“When
the Sultan Beyezid II heard about the expulsion of the Jews from Spain King by
the King Ferdinand, he said: Can you call such a king wise and intelligent? He
impoverishing his country and enriching my kingdom”
~ Hans Dernschwam, agen perjalanan dari rumah perbankan Fugger ~
~ Hans Dernschwam, agen perjalanan dari rumah perbankan Fugger ~
(1492-1512
M)
Arsip Ottoman terjemahan Inggris
berjudul “Inventory of Ottoman Turkish Document about Waqf Preserved in the
Oriental Departement and the St St Cyril and Medious National Library, Register
– Part 1” merupakan kumpulan catatan sumbangan lembaga waqaf. Suntikan dana
tersebut juga didatangkan Ottoman dari pajak non-Muslim atas perlingdungan dan
toleransi beragaman. Dalam catatan klasik tersebut banyak terdapat sumbangan
dari minoritas Yahudi. Pada tanggal 13 Juli 1534 sampai 1 Juli 1535, Sultan
Mehmed II mengenakan pajak bagi orang Yahudi, Yunani dan Armenia yang tinggal
di Istanbul ataupun di Galata untuk membiayai gaji guru madrasah dan karyawan
karyawan lainya, untuk kebutuhan pangan serta pemeliharaan pemandian wakaf.
Selanjutnya, pada tanggal 18 Agustus 1537 sampai 27 Juli 1538, Sultan Mehmed
menarik pajak dari minoritas Yahudi, Yunani dan Armenia di Istanbul ataupun
Galata untuk membiayai pengeluaran masjid, Imaret, rumah sakit dan madrasah
serta gaji karyawan administrasi, penyediaan ketentuan dan bagian peralatan.
Adapun catatan seterusnya, tertanggal 17 Juli – 11 November 1539, 1 November
1540 sampai 20 Oktober 1541 dan lain lain.
Kronik kronik itu menandakan adanya
minoritas Yahudi. Kesultanan Utsmaniyah memperoleh keuntungan atas kehadiran
mereka begitu pula sebaliknya. Namun, menurut banyak sejarawan data waqaf
tersebut sedikit meragukan sehingga kritik internal dan eksternal sangat
dianjurkan. A. Cohen memperkirakan tingkat penggelapan pajak mencapai 20%. Dia membandingkan kota Yerussalem dan
Istabul, kedua kota transit yang dihuni ribuan komunitas Yahudi. Namun, mengapa
kota megapolis seperti Istanbul pendapatannya kurang dari kota Yerussalem. Ada
dugaan, pundi pundi keuangan lari ke kas pemerintah pusat. Meskipun begitu,
Menurut sejarawan Turki, Minna Rozen dalam bukunya Istanbul Yahudi
Cemati’nin Tarihi (1453-1566) bisa menyimpulkan pada tahun 1535 terdapat
sekitar 6070 rumah tangga tetap berasal dari Semenanjung Iberia. Setelah
pengusiran kamunitas Yahudi di Spanyol, banyak Yahudi memasuki di lingkungan
istana Kesultanan Utsmaniyah. Yerasimos yang melakukan semacam sensus di tahun
1535, dia mendata sekitar 4000 orang Yahudi di Istanbul.
Gambar 3.1 Ilustrasi
yang menunjukkan keragaman agama atau kepercayaan dan etnis di Istanbul, nampak
saudagar China, borjuis Eropa, pedagang Muslim dan pengusaha Yahudi.
Source Ottoman
Imperial Archive; Facebook Fans Page.
Sejarawan Professional Turki, almarhum Professor Omer Lutfi Barkan
mengumpulkan data dan membuat table statistik persebaran pemeluk agama di kota
kota utama Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1520-1530. Lihat table hasil
editing penulis dibawah ini.
