Tampilkan postingan dengan label Elia Capsali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elia Capsali. Tampilkan semua postingan

Pengakuan Sejarawan Yahudi

Mehmed II, Selım I, and Sµleyman I as benefactors of the Jews and inserts several anecdotes demonstrating their benevolence towards the Jewish people and the help they offered to the Jews against their persecutors.
(Elia Capsali)
~ 1453 M~

Pada 29 Mei 1453 M, seluruh Jazirah Eropa tercengang karena berita heboh penaklukan Konstantinopel oleh Turki Utsmani. Aliansi anti Turki adalah buah sentimen buruk yang bertebaran di Eropa. Televisi, radio, koran belum tercipta saat itu, namun media tradisional dari mulut ke mulut menerbar pemikiran teror. Stigma terror dan kebinasaan selalu melekat pada kata Turk merujuk pada orang orang Islam Turki. Anehnya masyarakat Eropa yang belum merasakan naungan pemerintahan Ottoman mengaimini desas desus yang sumbernya tidak jelas. Eropa memasuki zaman Agama, Glory dalam perspektif Kristen dan Dark dalam perspektif ilmu pengetahuan. Pemegang otoritas tertinggi melebihi raja adalah Paus yang memerintah di Vatikan, meskipun abad kelima belas merupakan akhir Abad Pertengahan serta akan menuju Zaman Renaisan namun tetap saja sentiment anti Turki atau anti Muslim atau Anti Islam tetap menggema. Zaman Renaisans di Eropa tidak serta merta mengakhiri permusuhan Barat dan Timur, masyarakat Eropa memang berkurang fanatiknya terhadap agama Kristen tapi tidak mengubah sikap mereka terhadap Islam. Ada agama baru sebab akibat dari kemunculan Tuhan baru yang lebih dipercaya orang orang Eropa yakni Agama Ilmu pengetahuan dan Tuhan akal.
Mehmed sang penakluk dalam kacamata orang Eropa adalah manusia pembuka gerbang kiamat. Mereka diselimuti rasa khawatir hingga menghubung hubungkan dengan penguasa keji dari nenek moyangnya. Gelar bagi Mehmed II, the New Caligula atau the New Nero, dua kaisar Romawi yang gila dari wangsa Augutinus. Seketika itu, orang orang Eropa menjadi pencibir yang licin dan retorikawan handal, Turki dianggap lebih berbahaya dari hewan buas yang menyita Konstantinopel layaknya penagih hutang yang merampas ibukota mulia dari Constantine XI yang lemah dan bodoh. Putus asa berbuah lantunan puisi indah yang menyedihkan dan sesekali mengejek, “ Ibukota mulia paling tertinggi (kedudukannya) telah memerintah selama lebih dari seribu tahun itu sekarang hilang dan berpindah tangan ke Turki, makhluk paling hina yang pernah ada, barbar, bejat dan peradaban bodoh.
Pandangan subjektif yang buruk dan prasangka liar tanpa referensi tentang jatuhnya kota Konstantinopel seharusnya sudah dapat diprediksi orang orang Latin, akan tetapi mereka tidak berdaya untuk mencegahnya sehingga mereka terus mengoceh tanpa tindakan. Cerita yang dilebih lebihkan terkadang menyelimuti kesuraman sejarah Eropa Abad Pertengahan. Tangan Silvio Piccolomini dan paus pius II gemetar ketika menulis berita duka tersebut. Laporan kekejaman Turki di Ibukota Byzantium dikiaskan sangat mengerikan. Sungai sungai darah ditungakan melalui jalan jalan kota Konstantinopel seperti derasnya air hujan yang mengalir di selokan setelah tiba tiba datang badai. Mayat mengapung ke laut seperti melon sepanjang kanal. Peninggalan agama dan kuburan kuburan dijarah dan tulang tulang dari kaisar dan orang orang kudus dilemparkan ke babi dan anjing. Lukisan lukisan religius yang dihormati dihancurkan dan dinjak injak oleh tentara Turki. Faktanya sebaliknya, penduduk Konstantinopel tidak mengalami hal seperti itu, bodohnya lagi puisi yang puitis itu malah sangat cocok dilantunkan untuk para pedahulu mereka, Ksatria Salib yang menjarah Konstantinopel dengan kejam dan bringas.
