Tampilkan postingan dengan label Asia Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asia Tengah. Tampilkan semua postingan

Beyezid the Thunderbolt vs Timur Lenk the Conqueror ; Kompetisi Perebutan Gelar Penguasa Islam Terhebat

           

             Hiruk pikuk dan sorak sorai kemenangan tiba tiba berganti duka mendalam. Serah terima status raja dari Murad I kepada putra mahkota Beyezid berlangsung sederhana. Kabar kematian Murad I di Kasovo disambut gembira oleh musuh musuhnya, kerajaan kerajaan tetangga bersemangat mencaplok wilayah Ottoman terutama emir emir Turki di Anatolia. Namun, Beyezid memadamkan pemberontakan kerajaan vassal, Germiyan dan Karaman. Serangkaian pembelotan yang dipaksakan berhasil ditumpas, Anatolia yang bergejolak menelan getah pahit kekalahan. Setelah stabilitas politik aman, Beyezid menggerogoti wilayah Kekaisaran Hongaria dengan menginvasi Wallacia. Raja Sigismund merasa terancam, kekaisaran Hungaria memperbaruhi kerjasama untuk membentuk liga anti Turki. Merespon hal tersebut, Beyezid menikahi Oliver, adik perempuan Lazar.
            Negara negara sakit hati yang mengeroyok Beyezid dalam pertempuran di Nicopolis (1396 M). Legiun legiun Romawi, Garnisun pasukan Hungaria, tentara bayaran Venesia dan ksatria Franco –Burgundi merapatkan barisan. Dari arah lain, kavelari ireguler baik pemakai pedang maupun busur panah menatap garang lawannya. Sementara itu, kesatuan elit Jennisari bersiaga dibelakangnya. Pasukan kaliveri bersenjata ringan dibawah Raja Serbia, Stephen Lazarevic dipukul mundur oleh ksatria barat yang bersenjata lebih berat. Ksatria ksatria Barat yang angkuh dan congkak mengalami kelelahan. Mereka terjebak perangkap, kavelari Ottoman yang lebih berat berduyun duyun menuruni bukit. Kecerobohan taktik yang fatal adalah ulah mereka sendiri yang meremehkan nasihan Sigismund yang lebih berpengalaman. Neraka pembantaian tidak dapat dihindari, sementara pasukan Hongaria dan sekutu sekutunya memilih kabur meninggalkan ksatrian Franco Burgundi[1] karena terlampau jauh untuk meyelamatkannya.
            Raja Sigismund menyesal membuang waktunya lantaran kecewa sebab kekhawatirannya tidak terbukti. Beyezid tidak melanjutkan ekspansinya ke utara, sebaliknya dia malah memindahkan pasukanya ke Asia menuju Anatolia, dari sinilah sebutan Beyezid sang petir dipopulerkan karena kecepatan dalam memindahkan pasukannya dari Eropa menyebrang ke Asia. Beyezid berhasil menumpas pemberontakan dan mengeksekusi Alaeddin yang notabene adalah kakak iparnya. Akan tetapi, kerajaan kerajaan vassal belum berhenti membelot. Kali ini mereka mencari perlindungan ke penguasa tujuh iklim yang tak terkalahkan. Timur Lenk harus berurusan dengan Beyezid karena musuh bebuyutannya, Sultan Ahmad dari Baghdad dan Qara Yusuf bersembunyi di wilayah kekuasaannya. Beyezid pun harus berurusan dengan Timur Lenk karena Penakluk Dunia tersebut melindungi Kaisar Manuel II dan turkoman turkoman di Anatolia.
      Eropa tiba tiba menggantungkan harapan kepada Azab Tuhan, seorang laki laki Uzbeks –Tartar yang mengklaim keturunan Genghis Khan. Serangkaian perang urat saraf mewarnai konfontrasi diplomatik yang menghina musuh dan mengagungkan tentaranya melalui surat yang diperantarai kurir. Timur Lenk mencuri inisiatif dengan menyerbu Sivas, sementara itu Beyezid masih dalam perjalanan yang melelahkan. Strategi unik diterapkan, Timur Lenk membuat Beyezid kewalahan. Sekutu sekutu Timur Lenk berbuat onar secara bergantian menyebabkan Beyezid mondar mandir. Seperti ungkapan sejarawan favorit saya, Justin Marozzi “Serangkaian Perjalanan yang dipaksakan”.
            Beyezid terlalu sibuk sekaligus semakin bingung. Para pengintainya tidak menemukan perkemahan pasukan Tartar, padahal pasukan Tartar sudah mencapai Qaysariyah. Selama seminggu, pasukan Tartar beristirahat dan bertahan hidup dari menjarah persediaan pangan pedesaan. Beyezid yang keras kepala terus mencari mangsanya tanpa memperdulikan pasukannya yang kehabisan tenaga. Beyezid melanjutkan pergerakan dengan percaya diri, sementara itu Timur Lenk melancarkan serangan ke Ankara. Beyezid panik dan dengan segera melakukan manuver balik.
            Pada 28 Juli 1402 pukul 10 pagi, dua raja paling ditakuti di dunia berduel memperebutkan gelar “Kaisar Zamannya”. Prestasi luar biasa Timur Lenk, mulai dari merobohkan kerajaan Golden Horde, merampas Baghdad, menendang Raja Georgia dan Sultan Delhi dari kursi istananya serta memaksa Mesir bertekuk lutut. Namun Beyezid tidak kalah cemerlang, dia memadamkan segala macam pemberontakan ganas di Anatolia, mencopot Shisman Bulgaria, membendung ekspansi gila gilaan dari aliansi anti Turki dan membinasakan ksatria ksatria Perancis yang angker. Beyezid merupakan seorang laki laki Turki yang menggelisakan Eropa sedangkan Timur Lenk[2] adalah seorang pria tua yang hobi membangun piramida tengkorak manusia yang menjulang tinggi di Asia.