Kota
|
Rumah Tangga Muslim
|
Rumah Tangga Kristen
|
Rumah Tangga Yahudi
|
Total
Rumah Tangga
|
Istanbul
|
9.517
|
5.162
|
1.647
|
16.326
|
Bursa
|
6.165
|
69
|
117
|
6.351
|
Edirne
|
3.338
|
522
|
201
|
4.061
|
Ankara
|
2.399
|
277
|
28
|
2.704
|
Athens
|
11
|
2.286
|
-
|
2.297
|
Tokat
|
818
|
701
|
-
|
1.519
|
Konya
|
1.009
|
22
|
-
|
1.114
|
Sivas
|
261
|
750
|
-
|
1.011
|
Sarajevo
|
1.024
|
-
|
-
|
1.024
|
Monastir
|
640
|
171
|
34
|
845
|
Skopje
|
630
|
100
|
12
|
742
|
Sofia
|
471
|
138
|
-
|
609
|
Salonika
|
1.219
|
989
|
2.645
|
.4.863
|
Siroz
|
671
|
357
|
65
|
1.093
|
Trikala
|
301
|
343
|
181
|
825
|
Larissa
|
693
|
75
|
-
|
768
|
Nicopolis
|
468
|
775
|
-
|
1.243
|
Gambar 3.2 Tabel
demografi berdasarkan jumlah data pemeluk agama dan kepercayaan 1520-1530 M.
Komunitas Yahudi juga dapat ditemui di wilayah lain di Kesultanan
Utsmaniyah misalnya Safed dan Yerussalem yang dinamis. Ini menandakan adanya
diaspora komunitas Yahudi di Kesultanan Utsmaniyah. Penelitian selanjutnya,
pendataan spesifik di kota Salonika tahun 1519 memaparkan keterangan bahwa
sebagian besar komunitas Yahudi berasal dari nama kota atau negara Eropa
Selatan. Komunitas Yahudi tersebut bersama sama membentuk lebih dari setengah
total populasi rumah tangga yang berjumlah 4.073 rumah tangga. Mereka adalah
korban deportasi massal. Sebuah piagam tertanggal 31 Maret 1492 menyatakan
perintah pengusiran orang Yahudi dari wilayah Kristen Eropa. Upaya menyuap raja
menyebabkan pengusiran berlangsung tiga bulan sesudah peresmian piagam.
Pada bulan Juli 1492, Ferdinand II dari Aragon dan Isabella I dari
Castilia mengusir populasi Yahudi dan Muslim sebagai bagian dari agenda inkuisi
Spanyol. Mendengar beritaitu, Sultan Beyezid II meresponnya dengan mengirim
angkatan laut Ottoman di bawah komando laksamana Kemal Reis. Sultan Beyezid
mengevakuasi para pengungsi dengan aman ke wilayah kekuasaan kesultanan
Utsmaniyah. Sekitar lebih dari 150.000 orang Yahudi telah bermigrasi dan Sultan
Beyezid beserta pejabat istana menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Sultan
Beyezid II mengirim fermans atau piagam piagam kekaisaran ke seluruh provinsi
yang berada di bawah kekuasaannya. Ferman itu berisi keterangan untuk menyambut
dan mempelakukan dengan martabat sert rasa persaudaraan terhadap para pengungsi.
Sultan memerintahkan kepada semua gubernur provinsi (terutama kawasan daratan
benua Eropa) untuk menerima pengungsi Spanyol dengan ramah dan mengancam mereka
yang menolak atau menahan diri. Provinsi terfavorit bagi komunitas Yahudi
adalah kota Salonika.
Pengusiran tersebut mengakibatkan
diaspora besar besaran ke kawasan Afrika Utara, Eropa dan Timur Tengah.
Sebagaimana yang terjadi ketika kekacauan di dataran China, orang orang China
berdiaspora ke kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Hans Dernschwan dalam
diari perjalanannya menulis catatan yang penulis jadikan quotes diatas.
Hans Dernschwam sangat salah
kaprah, cuplikan quotes diatas mungkin celetuk tanpa dasar atas
pengamatannya. Beyezid II menolong imigran Yahudi karena kepedulian dan rasa
kemanusiaannya. Sesuai dengan syariat agama, Beyezid menolong sesama manusia
yang sedang teraniaya akibat intoleransi radikal. Tujuan para imigran Yahudi
salah satunya memang Kesultanan Utsmaniyah dan imigrasi terbesar terjadi ketika
Beyezid II berkuasa.
Gambar 3.3 Ilustrasi
Komunitas Yahudi yang disambut kedatangannya oleh Sultan Beyezid II dan
kalangan istana.
