukan.
            Cuaca panas ekstrem, badai gurun yang menggelapkan mata. Kaliveri dan infateri Arab berbaris mengikuti intruksi komandannya. Di sudut lain, pemandangan serdadu serdadu Persia yang penakut dan congkak menata barisan. Kebodohan Rustam memakai taktik yang sama dan berharap hasil berbeda, sudah terbaca sejak awal. Tinggal menunggu waktu, Kekaisaran Sasanid akan disingkirkan dari panggung sejarah dunia. Kematian memilukan, pemerintahan Persia yang diktator lenyap dan pendukungnya tidak mampu bangkit kembali, demi mengulang kejayaan.
            Kerajaan Islam Medinah menganeksasi seluruh wilayah kekuasaan Sasanid. Sementara tentara Islam dibawah Amr bin Ash berupaya mengibarkan bendera Islam di Afrika Utara. Ekspansi Islam ke Mesir berusaha dihalau oleh Kekaisaran Byzantium. Lembah sungai Nil adalah lumbung perut penduduk Kontantinopel. Petani petani Mesir nasibnya menyerupai petani Irak, Suriah maupun Iran. Mereka sangat tersiksa oleh kebijakan kebijakan orang orang Romawi yang semena mena. Jendral dan politisi ulung yang cerdik, Amr bin Ash mengambil resiko berat dengan menggempur benteng kota al Farama. 4000 kaliveri Arab, menempuh rute yang juga ditempuh oleh Cambyses[12]. Amr bin Ash sudah paham betul mengenai Mesir, ketika jaman Jahiliyah dia pernah berdagang di Provinsi tersebut. Dinding benteng jebol, sekejap kota berpindah penguasa. Amr bin Ash, sudah memegang kunci penaklukan lebih jauh.
Napoleon Arab ini meruntuhkan kekuasaan Romawi Timur terhadap kota Bilbays. Kairo harus menelan kenyataan sebagai target berikutnya. Tentara Arab yang terkenal nekat dan berani mati berhasil merebut Kairo dan menyusul kota kota lainnya. Akan tetapi, perjuangan bangsa Arab sempat terhambat. Benteng Babylonia terlampau kokoh. Sang Napoleon Arab bermukim dengan tenda tenda sederhana di luar Babylonia, sambil menunggu bala bantuan dari Madinah. Zubair bin al awwam menambah pasukan Arab. Meski begitu, prajurit Romawi lebih unggul dua kali lipat, belum termasuk penjaga benteng yang berjumlah 5000 orang.
Kira kira 10.000 tentara Arab bertarung mati matian, menantang 20.000 pasukan Byzantium. Amr bin Ash yang cemerlang mengakali legiun legiun Romawi. Sang Napolen Arab menyerang legiun legiun Romawi pada bulan Juli 640 M. Jendral Theodeorus[13] terbirit birit melarikan diri, sedangkan Cyrus terjebak dalam kepungan di Babylonia. Zubayr mendangkalkan sebagian parit perintang, memanjat dinding benteng dan membunuh pasukan penjaga secara diam diam layaknya Hassasin. Meneriakkan takbir yang mengagetkan ruang utama benteng. Penguasa Babylonia kalang kabut, bergegas keluar benteng dan menyerahkan kunci gerbang Babylonia (6 April 641). Sementara itu, sang Napoleon Arab gigih menggempur daerah perbatasan timur. Kota Naqyus dirampas pada 13 Mei 641 M.
Kekaisaran Byzantium menderita banyak kerugian. Dua kerajaan sombong, sekarang bertekuk lutut. Sekitar 20.000 ksatria ksatria Arab berdatangan untuk mewujudkan penaklukan paling bergengsi. Pangkalan angkatan laut Byzantium, Alexandria. Kota yang penuh bangunan megah dengan menara menara yang menjulang tinggi. Sarapeum, yang pernah dijadikan kuil Serapis dan Perpustakaan kuno Alexandria. Kaderal St Mark yang indah, yang dulunya kuil Caesarion yang dibangun masa Cleopatra untuk menghormati kekasihnya, Julius Caesar. Satu dari tujuh keajaiban dunia yang membuat orang Arab takjub. Orang orang Arab yang terbiasa menonton gurun, tiba tiba disuguhi bangunan bangunan istimewah yang mengagumkan, terkesan seperti para imigran yang memandang kota New York, dimana gedung gedung pencakar langit menjulang tinggi.