            Pasukan Utsmani yang kelelahan mengambil statregi bertahan. Ketika ribuan anak panah menghujam tentara Beyezid, Amir Husain[3] membelot dan mengacaukan sayap kiri. Divisi Elit Timur Lenk menerabas masuk dan kavelari Serbia yang pengecut berlari tunggang. Meskipun Beyezid sudah kalah strategi sejak awal namun perlawanan gencar terus berlangsung hingga malam. Tiga puluh gajah perang menghantam pasukan elit Jennissari. Pasukan utama dapat dilumpuhkan, Beyezid tertawan dan mati mengenaskan dalam kurungan. Timur Lenk sang penguasa konjungsi yang sukses memenangkan ajang bergengsi melawan Beyezid sang petir, musuh terkuatnya.
            Timur Lenk mengembalikan emirat emirat lama dengan tujuan membatasi kekuatan Ottoman pada celah sempit memanjang dari Laut Marmara hingga Bursa. Dinasti dinasti Turkoman pembawa masalah bangkit kembali di Karaman, Aydin, Germiniyan, Menteshe dan Saruhan. Putra tertua Beyezid, Sulaiman menadatangani perjanjian Gallipoli yang merugikan pihak Ottoman dengan menyerahkan provinsi Thessaloniki. Kekaisaran Ottoman yang kehilangan banyak jajahannya harus menanggung perang sipil yang hampir meleyapkan dominasi Ottoman selamanya. Pangeran Mehmed I yang brilian, putra termuda Beyezid ini menyingkirkan kakak kakaknya melalui serangkaian taktik penuh spekulasi. Setelah sukses menumbangkan saudara saudaranya, Mehmed I mendapat hadiah spektakuler berupa dua krisis yang datang bersamaan.
            Pemberontakan Bedreddin dan ancaman Venesia yang menguji kepemimpinan Mehmed I. Kesulitan kesulitan tersebut bukan membuat Mehmed I menyerah pada nasib anehnya dia malah memutar balikkan keadaan sehingga Kekaisaran Ottoman yang sekarat mampu memulihkan stabilitas politiknya sekaligus memperluas wilayahnya. Murad II mewarisi kerajaan yang utuh sehingga pengepungan Konstantinopel pun dapat dilaksanakan. Kegagalan merebut Konstntinopel terbayar dengan keberhasilan mematahkan ekspansi Drakul dari Wallacia dan Isfendyaroghlu dari Sinop. Dalam 20 tahun, Murad telah mengembalikan wilayah wilayah yang hilang setelah pertempuran di Ankara, kecuali Karaman dan lembah Eufrates bagian atas. Pasukan Turki memblokade Thessalonikki dan memaksa Venesia menyerakhkan kota itu. Murad II juga menaklukkan emirat emirat lama secara bertahap, dari Aydin, Menteshe, Germiniyan, Saruhan dan terakhir Karaman. Peperangan melawan Ibrahim dari Karaman memberik Sultan musibah luar biasa. Anak kesayangannya, Alaeddin meninggal dalam pertempuran di musim gugur. Kesedihan menyebabkan Murad II mengambil keputusan mengejutkan dengan menyerahkan tahtanya kepada Mehmed II yang masih berusia dua belas tahun.
            Merespon berita gembira itu, Paus menginzinkan gerakan Perang Salib episode selanjutnya dimana Raja Vladislav dan John Hunyadi memimpin barisan pasukan Hungaria. Grand vizier memanggil Murad dari tempat pengasingannya di Manisa. Pertempuran pertempuran sebelumnya terulang lagi, kavelari Ottoman dipukul mundur oleh artileri lapangan berupa benteng pertahanan yang dapat digerakkan karena memakai konsep kereta. Dalam keadaan terdesak, Murad II melepaskan elit Jennisari yang tidak berkuda untuk menghancurkan kartu truf Hungaria tersebut. Pasukan Hungaria mundur dari mean perang, sementara Murad II berputar untuk mengatasi kemelut politik internal kerajaan. Pangeran Mehmed II masih belum mendapat kepercayaan dari kesatuan elite Janissari. Tentara elite Janissari yang memberontak akhirnya dapat diatasi oleh Murad II. Penyerangan Scanderbeg di Albania dan menghalau laju invasi kedua John Hunyadi adalah peperangan terakhir Murad II sebelum ia meninggal dunia pada awal tahun 1451 M.




[1] Franco – Burgundi adalah sebutan orang Perancis kala itu, dibedakan karena salah satu Provinsi bernama Burgundi memerdakakan diri dan membentuk kerajaan kuat yang berlangsung singkat.
[2] Perlu diketahui, Beyezid adalah penganut Islam sunni sementara Timur Lenk lebih memilih Syiah.
[3] Timur Lenk memanfaatkan kesetiaan suku dan menawarkan harta jarahan yang melimpah jika Amir Husain membelot dan bergabung bersama saudara Tartarnya ketika peperangan dimulai. Amir Husain percaya karena Timur Lenk terkenal dermawan.

Asal Usul Bangsa Turki




            Angin bertiup kencang. Ilalang ilalang bergoyang goyang di padang rumput yang luas. Derap kaki kuda bergemuruh. Gerombolan suku suku Turki berkeliaran dari timur stepa Eurasia hingga selatan sungai Yenisei dan danau Baikal. Menyusuri pengunungan Altai dengan berani. Selalu waspada bahaya. Terdidik di lingkungan liar, di dataran berumput Asia Tengah. Mereka adalah suku suku penunggang kuda yang professional. Mulanya mendiami bagian terluar Mongolia. Hidup berpindah pindah, dengan berternak kawanan kuda dan domba.