            Dominika Giacomo Campora menggambarkan penjarahan Turki dan pembantai umat beriman tanpa studi lapangan. Dia menulis realitas fiksi dan berharap manusia manusia Eropa yang kolot menelannya mentah mentah. Turki meledakkan tempat tempat suci, merusak makam dan relik relik tubuh orang orang kudus yang telah tidur dalam damai di kuburan mereka. Peti mati mereka yag dikonservasi dengan pengabdian yang ikhlas harus merasakan tetesan darah dari sabitan pedang yang merobek tangan tanpa malu malu karena akan mencuri permata dan emas ornament degan relik relik suci yang menghiasinya. Ornamen ornamen indah dilucuti dari tulang tulang tak berdaya, lalu beberapa ditaruh di kotak penyimpanan dan dibuang ke laut, sebagian lagi diletakkan di jalan jalan untuk dibiarkan hancur tertindas kaki kuda. Sejarah umat manusia yang gila seperti itu juga berulang ulang kali terjadi sekarang ini dengan keserupaan yang tipis. Ksatria Salib yang mengaku membela iman ternyata menjelma sebagai simbol keserakahan duniawi. Mencukil ornament ornamen yang diceritakan anak cucunya tapi mengkambing hitamkan orang lain bagaikan maling teriak maling. Sejarawan sejarawan barat yang subjektif sekali terkadang terperangkap dalam kedekatan emosional. Fakta diatas memang sesuai dengan keadaan lapangan, namun tidak mempertimbangkan kenyataan bahwa penjarahan besar besar pernah terjadi di Konstantinopel sehingga jika Mehmed II menjarah harta benda hingga segitunya tidaklah mungkin karena hal seperti itu sudah dilakukan oleh Ksatria Salib dan Konstantinopel dengan kemewahannya sudah tinggal kenangan sejak peristiwa itu.



Gambar 2.1 Setelah Penaklukan Constantinopel 1453, Sultan Mehmed II menjamin kebebasan beragama.
Source: The Lost Ottoman History Page

              Sejarah organisasi komunitas Yahudi di Kekaisaran Ottoman sering kali bergelut dengan beberapa masalah. Pada abad kesembilan belas, sistem millet yang terkenal sebagai ciri khas kerajaan mengalami sedikit perubahan. Sistem millet ini berubah mengikuti arus reformasi yang sedang bergema. Sistem millet ini memungkinkan masing masing komunitas agama berhak menyelenggarakan rapat internal, menjalankan hukum yang sesuai dengan agamanya dan status mandiri dibawah kewenangan kepala agamanya.
              Orang orang Yahudi mengakui millet sebagai kewengan dari kepala rabbi. Kepala rabbi membuat hahambashi, semacam buku catatan untuk mencatat seluruh aktivitas keagamaan. Pendirian komunitas Yahudi diakui oleh Kekaisaran Ottoman. Pihak kekaisaran memberikan status, hak dan kewajiban yang sama kepada seluruh sinagoga, gereja gereja Orthodok ataupun gereja gereja Armenia. Dalam hahambashi yang tertanggal kembali ke masa pemerintahan Mehmed sang Penakluk memuat keterangan kepala rabbi yakni Rabbi Musa Kapsali. Menurut Rabbi Musa Kapsali, sang penakluk kota Konstantinopel ini melembagakan gedung agama bagi orang orang Yahudi. Pemberian otoritas kepada semua orang orang Yahudi dilakukan sesaat setelah jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan bangsa Turki pada tahun 1453 M.