Penyerbu Arab memang konyol namun peracaya dirinya patut diakui jempol sedangkan legiun Romawi yang tukang pamer, gampang gugup dan penakut. Orang Romawi baru merasa aman, bila bersembunyi di benteng yang super sempurna dengan tembok tebal dan puluhan ribu penjaga. Kota Pelabuhan Alexandria memiliki 50.000 penjaga. Legiun pengecut Romawi merinding menonton prajurit Arab yang berani mati, padahal orang Arab kalah jumlah maupun perlengkapan perang, kapal laut masih dalam hayalan mereka apalagi armada angkatan laut, belum lagi peralatan pengepungan yang serba apa adanya dan mungkin suplai pasukan yang memerlukan waktu lama. Sangat bertolak belakang dengan legiun Romawi yang serba dituruti. Legiun manja yang tidak berintegritas sudah tidak dipercaya penguasanya. Kaisar Constantine II yang muak dan kesal mau tidak mau menyerahkan provinsi kaya Alexandria kepada khalifah Umar bin Khattab.
Kota Alexandria yang tersedia 4000 vila, 4000 pemandian umum, 40.000 pajak dari orang Yahudi dan 400 tempat hiburan para bangsawan adalah provinsi rawan pemberontakan. Menjelang akhir tahun 645, Raja Constantine II memberi sokongan 300 armada laut dibawah komando Manuel. Pria asal Armenia itu merebut kota dan mengeksekusi 1000 orang Arab. Sang Napoleon Arab bergegas kesana. Legiun Romawi sekali lagi dipecundangi, Alexandria kembali ketangan Islam. Amr bin Ash yang ambisius memimpin pasukan kaliveri menuju Pentapolis dan Barkah. Masih haus penaklukan, Amr membuat suku suku Berber termasuk suku Lawats tunduk atas kekuasaan Islam. Sang Napoleon Arab digantikan oleh penerusnya Abdullah yang karir militernya juga melesat.
Armada laut yang dulu hanya sebatas imaginasi, sekarang terwujud ditangan Muawiyah yang lihai berpolitik dan berotak cerdas. Operasi laut dibawah komando Muawiyah menduduki Siprus (649 M), kemenangan maritim Islam pertama yang menggelikan. Teknik bertempur di laut yang unik, karena meski berperang dilaut tapi tetap mengibaratkan bertempur di darat. Abdullah mampu menghalau armada laut Yunani (652 M) dan kapten Muawiyah merebut Rhodes (654 M). Armada laut Mesir, Abdullah dan Armada laut Suriah dibawah gubernurnya sendiri beraliasi menenggelamkan 500 armada Byzantium di lepas pantai Lysia dekat Phoenesia. Raja Contantine II tewas mengenaskan, mengapung di laut yang pernah diklaim sepihak oleh leluhurnyanya, bangsa Romawi.
Selang beberapa tahun Sisilia diambil paksa oleh 200 kapal Mesir. Superioritas Byzantium atas laut Mediteranian kini hanya sebatas dongeng yang dibesar besarkan. Ekspedisi Abdullah ke Afrika Utara menundukkan Tripoli dan Ibukota bangsa Funisa Kartago[14], berlanjut ke selatan, berpetualang di kawasan padang rumput yang dinyakininya lebih cocok bagi orang orang Nomad. Kerajaan Kristen Nubia yang beribukota di Dongola menolak tunduk. Kerajaan orang orang Libya dan Negro itu menjadi penghalang perluasan Islam ke selatan.
Ekspansi pasukan Islam yang cepat dan menguasai wilayah yang luas menyebabkan kelompok Yahudi yang berada di dunia Islam semakin beragam. Penggolongan mengacu pada tutur bahasa yang digunakan. Iranic dan Arab, dua kelompok Yahudi yang menonjol. Mereka adalah kelompok Yahudi paling terkenal. Iranic menandai komunitas Yahudi di Iran. Yahudi yang berbahasa Persia. Eksistensi budayanya mengarah ke timur. Mereka menempati wilayah yang kini republik Afghanistan, India dan negara negara pecahan Uni Soviet di Asia Tengah. Minoritas yang berbudaya tinggi. Mereka mengadopsi budaya Persia tanpa ragu. Kehadiran mereka dapat ditemukan dengan skala yang jauh lebih kecil. Membentuk komunitas tunggal sepanjang berlalunya abad keenam belas.
