Partai
politik berasaskan Islam terutama Nadhatul Ulama memerankan peran penting pada
masa Orde Baru melalui kerjasama politik dengan Angkatan Darat. Angkatan Darat
bersekutu dengan Nadhatul Ulama dalam rangka membersihkan PKI dan ormas
ormasnya dari tubuh pemerintahan hingga akar akarnya. Pesaing politik Angkatan
Darat akhirnya tumbang, drama politik berlanjut. Partai politik Islam terutama
yang didominasi Nadhatul Ulama mendapat kejayaan politiknya. Euphoria
politik yang terus berlangsung
sampai terjadinya kerenggangan antara Nadhatul Ulama dan penyokong utamanya
ABRI (1968- 1971).
ABRI
merangkul Nadhatul Ulama secara resmi namun ormas ormas lainnya belum dapat
diambil hati sehingga seringkali harus dikontrol paksa atau ditindas. Kejatuhan
PKI menyebabkan kekuatan politik ABRI melangit. ABRI semakin ambigu dalam
mendukung Nadhatul Ulama karena lama kelamaan masyarakat agak mengendurkan
minatnya kepada organisasi kelompok berasaskan Islam ini. Kemesraan ABRI dan
Nadhatul Ulama terganggu, hubungan mereka merenggang dengan kemunculan partai
Golkar yang suara mutlaknya berada pada ranah pegawai negeri. Sikap ambigunitas
ABRI sirna setelah kampaye Pemilu dimana secara terang terangan beralih
mendukung Golkar.[1]
Sepanjang
tahun tahun berikutnya, kubu Golkar memperoleh perbaikan nasib dari kesengsaraan
diawal pendirian partai. Ketika pemilu 1971 berlangsung suara yang didapatkan
meningkat drastis. Salah satu pejabat tinggi yang bertugas menjalin hubungan
denga partai Islam memberikan keterangan mengejutkan bahwa suara pemimpin
pemimpin Nadhatul Ulama terpecah menjadi dua. Mereka yang mendukung partai
Golkar adalah mereka yang tidak memiliki pesantren dan kurang menonjol dalam
golongan tradisionalis. [2]
Geram
dengan perilaku politik masyarakat kaum tradisionalis Islam melakukan
serangkaian intimidasi yang menjeblokkan suara rakyat kepada mereka. Isu isu
yang beredar tentang kaum tradisionalis Islam akan kehilangan jabatan Menteri
Agama setelah pemilu membuat 700 ulama
berkumpul di Tebuireng dan mengeluarkan
fatwa yang mengharuskan seluruh umat Islam untuk mencoblos satu partai Islam demi
menyaingi politik ABRI yang berkendaraan Partai Golkar. Meskipun usaha usaha
dilakukan dengan keras, partai politik Islam tetap berada dibawah Golkar dan
bertahap mengalami penyurutan. Musibah perpecahan dalam perpolitikan partai
partai Islam diperparah oleh kebijakan pemerintah yang mengkerdilkan peran
partai partai politik berasaskan Islam melalui sebuah ide brilian yakni penggabungan
paksa partai partai politik (5 Januari 1953). [3]
Empat
Partai Islam yakni Nadhatul Ulama, PSII, Parmusi dan Perti) digabungkan ke
dalam PPP, lima partai nasionalis dan Kristen yakni PNI, Parkindo, Partai
Katolik, IPKI, Murba) masuk ke PDI. Kebijakan yang melumpuhkan kekuatan politik
lawan lawan Golkar. Sejak saat itu, dukungan politik masyarakat kepada partai
partai Islam yang terhimpun dalam PPP semakin meredup.
[1]Andree
Feilard, NU vis-Ã -vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.(Yogyakarta:LKiS,1999),
hlm. 152.
[2] Ibid., hlm 155 – 156.
[3] Firdaus A.N,Dosa Dosa Politik:Orde Lama dan Orde Baru
yang Tidak Boleh Berulang Lagi ke Era Reformasi,(Jakarta Timur: Pustaka Al-
Kausar,1999), hlm. 34-35.
Andree
Feillard,NU vis-Ã -vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.(Yogyakarta:LKiS,1999),
hlm 171.

0 komentar:
Posting Komentar