            Pada abad 774 M, kondisi politik dan militer akibat disintegrasi internal berbalut iklim cuaca yang tidak memungkinkan, suku nomaden ini bermigrasi ke arah selatan dan barat, menuju Eropa Timur, Timur Tengah. Mereka bertetangga dengan kelompok Qarluq di bagian barat, menggembala di tanah padang rumput Eurasia. Dikenal sebagai suku Turki Oghuz atau Turkoman. Dinasti Seljuk muncul dari kelompok suku Oghuz[1]. Akar nama Oghuz adalah kata o ¯gh/uq dalam bahasa Turki bermakna kelompok kekerabatan. Kumpulan terpadu dari beragam klan klan Turki.
            Utusan Khalifah Abbasiyah, Ahmad Fadlan, menyumbangkan rujukan informatif berharga tentang suku Turki sebelum terpengaruh islam. Perjalanan Ahmad Fadlan ke istana yang baru terislamisasi di Bulgar 921 M menghasilkan memoir sederhana. Fadlan berpergian melalui tanah Oghuz dari Khawarm, melewati Laut Kaspia dan terus ke utara lalu menyebrang sungai Emba dan Ural menuju lokasi tepi sungai Volga. Pertemuan dengan Oghuz, menuai kecewa berat. Menurut Bangsawan terdidik ini, tingkat budaya Oghuz sangat rendah, primitif dan penganut kepercayaan kuno yang jadul. Pemuja animisme dan dinamisme. Penyembah unsur unsur alam, menyakini totemisme dan pengikut shaman[2] yang hidup serba keterbatasan. Kondisi mengenaskan, kotor, bau dan senang berkeliaran seperti keledai liar yang gila.
Dia sempat bertemu pemimpin mereka, Yabghu. Yagbghu sebagai kepala suku memegang peran penting terhadap suku yang dipimpinnya. Oghuz menggunakan pola kesukuan yang tradisional dengan karakteristik persaudaraan. Keluarga Oghuz menampakkan diri di catatan sejarah pada pertengahan abad ke 6 M. Cahaya eksistensi yang muncul lalu redup, sudah jadi kecenderungan kerajaan suku suku barbar. Imperium nomad yang singkat di janting Asia, padang stepa yang kelak disebut Turkestan, tanah Turki. Ras Turki terpecah pecah, tersebar dengan nama nam yang membingungkan. Keluarga Uighur berlindung dibawah China, sebagian terkontaminasi pengaruh Persia, dan sisanya menerapkan sistem nomaden murni.
            Pejuang Arab yang heroik menyebrangi Oxus[3] pada situasi yang menguntungkan. Politik suku suku Turki yang berantakan harus menelan resiko, menjauhi bentrok fisik dengan bermigrasi mengikuti alur sungai Talas. Orang orang Arab menjuluki Ma Wara al-Nahr[4] pada provinsi Trasoxiana yang makmur. Transoxiana merupakan ujung paling timur perbatasan kekuasaan Islam. Suku suku Turki yang pengecut, menghilang dari peradaban. Pada abad kesembilan, mereka terlacak kembali, namun sebagai budak atau petualang yang melayani Khalifah Mu’tasim (833 -842 M). Penguasa muslim pertama yang memperkerjakan budak budak Turki sebagai penjaganya.
Sejak saat itu, Dinasti Abbasiyah terobsesi menjadikan budak budak Turki sebagai tentara. Mereka bisa naik pangkat hingga peringkat tertinggi, komandan tentara, gubernur provinsi atau bahkan pangeran independen[5]. Disintegrasi Kekaisaran Abasiyah[6] membuka kesempatan yang luas untuk berpetualang dalam pencampuran politik dunia Islam. Dinasti Samaniyah yang man tentram mendorong kemajuan pesat perniagaan, manufaktur dan kajian keilmuan di Khurasan dan Transoxiana. Pihak kerajaan mensponsori penyebaran Islam terhadap suku suku barbar.
            Situasi Eropa yang mencekam. Serbuan serbuan bangsa Skandinavia teramat bengis. Melalui sungai sungai perahu perahu unik Viking melancarkan serangan serangan membabi buta. Berbekal kapak tradisional Viking menjarah provinsi provinsi Eropa dan menjualnya ke imperium Abbassiyah. Rute perdagangan internasional yang melalui kota kota tua Ladoga, Novgorod, Kiev dan Bulgar serta melewati sungai sungai utama Rusia, Dnieper, Don dan Volga. Penemuan lebih dari 85.000 koin Arab yang ditimbun di Swedia, Finlandia dan Rusia adalah bukti kuat adanya hubungan Viking dan Peradaban Timur.
            Kepentingan ekonomi yang mengusung imam imam demi dakwah umat Islam berhasil mengkonversi Kerajaan Bulghar pagan menjadi Islam. Giliran mencoba mengkonversi Rusia, namun Vladimir dari Kiev memutuskan teguh mendukung Kristen (988M). Ras Turki yang kabur, menempati wilayah sekitar sungai Volga, sudah memeluk Islam sebelum tahun 921 M. Pedagang dan imam dari kerajaan Samaniyah sanggup mengislamkan kerajaan Bulghar dan 200.000 suku Turki. Namun, dinasti Samaniyah perlahan runtuh karena gagal menjaga loyalitas rakyat. Emir Nasr al-Sa’id (914-943) adalah penguasa yang dibenci oleh rakyatnya. Seperti halnya Khalifah Abbassiyah, dia juga mengangkat budak Turki menjadi pengawal pribadinya.
Salah satu perwira Turki, Alp Tagin merebut kota Ghazna lalu mendirikan kerajaan semi independen. Kerajaan Samaniyah remuk akibat anarki politik yang berkepanjangan. Dalam situasi kacau balau suku suku Turki Oghuz dari padang rumput Turkestan datang bermukim di Bukhara (999 M) setelah menyebrangi Jaxartes. Perantau Turki dibawah kepala suku bernama Seljuk menempati sepanjang hilir Jaxartes. Seljuk merupakan tokoh legendaris Turki Oghuz yang kisahnya menyerupai Clovis[7]. Anak laki laki Seljuk, Arslan mendukung Samaniyah namun terkendala putra Alp Tagin, Mahmud (1000-1030 M).