Source: Ottoman Imperial Archieve Page
Raja memiliki karakter dan
kesenangan yang berbeda beda. Keragaman tersebut terimplementasi pada kerajaan
yang di kuasainya. Al Walid bin Abd Malik mencintai seni arsitektur sehigga
pada pemerintahannya terdapat upaya merenovasi sekaligus memperindah Masjid Al
Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Ahli warisnya, Sulaiman
kegandrungan sex, wajar bila pelacuran dan kebebasan sex merebak pada masa
pemerintahannya. Namun khlaifah dinasti Umayyah selanjutnya justru sebaliknya,
Umar bin Abdul Aziz sangat saleh. Sosok khalifah yang mementingkan akhirat
serta menjauhi kehidupan keduniawian. Kepemimpinannya menandai kekacauan.
Tragisnya lagi, khalifah alim yang seharusnya diidam idamkan umat Islam malah
terbunuh akibat kudeta berdarah.
Sultan Beyezid II (1481-1512 M)
memakai model kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Seperti halnya Ayahnya Mehmed
II, Beyezid mendemonstrasikan kebaikannya kepada orang Yahudi dan Yunani.
Beyezid II yang saleh menyebabkan pengaruh ulama semakin kuat di lingkungan
Istana. Beyezid II bahkan melarang pembangunan tempat tempat ibadah baru untuk
non-Muslim. Elia Capsali pun tidak memasukkannya dalam catatan Sultan dermawan,
meskipun atas perizinan (1492 M) dari Beyezid II sejumlah besar orang Yahudi
dari Spanyol dan Portugal bisa menikmati hidup di tanah Ottoman.
Sultan Beyezid II mengeluarkan
kebijakan mengenai transfer penduduk untuk keperluan pengkonsentrasian
pemukiman berdasarkan agama dan kepecayaan. Akibatnya, non-Muslim di kalangan
Istana memusuhinya. Tahtanya terancam. Apalagi kekuatan politik Beyezid II
sangat lemah bahkan korps elit Janissari pun tidak mau menuruti perintahnya dan
malah mendukung putra mahkota. Akhirnya, Beyezid II dipaksa turun oleh Selim I
yang naik tahta dengan bantuan Korps Janissari serta elit elit non-Muslim yang
berada di lingkungan Istana.
Rute
Diaspora
Gambar 3.4 Rute
Diaspora komunitas Yahudi dan Marrano 1492-1609. Teritorial cetak hitam berada
dibawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah (Peta politik periode Suleyman the
Magnificient)
Migrasi
Yahudi ke Salonika
Salonika ditetapkan oleh Sultan Beyezid II sebagai tempat pemukiman
khusus komunitas Yahudi di Tanah Ottoman. Salonika pernah menjadi tempat
tinggal bagi komunitas Yahudi pada tahun 130 SM. Sensus demografi yang
menunjukkan terdapat sekitar seribu orang Yahudi di Salonika, setelah
Kesultanan Utsmaniyah penaklukan kota tersebut pada tahun 1430 M. Pengusiran
dari Spanyol dan Portugal pada tahun 1492 dan kemudian pada tahun 1497
menghasilkan peningkatan besar dalam populasi Yahudi di Kesultanan Utsmaniyah.
Komunitas Yahudi Sephardic dibuang dari tanah kelahirannya dan diterima dengan
baik oleh Sultan Beyezid II. Orang orang Yahudi yang berbakat bisa bekerja di
lingkungan istana. Sultan memberikan kebebasan beragama, keamanan memiliki
kekayaan, mengembangkan bakat, keahlian dan pengalaman.
Imigran Yahudi Sephardic di Salonika mendirikan sekolah kedokteran
dan banyak lulusannya menjadi ahli bedah yang terampil. Dokter dokter Salonika
mengurusi masalah kesehatan penduduk lokal, pejabat kerajaan, Sultan dan harem
haremnya. Dokter Yahudi membantu persalinan bayi dan mengawasi istri istri
Sultan pra melahirkan hingga pasca melahirkan. Orang orang Yahudi Sephardic
juga yang mengembangkan meriam superior dan bubuk mesiu sehingga akhirnya abad
ke 15 Kesultanan Utsmaniyah memiliki ratusan artileri berat sekaligus pabrik
pabriknya. Inovasi inovasi baru senapan untuk infanteri turut dikembangkan oleh
komunitas Yahudi Sephadic. Jadi tidak mengherankan bila Sultan Selim mampu
meraih kemenangan dengan gemilang melawan Kesultanan Mamluk di Mesir. Senapan
infanteri dan arteleri berat memainkan peran penting dalam kampaye militer di
Suriah.