              Bukti bukti catatan catatan kerajaan, mengkonfirmasi catatan kepala rabbi, namun dengan memberikan gambaran yang agak berbeda. Masyarakat Yahudi tinggal di kehillot, setiap kehillot tinggal dalam lingkungan sendiri. Pola umum organisasi perkotaan Ottoman adalah terdiri dari berbagai kuartal atau lingkungan yang disebut Mahalle. Setiap Mahalle terdiri dari masyarakat yang beragama sama, terorganisir rapi dengan tempat ibadahnya dan pemimpin agamanya. Kehillot Yahudi biasanya dinamai tempat asal mereka. Kehillot kehilot di kota Edirne dapat ditemui dengan nama Magrib,Toledo,Lisbon,Italia,Jerman,Portugal,Apulia,Catalan,Sisilia dan Buda (Budapest ibukota Hongaria). Nama nama seperti itu atau lebih bermacam macam lagi dapat ditemukan di kota Yahudi yang berada di wilayah kekuasaan Ottoman misalnya Salonika, Istanbul dan Safed.
              Beberapa kehillot menggunakan nama Ibrani. Kehillot semacam ini bukan menunjukkan asal wilayah, kemungkinan berasal dari adat asli yang memakai bahasa Yunani. Sering terjadi perpecahan dalam tubuh Kehillot, terbukti pada terbentuknya masyarakat Catalan tua dan Catalan baru di Salonika maupun Edirne. Alasan perpecahan sangat beragam, namun sering terjadi karena perbedaan waktu kedatangan antara mereka yang datang lebih awal dan mereka yang datang kemudian. Pola organisasi Yahudi di kekaisaran Ottoman lebih seperti Amerika Modern daripada Eropa Modern. Ketika penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II, Musa Kapsali selaku rabbi Bizantium dijadikan kepala rabbi kota bukan sebagai kepada rabbi kekaisaran. Keponakan Musa Kapsali menulis sebuah kronik yang menggambarkan keadaan orang orang Yahudi dibawah kekuasan Mehmed II. Dia adalah Elia Capsali, seorang sejarawan Yahudi yang lahir di Candia tahun 1485 M.
              Elia Capsali menulis tentang kesejahteraan orang orang Yahudi di Kekaisaran Ottoman, pada masa pemerintahan Sultan Mehmed II. Menurut Elia Kapsali, pada tahun pertama Mehmed II menjalankan tugasnya sebagai Sultan, dia sangat bersemangat. Raja Turki ini benar benar bersyukur atas rahmat dan hidayah yang diberikan oleh Tuhan. Sang Penakluk itu menikmati ibukota barunya, Istanbul. Kota Istanbul bagi Mehmed II adalah hadiah terbaik atas seluruh usahanya. Elia Capsali menulis kronik dengan bahasa sastra. Berbumbu panjatan doa kepada iman yang dia percayai. Dalam kroniknya diceritakan Mehmed II berbicara dengan suara lantang dan semangat yang berkobar kobar. Seluruh rakyat Istanbul berkumpul untuk mendengarkan khotbah raja baru mereka. Seluruh rakyatnya berdesak desakan, mendengarkan sang sultan. Patut dikoreksi ulang, Elia Kapsali tidaklah sempat mendengar pidato sang Sultan diawal penaklukannya. Elia Kapsali baru lahir di dunia pada hari hari terakhir Mehmed II berkuasa. Sejarawan ini mencatat kronik hasil dari wawancara lisan dengan pelaku sejarah yang pastinya mendengar langsung pidato tersebut. Bila ditinjau dari angka kelahirannya, kemungkinan besar dia mewawancarai pelaku sejarah yang sudah sangat tua. Kemungkinan umur pelaku sejarah yang menjadi sumber tulisan Elia Kapsali sama dengan umur sultan Mehmed II atau setidaknya lebih muda. Bisa jadi, Elia Kapsali mewawancarai pamanya, Rabbi Musa Kapsali sebab terdapat keterangan peningkatan jumlah jemaat Yahudi.