Mahmud yang licik memanfaatkan peluang bagus dengan mencaplok provinsi Khurasan dari Samaniyah yang lemah. Dinasti Persia Samaniyah pun tinggal kenangan. Ekpedisi[8] ke India mengantarkan Mahmud pada ketenaran. Mahmud menjarah kuil kuil[9] Hindu dengan alasan menghancurkan penyembah berhala atas nama Tuhan dan Nabi-Nya. Namun, motif sesungguhnya adalah keserakahan.
Selama tiga puluh tahun memerintah, Mahmud dan anaknya Mas’ud terlalu asyik berburu harta karun India hingga melupakan masalah imigran Turki yang terus meningkat. Setelah kematian Mahmud, keponakan Arslan, Tughril Beg dan Chahri Beg berpetualang ke Khurasan. Mereka merebut Merv dan Naisabur setelah kesuskesan memukul mundur pasukan Mas’ud. Kemenangan yang membuka jalan merebut Balkh, Jurjan, Thabaristan, Khawarizm, Hamadan, Rayyi dan Isfahan serta menandai era kekaisaran Turki Seljuk. Disintegrasi dinasti Buwaihi[10] yang mengendalikan kekaisaran Abbassiyah merupakan keberuntungan cucu cucu Seljuk.
Pemerintahan Buwaihi terusir akibat ulah suku suku Turki yang liar. Jendral Al- Basasiri beserta raja Buwaihi terakhir angkat kaki dari Istana Baghdad, menandai berawal pengaruh Turki Seljuk. Khalifah Al Qa’im (1031-1075 M) menyambut kompoltan Seljuk Turki tersebut dengan perjamuan yang meriah. Ketika Tugril Beg mengadakan ekspedisi ke Azebaijan, Jendral Al Basasiri menguasai Baghdad mengusung kepentingan dinasti Fatimiyah[11]. Baghdad dalam cengkraman dinasti Fatimiyah, hingga kepulangan Tughril Beg. Tughril memasang kembali Al-Qa’im sebagai penguasa boneka dan membunuh penghianat al- Basasiri serta membubarkan kesatuan tentara Dailami.
Tughril Beg tidak mempunyai anak, sepeninggalannya diteruskan oleh anak dari Chagri Beg, Alp Arslan (1072 – 1092 M). Merosotnya kekuatan Islam kembali ditegakkan oleh Alp Arslan yang mengobarkan semangat ghazi atau penyelamat iman yang saleh. Sang Ghazi menduduki, Ani, Ibukota Armenia Kristen lalu mencaplok wilayah musuh abadinya. Kaisar Romanus Diogenes meresponnya dengan pertempuran di Mankizert, sebelah utara Danau Van di Armenia.
Bulan Agustus 1070 M menjadi bulan bencana bagi Romawi Timur. Romanus yang tertawan, diperlakukan sopan dan dibebaskan setelah pembayaran tebusan. Kaum pengembara Seljuk berhasil menjadi kelompok Muslim yang pertama kali menghuni tanah orang Romawi di Asia Kecil sekaligus pelopor Turkifikasi. Alp Arslan menunjuk sepupunya, Sulaiman Ibn Quthlumisy sebagai penguasa baru wilayah Asia Kecil. Disinilah muncul Kesultanan Seljuk Romawi atau Seljuk Rum yang beribukota di Nicaea[12].
Pada tahun 934 M khalifah dinasti Fatimiyah, Abu al-Qasim memimpin pasukan bajak laut warisan dinasti Aglabiyah untuk menyerbu pantai utara Perancis, menguasai Genoa dan sepanjang pesisir Calabria setelah  keberhasilan ayahnya menaklukkan Sardinia, Balearic, Malta, Corsica serta pulau pulau lainnya. Pada awal tahun 972 M bajak laut Muslim diusir dari pantai Mediterania Perancis dan Italia.
Periode kemunduran Dinasti Fatimiyah terjadi semenjak naik tahtanya Khalifah Abu Ali Manshur al Hakim. Seorang biang keladi Perang Salib, dia menghancurkan gereja Kristen termasuk kuburan suci umat Kristen di Yerusalem (1009 M). Memicu kemarahan umat Kristen, meskipun khalifah berikutnya memperbaiki gereja tetapi persepsi tidak toleran sudah terlanjur melekat dibenak orang orang Kristen Eropa.
 Perang melawan Fatimiyah diresmikan, bukan oleh Seljuk, melainkan oleh seorang kepala Turkoman bernama Atsiz. Seljuk Rum merebut Palestina (1070 M) disusul kemudian Madinah dan Mekkah. Setelah mendapat pukulan berat dari Seljuk Rum, giliran musuh lama dinasti Fatimiyah unjuk gigi. Armada angkatan laut dari Pisa dan Genoa menyerbu Ibukota Fatimiyah lama Mahdiya (1087 M) dan membebaskan budak Kristen serta meminta uang tebusan lalu pada tahun 1091 M merampas Sardinia sedangkan Sisilia, Palermo (1072 M) dan Malta (1090 M) diikuti pulau pulau lainnya jatuh ketangan bangsa Normandia.
            Kemenangan orang orang Eropa membuktikan kelemahan dunia Islam dan perpecahan hebat dikalangan umat Muslim. Kontrol Laut Mediterania diambil alih oleh orang orang Eropa. Mendorong pembukaan kembali rute laut bagi para peziara. Insiden penghancuran gereja suci menyebabkan perhatian dunia Latin terhadap Jerussalem dipertajam. Ekspedisi militer baru dilaksanakan setelah Kaisar Byzantium Alexius I meminta bantuan Eropa dalam membendung pergerakan Seljuk Rum.