Mereka akhirnya terbagi, terpecah menjadi dua. Terpisah akibat munculnya kerajaan Syiah Safavid di panggung sejarah dunia. Kekaisaran bercorak Islam Syiah tumbuh berkembang di Iran. Menggeser Islam Sunni ke Asia Tengah. Dua aliran Islam yang selalu berseteru. Nasib minoritas Yahudi berakhir tragis akibat imbas konfik politik berjubah agama. Sebagian dari mereka terdampar di Iran, teguh memilih tetap bertahan. Sisanya memilih berdiaspora. Mereka tampaknya lebih menginginkan kontak dengan dunia luar. Menghirup udara segar di Bukhara dan Afghanistan.
Riwayat komunitas Yahudi Iranic sedikit berbeda dengan Yahudi Arab. Komunitas Yahudi berbahasa Arab tersebar dari Irak sampai ke Maroko. Mereka komunitas Yahudi yang mempertahankan tradisi Judeo-Islam. Mereka setia dengan tradisi itu. Komunitas Yahudi pencipta sekaligus penjaga tradisi Judeo-Islam ini sudah sejak dulu hadir.
Selain komunitas Yahudi Arab yang tua dan komunitas Yahudi Iranic yang tunggal, terdapat komunitas Yahudi lain. Jumlah mereka relatif lebih kecil. Menggunakan bahasa Yunani dalam berinteraksi. Mereka tinggal di bekas Kekaisaran Bizantium. Mereka tidak pernah mengadopsi bahasa Arab ataupun Persia, namun sebagian dari mereka mengadopsi bahasa Turki.





[1] Tanah Sabit Subur adalah wilayah subur yang dibatasi sungai Efrat dan Tigris, kini negara Irak.
[2] Kawasan Arab terbagi menjadi 3, kawasan Arab terluar, Suriah, Palestina, Yordania dll. Kawasan Arab dalam wilayah tandus, Arab Saudi sekarang ini (Jazirah Arab), Kawasan Arab semenanjung, Yaman, Oman, Bahrain dll.
[3] Gua Hirah berada di Hijaz, barat laut Semenanjung Arab. Sebuah dataran tandus yang menghambat dataran tinggi Nejd dan daerah pesisir yang rendah, Tihamah.
[4] Yasrib, dalam tulisan Saba disebut YTHRB, dan Ptolemius menyebutnya Jathrippa. Yahudi bertuturk Aramik menamainya Madinta yang berarti “kota”(nabi)
[5] Mekkah diambil dari bahasa Saba, Makuraba dan Ptolemius menyebut Macoraba yang berarti tempat suci, kota itu didirikan oleh sekelompok keagamaan.
[6] Jalur sutra versi Arab adalah rute yang dilintasi para pedagang rempah rempah dari Yaman ke Suriah.
[7] al Mutsanna Ibnu Haritsah adalah sekutu Khalid di perbatasan Persia, kepala suku Bani Syaiban, pecahan dari suku Bakr ibn Wa’il
[8] Perang Riddah adalah perang melawan suku suku Murtad.
[9] Orang orang Gassan adalah keturunan suku Arab kuno Selatan, mereka melarikan diri dari Yaman menuju Hauran dan al Balqa. Mendirikan kerajaan dengan raja pertamanya Amr Muzayqiya ibn Amir Ma’ al- Sama.
[10] Pedang Allah adalah julukan Khalid bin Walid
[11] Ksatria Teutonik yang berjubah putih dan berpenampilan angker adalah Ksatria rumpun Jermanik yang mengacaukan kerajaan Romawi.
[12] Cambyses adalah putra Cyrus Agung, pendiri Kekaisaran Persia. Cambyses menaklukkan Mesir melalui rute yang sama seperti Napoleon Bonaparte ataupun Alexander Agung.
[13] Theodeorus ini bukan saudara Heraklius. Seringkali banyak nama yang sama.
[14] Kartago adalah nama kekaisaran kuat Afrika utara yang berani menentang Romawi. Musuh bebuyutan dalam perebutan otoritas penguasa laut Mediterania. Melahirkan prajurit cerdas dari dunia kuno, Hannibal Barca dengan strategi gilanya, Gajah India (namanya Surus) melintasi pegunungan Alpen.
Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.