Salonika adalah kota pelabuhan di ujung utara Laut Aegea. Lokasi
yang berada jalur perempatan perdagangan selama berabad abad. Kesultanan Utsmaniyah
menguasai pelabuhan strategis terlebih dahulu sebelum penaklukan Konstantinopel
karena untuk memindahkan pasukan, kapal dan perlengkapan militer melalui laut
yang lebih cepat dibanding jalur darat. Perdagangan di pelabuhan ini
mengalirkan uang kekayaan ke dalam kas Kerajaan. Sepanjang abad ke 16 awal
hingga pertengahan, Salonika mampu menandingi keramaian pelabuhan di Venesia.
Kesultanan Utsmaniyah membangun menara pengintai yang tinggi dan benteng
berdinding tebal dengan dipersenjatai meriam terbaik. Pertahanan kota diperkuat
dengan dikerahkannya ratusan pasukan penjaga dari detasemen Janissari.
Pangkalan angkatan laut Turki dibangun untuk mengatasi serbuan dari laut
sebagai konsekuensi konflik Ottoman-Venesia. Salonika menjadi kota di
Kesultanan Utmaniyah dengan pertahanan terbaik selain Konstantinopel. Oleh
karena itu, penduduk Yahudi bisa memperoleh kedamaian disana.
Dalam banyak kasus, seringkali terjadi penyelewengan yang melanggar
aturan Dzimmi[1].
Komandan lokal melaksanakan razia dengan dalih menyingkirkan pelaku kejahatan.[2]
Akan tetapi, pada kenyataannya merupakan upaya menjarah orang Yahudi ataupun
Nasrani untuk dijadikan budak. Salah seorang pengamat bernama Busbecq yang
hidup pada abad ke 16 menyatakan bahwa budak merupakan sumber keuntungan tentara
Turki, ketika masa damai komandan Janissari lokal memanfaatkan pasukannya untuk
merampas kebebasan orang lain. Fenomena aneh akhirnya muncul di Salonika dimana
orang Yahudi kaya bisa membeli temannya atau saudaranya sendiri sesama Yahudi,
begitu pula dengan orang Nasrani.
Selama abad ke 16 pula, Salonika menjadi kota pelabuhan dagang yang
ramai. Relasi dagangnya ke utara sejauh Jerman, Belanda dan Inggris, ke selatan
sejauh Mesir dank e timur sejauh Persia dan Cina. Komoditas tekstil, karpet dan
permadani sangat diminati oleh orang orang Eropa. Pakaian, kemeja, jaket,
celana dan kaus kaki juga dijual di Salonika. Kualitas tekstil Salonika bahkan
dipakai untuk pakaian resmi Janissari serta dikonsumsi di seluruh sentero
imperium Utsmani. Komunitas Yahudi menikmati hidup Ottoman New York, kota
dengan perputaran uang (modal) yang cepat. Salonika berubah menjadi Bandar
dagang internasional yang menjadi saksi perpindahan mata uang dari Barat ke
Timur serta perpindahan barang dari Timur ke Barat. Komunitas Yahudi Sephardic
menikmati kekayaan dunia. Seketika mereka menjelma menjadi saudagar saudagar
kaya raya. Salonika adalah pundi pundi rejeki bagi Kesultanan Utsmaniyah
sekaligus surga bagi komunitas Yahudi. Namun, Salonika juga menyaksikan krisis
ekonomi karena mengalami defisit pedagangan. Eropa terutama Hasburg Spanyol
mampu menghasilkan lebih banyak perak daripada Kesultanan Utsmaniyah yang
bergantung pada pertambangan di Bosnia dan Balkan. Aliran uang yang selalu
pergi dari Barat ke Timur mengakibatkan masalah krusial. Mata uang utama yang
digunkan adalah Akce perak dan nilai mata uang dapat berubah sesuai dengan
fluktuasi pasar, ketersediaan perak dan perubahan nilai tukar antar negara atau
daerah. Karena ketersedian uang lebih sedikit dibanding barang yang melimah
maka timbul yang namanya deflasi berskala internasional.