Paus Urbanus II berpidato ditengah tengah lautan manusia penuh emosi. Meneriakkan slogan Deus Vult (Tuhan Menghendaki) sambil mengacung acungkan tangan. Musim semi 1097 M, 150.000 manusia berkumpul di Konstantinopel. Gabungan tentara Salib dan legiun legiun Romawi menyebrang ke Asia Kecil memasuki daerah kekuasaan Qilij Arslan, penerus Sulaiman Ibn Qurlumisy. Perang Salib pertama yang diwakili oleh Seljuk Rum mengalami kekalahan dalam pertempuran di Dorylaem (1 Juli 1097 M). Legiun legiun Romawi ditarik kembali ke Konstantinopel, sedangkan pasukan utama Salib melanjutkan perjalanan menuju Palestina dan Suriah. Yerussalem dikuasai Tentara Salib dengan mudah.
Dinasti Seljuk Suriah yang didirikan oleh Tutusy, putra Alp Arslan, menjadi target Tentara Salib berikutnya. Kematian Sultan Malik Shah (1092 M) dan saudaranya Tutusy (1095 M) merupakan akhir kejayaan Turki Seljuk yang kurun waktunya tak lebih seperti musim panas di India. Seljuk tidak ditakdirkan menyembuhkan perpecahan namun lebih kepada menyewa panggung sejarah dunia Muslim selama hampir dua abad. Anak Tutusy, Dukak dan Ridwan yang masing masing menguasai Aleppo dan Damaskus, sibuk bertengkar memperebutkan warisan ayahnya.
Keadaan dinasti Seljuk yang dilanda perang sipil, sama parahnya dengan kondisi dinasti Abbasiyah maupun dinasti Fatimiyah yang sekarat. Situasi menguntungkan bagi Tentara Salib, tidak mengherankan jika Antiokia dapat diduduki Tentara Salib (1098 M). Tatkala delegasi Muslim meminta bantuan Khalifah Mustazhir (1094-1118) di Baghdad, tuan rumah hanya memberi simpati dan cucuran air mata lalu menyarankan menghubungi sultan Seljuk, Barkiyaruk (1094-1104 M) sang pemabuk. Delegasi itu pulang tanpa membawa hasil. Serangan pasukan Salib ke kota Tripoli menyebabkan walikotanya meminta pertolongan namun mendapat jawaban yang sama dengan delegasi sebelumnya. Tiga tahun kemudian, delegasi ketiga dari Aleppo menggebrak mimbar dan menggangu jalannya sholat Jum’at yang dihadiri Khalifah Abbassiyah. Delegasi ketiga memperoleh rasa kecewa, karena pemimpin kaum beriman berinisiatif mengirim segelintit balatentara yang tidak berarti apa apa.
Perang Salib berkobar semakin hebat. Nafsu duniawi Tentara Salib yang dibalut rapi dengan semangat religius membuat Tripoli (1109 M) dan Beirut (1110 M) menyerah. Operasi militer terhadap Aleppo memicu demonstrasi kekerasan di Baghdad menuntut perang suci melawan penjajah kafir. Sultan Seljuk baru, saudara Berkyaruk, Muhammad (1104-1118 M), merespos dengan menunjuk salah satu perwiranya Mawdud sebagai gubernur Mosul. Mawdud mematahkan perlawanan kaum Franka[13] yang mengepung Edessa dan mempermalukan Raja Baldwin dari Yerussalem dalam pertempuran di Tiberias (1113 M).
Tugas mengusir para penyusup Barat memerlukan rekruitmen tentara, bukan dari Suriah maupun Mesir namun dari Irak utara. Penerus Mawdud adalah seorang budak Turki bermata biru yang masih keturunan sultan Maliksyah[14], Imad al – Din Zangi. Pasukan Zangi mengambil Aleppo. Zangi dibunuh oleh seorang budak (1146 M), dia digantikan anaknya yang lebih cakap, Nur- Al Din Mahmud yang memilih Aleppo sebagai ibukotanya. Dia menendang raja Joscelin II dari Edessa (1151 M) dan menaklukkan Damaskus (1154 M). Satu persatu wilayah kekuasaan Kristen jauh ketangan Islam. Merespon hal itu, St Bernard dari Clairvaux menggelorakan perang Salib kedua. Kaisar Conrad dan Raja Louis VII dari Perancis mendarat di Levant dan mencoba menaklukkan Damaskus. Pengepungan Damaskus dan serang serangan lain berbuah kegagalan bahkan kerugian karena harus menebus raja muda Bahemond III dari Antiokia dan Reymond III dari Tripoli yang tertangkap pada tahun 1164 M.
Nur Al Din Mahmud menyusupkan seorang pemimpin militer bernama Syirkuh untuk memanfaatkan dinasti Fatimiyah yang sekarat. Syirkuh menapaki karier militer dan politiknya hingga menerima jabatan menteri (1169 M) dibawah Al Adid (1160-1171 M). Syirkuh meninggal dunia tak lama setelah pelantikannya, jabatan menteri digantikan oleh keponakannya Shalah al –Din Ibn Ayyub[15] yang populer. Menggunakan Mesir sebagai basis militer, Saladin berusaha mengusir bangsa Frank dari bumi Palestina. Penguasa dinasti Fatimiyah terakhir tidak mempunyai anak, Saladin mengambil alih dinasti Fatimiyah dan menggabungkannya dengan warisan Zangi di Mosul. Pembajakan bangsawan Reynald dari Chatillon dan Raja Guy di Laut Merah terhadap kafilah kafilah Muslim memicu kemarahan Saladin.