              Memori daya ingat, pengalaman dan pengaruh pengaruh kepercayaan setidaknya sedikit mereduksi kecocokan apa yang disampaikan dengan kenyataannya. Dalam catatan Elia Kapsali tertulis:
“Ini adalah kata kata Mehmed, Raja Turki, Tuhan penguasa Surga yang memberikan saya kerajaan di negeri ini dan memerintahkan saya untuk menjadi pemimpin rakyat keturunan Abraham (Nabi Ibrahim A.s), hamba-Nya, anak anak Jacob (Nabi Yakub A.s) yang dipilihnya, dan memberi mereka rezeki di negeri ini dan untuk memberikan keamanan bagi mereka. Biarkan mereka dengan Tuhan-Nya datang ke Konstantinopel, kursi kerajaan saya dan duduk dibawah pohon anggur dan dibawah pohon aranya dengan emas dan perak, properti dan ternak menetap di negeri ini, berdagang dan menjadi bagian dari itu”
              Seperti itulah kata kata pidato sultan dihadapan seluruh umat yahudi yang berkumpul bersama sama dari seluruh kota, baik dekat maupun jauh. Menurut keterangan Elia Kapsali setiap orang berbondong bondong datang dari rumahnya masing masing, masyarakat berkumpul ribuan bahkan sepuluh ribu orang dan Tuhan membantu mereka dari langit sementara raja memberikan sifat yang baik dan rumah rumah pun penuh barang barang.
              Orang orang Yahudi berdiam disana, bersiap mendapatkan barang barang pemberian sultan sesuai dengan jumlah keluarganya. Semua hasil rampasan perang, penjarahan besar besaran kepada istana Kekaisaran Bizantium ternyata dibagi bagikan kepada rakyat Konstantinopel. Raja Turki yang hebat, sifat baik hatinya mengalahkan sakit hatinya karena di caci maki oleh rakyat Konstantinopel atas usahanya mengusai Kekaisaran Bizantium yang sekarat.  Karena ketakutan orang Yahudi pada penguasa sebelumnya, dibawah kekuasaan raja Bizantium hanya terdapat dua atau tiga saja jemaat Yahudi. Orang orang Yahudi tidak diperbolehkan menempati Kota Konstantinopel karena properti mereka begitu besar.
              Mereka pun baru diperbolehkan membangun rumah dimana pun (tentunya di kota Konstantinopel) ketika Mehmed II berkuasa. Tidak lama kemudian, orang orang Yahudi di Kota Konstantinopel (Istanbul) meningkat drastis, dapat ditinjau dari jemaat yang bertambah hingga lebih dari empat puluh (Jumlah jemaat yang berada dalam bimbingan Rabbi Musa Kapsali). Meningkatnya jemaat Yahudi berjalan seiring dengan diijinkannya imigran imigran Yahudi menempati ibukota baru Kekaisaran Ottoman ini. Elia Kapsali juga mencampur adukkan unsur kepercayaannya dalam kroniknya.
“Jemaat Konstantinopel yang terpuji. Taurat, kekayaan dan kehormatan meningkat di antara para jemaat. Jemaat bersama sama memuji Tuhan, air mancur Israel, serta pelaku keajaiban besar. Mereka menyanyikan lagu surga dan diberkati Tuhan, semua hamba Tuhan yang berdiri di rumah Tuhan di musim malam”.
              Sebuah kronik singkat, namun sedikit banyak bisa menggambarkan situasi kota Konstantinopel pada pertengahan abad kelima belas. Sosok Mehmed II digambarakan sebagai sultan yang baik hati serta dermawan. Raja agung yang ditakuti oleh musuh musuhnya namun di cintai oleh rakyatnya. Pemimpin yang patut dicontoh. Pribadi muda yang ambisius. Pria yang menarik, hidupnya penuh tantangan. Sifat pantang menyerah dibalut ketekunan dan kecerdasannya menuntunnya melampaui penakluk penakluk agung sebelumnya seperti Attila the Hun, Alp Arslan dkk serta tentunya ayahnya sendiri.

              Elia Kapsali mensejajarkan Sultan Mehmed II dan Sultan Selim I dengan Alexander Agung. Raja Macedonia yang paling perkasa. Penguasa besar di dunia kuno yang meruntuhkan kekaisaran Persia dengan rentetan kemenangan. Alexander Agung, nama seorang laki laki yang melegenda. Begitu pun Mehmed II, namanya akan terparti dalam sejarah sebagai penakluk hebat yang murah hati.
Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.