Pasukan Saladin menyerbu menyerbu Kerajaan Yerussalem, sebelum sampai di benteng Yerussalem Tentara Salib dibawah pimpinan raja Guy sudah hancur duluan dalam pertempuran Hattin (1187 M). Berita jatuhnya Yerussalem terdengar di Eropa, Kaisar Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci, Philip dari Perancis dan Richard dari Inggris mengobarkan perang Salib ketiga yang berakhir dengan perjanjian damai. Saladin meninggal dunia di Damaskus pada tahun 1193 M, pahlawan dunia Muslim dan dihormati oleh musuh Kristen sebagai model ksatria Timur. Sepeninggalannya dinasti Ayyubiyah membentang dari perbatasan Tunisia hingga pegunungan Armenia.
            Sementara itu, khalifah Abbassiyah Al Nashir (1180-1225 M) berupaya memulihkan kekhalifahan seperti sediakala. Pergolakan internal yang tidak berkesudahan diantara pangeran Seljuk, ditambah fakta bahwa Saladin mengakui kekhalifahan Abbassiyah memberikan peluang kepada Al Nashir. Kesalahan serius ketika menghasut Takasy, penguasa Khawarizm (1172-1200 M) untuk menyerang bangsa Turki Seljuk yang bobrok. Al Nashri berencana menggantikan wali Abbassiyah, yang semula Seljuk ke dinasti Khawarizm[16]. Dalam pertempuran melawan Sultan Tughril (1177-1194 M), Takasy mendapatkan kemenangan yang mengakhiri garis dinasti Seljuk di Irak dan Kurdistan.
            Perselisihan masih berlanjut, putra Takasy Ala al Din Muhammad (1200-1220 M) yang enerjik mencaplok sebagian besar Persia (1210 M), menundukkan Bukhara, Samarkand dan Ghazna (1214 M) serta memutuskan untuk melenyapkan kekhalifahan Abbassiyah. Dalam ketidakberdayaan Al Nashir malah mengundang sumber bencana yang menurutnya adalah sebuah harapan. Al- Nashir mengundang tamu dari timur jauh (1216 M), setelah berita tentang kehebatan tentaranya terdengar di Istana Baghdad. Figur Jenghis Khan (1155 – 1227 M) yang berkharisma mampu membangkitkan gairah menjajah suku suku Mongol yang kolot dan bodoh. Temudjin[17] menjawabnya dengan mengirim 60.000 orang, ditambah sejumlah tentara yang direkrut dari rakyat yang ditaklukan sepanjang perjalanan[18].
            Ala al Din Muhammad yang percaya diri terhadap cita citanya mendirikan dinasti Aliyah seketika putus asa melarikan diri ke sebuah pulau terpencil di Laut Kaspia, demi menghindari dari penunggang kuda Mongol yang terkenal bau dan jorok. Karakter Ala al Din Muhammad yang keren beserta sosok pria ideal yang terhormat ternyata mengakhiri hidupnya sebagai pecundang hina yang mati menyedihkan (1220 M). Warisan Ala al Din Muhammad berupa cerita rakyat turun temurun yang kondang tersirat sekaligus epik dalam legenda setempat. Pria pria asing yang bringas dari suku suku tidak beradab di utara China merangsek membabi buta. Menebar teror dan malapetaka bagaikan serpihan neraka. Kerusakan yang mereka perbuat hampir menyapu bersih kegemilang peradaban Islam dan menguburnya dalam kenangan nostalgia yang diceritakan layaknya dongeng fiksi. [19]
            Bukhara, Samarkhan, Herat, Balkh dan kota kota lain di Transoxiana runtuh menyisakan puing puing. Penduduk Herat menyusut drastis, penghuni Samarkhan dan Balkh disembelih atau diseret untuk dijebloskan ke tahanan. Warga kota Bukhara mengutuk Jenghis Khan dan menggambarkan sosoknya sebagai “bencana yang dikirim Tuhan kepada umat manusia”, pengaruh Islam juga tercermin pada pernyataan lanjutannya yaitu “hukuman atas dosa dosa mereka”.[20] Sumber sumber kontemporer menegaskan serbuan gila gilaan bahkan mencapai Samarra. Seluruh Bagdad merinding ketakutan, khalifah al- Nashir, putra mahkota al-Zhahir (1225-1226) dan al Mustanshir (1226-1242 M) menghabiskan hari harinya bersama rasa cemas. Perjuangan habis habisan, membela diri dan bertahan di balik dinding Baghdad adalah kewajiban rakyat ibukota. Kedamaian sejenak adalah angin sejuk ilusi yang akan berganti badai mematikan yang berbahaya.
Baghdad yang merupakan zona nyaman kini membunyikan alarm daruratnya ketika Hulagu Khan berupaya membasmi kelompok pembunuh spesial (Hasasin)[21](1253 M). Setelah berhasil menumpas pemberontakan pemberontakan berskala kecil namun bertebaran di atas reruntuhan imperium Syah Khawarizm, Hulagu Khan menawarkan kerjasama kepada kekhalifahan Abbasiyah untuk berpartisipasi dalam rencana merebut benteng Alamut. Khalifah al Musta’shim (1242-1258 M) cuek dan tidak menghiraukan undangan baik dari Hulagu Khan. Ternyata menduduki sarang Hasasin tidak terlalu sulit, misi pun selesai dan kelompok unik ini dileyapkan. Undangan yang tidak digubris membuat Hulagu khan yakin pada spekulasinya. Semula masih mempercayai bahwa kekaisaran Abbassiyah menyimpan pasukan hebat kemudian berpikir ulang dan sadar akan lemahnya kekhalifah Abbasiyah.
Kejayaan kekaisaran sudah lama pudar, yang ada hanya sifat menumpang seperti halnya benalu sehingga Hulagu Khan berani memberikan ultimatum kepada Khalifah untuk menyerah dan mendesar agar tembok luar kota diruntuhkan. Khalifah yang labil mendapati dirinya dan seluruh pegawai istana bingung dan ragu. Permintaan yang tidak diindahkan terpaksa diwujudkan sendiri, gempuran hebat prajurit prajurit Mongol mampu meruntuhkan salah satu menara benteng mengagetkan seluruh penduduk Baghad. Ibnu al-Alqami yang menjabat sebagai Wazir datang kepada Hulagu bersama seorang katolik Nestor untuk memohon tenggat waktu dan berharap istri Hulagu yang Kristen bisa mempengaruhi keputusannya. Namun, kepribadian Hulagu sangat mantap, dia menolak dan mengabaikan peringatan peringatan konyol.[22]
            Pasukan Hulagu menembus gerbang kota Baghdad, khalifah dan tiga ratus pejabatnya buru buru menjilat dan menyesali perbuatannya dengan menawarkan penyerahan diri tanpa syarat. Hulagu yang geram dan licik menunda pembantaian selama sepuluh hari kedepan. Kota Baghdad bernasib sama dengan Roma, dua ibukota peradaban paling kaya di dunia harus rela dijarah dan dibakar oleh suku suku barbar yang haus harta benda. Mayat mayat membusuk bergeletakan di jalanan yang berulangkali didahului suara jeritan.
            Dunia Muslim mati suri terbengkalai tanpa khalifah yang namanya selalu disebut sebut dalam sholat Jum’at. Hulagu Khan yang belum puas kembali mengancam peradaban Islam yang sekarat. Suriah utara menjadi target berikutnya, sebelumnya tentara Hulagu Khan menduduki Hamah dan Harim, sementara Aleppo banjir dengan darah penghuninya. Hulagu yang bersedih atas kematian saudaranya memilih untuk berduka dengan pulang ke Persia. Penaklukan atas Suriah memerlukan balatentara untuk mempertahankan kota tersebut agar tidak jatuh ketangan musuh, namun kemenangan Baybars[23] dalam pertempuran di Ain Jalut (1260 M), di sebuah mata air Goliath dekat Nazareth meredam invasi Mongol sepenuhnya.
            Sementara itu, Seljuk Rum terpecah pecah dalam provinsi provinsi yang dikuasai elit lokal dari suku suku Turkoman. Anatolia terbagi dalam empat keemiran utama, Aydin, Geminiyan, Saruhan, Menteshe, Karaman dan Ottoman. Penguasa bergelar emir, berjuang mempertahankan provinsi perbatasan. Para komandanya disebut beys dan semangat iman Islam melawan kaum kafir dinamai Gazis. Akan tetapi, Seljuk Rum yang tersisa hanyalah keemiratan Germiniyan. Pada abad ke 12 dan 13 lebih disibukkan dengan anarki anarki internal dan upaya disintegrasi yang dipelopori oleh para komandannya. Mentese Bey, seorang pemimpin Gazis dari pesisir barat daya menyerbu pantai Byzantium. Dari arah utara, Dinasti Germiniyan berdiri di Kiitahya tahun 1286 M dan mengadakan ekspedisi menggerogoti kekuasaan Mongol.
Keemiratan Germiniyan yang kuat juga merampas pantai Aegean milik Byzantium. Kerajaan Turki independen lainnya adalah Aydin yang memerintah Smyrna (Izmir) dibawah anak kedua Umar Bey. Emirat Aydin membangun armada laut yang siap meneror perbatasan laut Byzantium. Komandan Germiyan lainnya, diperkirakan tahun 1313 M membentuk dinasti Saruhan di Lydia utara dengan ibukota Magnesia (Manisa). Kerajaan Saruhan aktif membombardir pulau pulau Genoa demi membuktikan superioritasnya di Laut Aegean. Satu lagi, komandan Germiyan yang berhasil menegakkan keemiratan yang lebih hebat dibandingkan Germiyan, Dinasti Karaman yang beribukota di Misia. Semua pecahan Seljuk Rum, kecuali Ottoman yang keemiratannya diarsiteki oleh Osman.




[1]Oghuz mempunyai banyak julukan, Sejarawan Byzantium menyebutnya Ouzoi, orang Yahudi Khazar mengenalnya sedangkan penulis kronik Rusia sepakat dengan penulis dari penganut Nestorian, menamai Torki.
[2] Shaman adalah dukun suku primitif
[3] Oxus adalah batas tradisional antara peradaban dan barbarisme di Asia Barat, antara Iran dan Turan, dan legenda Persia, versi epik besar Firdausi, para Shanamah, mengatakan pertempuran heroik Iran terhadap Turanian raja Afrasiyab, yang pada akhirnya diburu dan dibunuh di Azerbaijan.
[4]Ma Wara al-Nahr berarti berada di luar sungai, provinsi yang berkembang cakupannya. Terbebas dari serangan suku suku nomaden yang hobbi menjarah. Kota kotanya meliputi Samarkand dan Bukhara yang ketenaran dan kekayaannya melegenda.
[5] Ahmad bin Tulun, seorang Turki yang menjadi pangeran setelah kesuksesnnya merebut Mesir pada 868 M.
[6] Khalifah berhenti menggunkan wewenangnya di perbatasan timur jauh, tugas mengamankan Jantung Peradaban Islam di Transoxiana dipikul oleh dinasti kecil Samaniyah. Pemimpin dinasti Samaniyah lebih brilian daripada khalifah Abbassiyah yang lemah. Dinasti ini mampu melindung dari serangan membabi buta bangsa barbar nomaden.
[7] Clovis adalah kepala suku Frank yang tangguh. Dia meninggalkan kepercayaan pagan dan memeluk Kristen Katolik pada tahun 496 M sama seperti Seljuk, seorang kepala suku Turki Oghuz yang meninggalkan keperacayaan pagan dan memeluk Islam pada tahun 960 M. Keduanya adalah tokoh legendaris bagi bangsa Perancis (Clovis) dan bagi bangsa Turki (Seljuk).
[8] Ekspedisi militer Mahmud ke India sangat sistematis dan tepat sasaran. Ini berkat bantuan ilmuwan muslim terkemuka, Al Biruni yang membantu sang Emir dengan membuatkan peta India.
[9] Kuil kuil Hindu menyimpan harta kekayaan lebih banyak daripada tempat manapun di India bahkan lebih kaya daripada kerajaan Hindu sendiri.
[10] Buwaihi diambil dari nama Ahmad Ibn Buwaih, dia adalah keturunan Abu Syuja’ Buwaih yang mengaku keturunan raja raja Sasanid kuno. Ahmad Ibn Buwaih memimpin gerombolan orang orang dataran tinggi Dailami yang gemar berperang. Dinasti Buwaihi seakan menjadi perwalian dari Khalifah dalam segala urusan kerajaan Abbassiyah.
[11] Dinasti Fatimiyah adalah dinasti Islam Syiah yang menguasai Afrika Utara, pantai pantai Eropa di Mediterania, dan sebagian Timur Tengah. Sa’id Ibn Husayn mengaku keturunan Fatimah, dia mendirikan dinasti Fatimiyah setelah membuang semua keturunan Ziyadatullah, penguasa dinasti Aglabiyah terakhir.
[12] Nicaea adalah nama dari bahasa Yunani kuno, kota polis Yunani di zaman kuno. Niqiyah versi bahasa Arabnya dan versi bahasa Turki disebut Izniq).
[13] Franka adalah sebutan orang orang Perancis di masa Abad Pertengahan.
[14] Sultan Maliksyah (1072 -1092 M) adalah penerus Alp Arslan. Masa pemerintahannya merupakan puncak kejayaan Seljuk Turki. Zangi adalah keturuanan Maliksyah dari ibu seorang selir keturunan Eropa.
[15] Shalah al Din Ibn Ayyub atau Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi, dikenal barat sebagai Saladin lahir di Tikrit (1138 M) dari keluarga Kurdi, Irak Utara.
[16] Dinasti Khawarizm selama lebih dari seratus tahun ditakdirkan menonjol di Asia Tengah, seorang budak dari Ghaznah yang bekerja sebagai pembawa cangkir Maliksyah diangkat menjadi gubernur Khawarizm. Dia adalah Al Juzwayni yang nantinya mendirikan dinasti Khawarizm.
[17] Temudjin adalah nama asli Jenghis Khan. Jenghis Khan merupakan sebuah gelar yang populer yang disandangnya, gelar yang memiliki arti “Raja diraja” atau Raja dari para Raja.
[18] Perekrutan tentara dari rakyat yang telah ditaklukan adalah kebiasaan militer Mongol demi mendukung ekspansi kedaerah yang lebih jauh, cara ini diperkenalkan oleh sang Raja diraja Temudjin.
[19] Bangsa Mongol yang membinasakan seluruh negeri Muslim mendapatkan hadiah stigma buruk. Karakter pembawa bencana dan tanda tanda kiamat melekat dalam identitas Mongol yang diserupakan ajaran ajaran kedatangan Dajjal, meskipun hukum bagi suku suku barbar berlaku juga kepada suku Mongol. Maksudnya, suku suku taklukan Arab manapun pasti akan turut memuliakan Islam. Dari suku Tartar, Turki, Berber, Persia, Mongol dll.
[20] Saksi mata peristiwa horror itu, Ibnu al Atsir mencemoohnya dengan kalimat “seandainya ibunya tidak pernah melahirkannya.
[21] Kelompok Hasasin adalah penganut sekte Ismailiyah yang menyimpang, mereka pembunuh pembunuh yang professional dan terlatih membunuh dengan cara yang tidak lazim dizamannya.
[22] Hulagu Khan tidak akan mempan dengan peringatan peringatan penuh khayalan yang digubah Khalifah yang sudah sejak lama menjadi boneka tanpa kekuatan. Hulagu yang bodoh, buta huruf dan tidak berpengetahuan tidak akan mempertimbangkan sedikitpun peringatan larangan mengganggu “kota kedamaian atau “jika khalifah terbunuh, alam semesta akan kacau balau, matahari menyembunyikan wajahnya, hujan berhenti turun, dan taka da lagi tumbuhan. Memang khalifah itu Tuhan, padahal Hulagu hanya seorang pagan yang bahkan tidak percaya apapun selain yang mengantarkan pada kesenangan.
[23] Baybars adalah panglima perang Sultan Mamluk, Quthuz. Kemenagan gemilang Baybars tidak memberikannya apapun, terutama harapannya yang sia sia untuk memiliki Aleppo sebagai hadiah atas keberhasilan miliernya. Quthuz yang serakah dan Baybars yang kecewa menuangkan pembunuhan penuh kemunafikan, dalam perjalanan pulang ke Suriah, ketika berburu bersama Quthuz, seorang bawahan Quthus mencium mendekati sultan lalu mencium tangannya dan Baybars menebas lehernya dengan pedang (24 Oktober 1260 M). Baybars dengan mudah memperoleh simpati dan naik tahta berkat kepopulerannya, apalagi kepiawainnya dalam bernegoisasi dan menjalin kerjasama terbukti kerjasamanya dengan kerajaan Golden Horde atau orang orang Mongol Qipchaq (yang mendirikan kekaisaran setelah ekspansi tak terbendung hingga Prusia Timur dibawah pimpinan Batu dan berhenti ketika saudaranya, Mangu Khan meninggal dunia) menghentikan invasi Hulagu Khan. Sultan Baybars juga berhasil membubarkan sisa sisa kelompok Hasasin yang lolos dari pembantaian Hulagu Khan untuk selama lamanya.
Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.