Tampilkan postingan dengan label Portugis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Portugis. Tampilkan semua postingan

Riwayat Hidup Ratu Zionis

Describes the Jews in Turkey in his travel diary:
            In Turkey you will find in every town innumerable Jews of all countries and language. Wherever Jews have been expelled in any land they all come together in Turkey, as thick as vermin; speak German, Italian, Spanish, Portuguese, French, Czechish, Polish, Greek, Turkish, Syiriac, Chaldean and other language besides these. As is their custom, every one wears clothes in accordance with the language he speaks.
                     In Constantinople, the Jews are thick as ants. The Jews themselves say that they are very numerous. They live in the lower part of the city near the sea. Those Jews that are old, who have a little money, travel to the Holy Land, to Jerusalem, and still hope that they will one day all come together, from all countries, into their ownnative land and there secure hold of the government. The well-to-do Jews send money to Jerusalem to support them, for one cannot make any money there...
                      Many Marranos - that is Jews who turned Christian, as in Spain or voluntarily became Christians in other places - all come to Turkey and become Jews again. The Jews of Constantinople also have a printing press and print many rare books. They have goldsmiths, lapidaries, painters, tailors, butchers, druggists, physicians, surgeons, cloth-weavers, wound-surgeons, barbers, mirror-makers, dyers, silk-workers, gold-washers, refiners of ores, assayers, engravers…  The Jews do not allow any of their own to go about begging. They have collectors who go from house to house and collect into a common chest for the poor. This is used to support the poor and the hospital.
~ Hans Dernschwam, agen perjalanan dari rumah perbankan Fugger ~
~ 1510 – 1555 M ~



Gambar 5.1 Dona Gracia Nasi dan Don Joseph Nasi from Arthur Szyk’s Ilustration in the Last Day of Shylock by Ludwig Lewisohn.
Organisasi Zionis Internasional bernama lengkap Women’s Internasional Zionist Organisation Departemen of Edication menerbitkan dokumen tentang laporan perjalanan Doña Gracia Nasi. Sosok Doña Gracia Nasi yang melegenda masuk mata pelajaran sejarah di Israel. Seorang wanita Portugal yang berasal dari keluarga kaya raya. Selama abad keenam belas dia melakukan serangkaian perjalanan yang turut menyumbang informasi berharga mengenai orang orang Yahudi di Kekaisaran Ottoman. Saksi mata ini menjelaskan bahwa imigran imigran Yahudi dari berbagai daerah di Eropa memperoleh perlindungan dari beragam penganiayaan.
Para pendatang Yahudi serasa menghirup angin segar dibawah otoritas Sultan Turki. Sepanjang abad kelima belas dan enam belas beberapa orang Yahudi bahkan menempati posisi penting di birokrasi kerajaan Utsmani atau menjadi saudagar kaya raya dengan menguasai lokasi lokasi perdagangan yang strategis. Doña Gracia Mendes dan keponakannya João Miques, lebih populer dengan nama Don Joseph Nasi merupakan pengusaha perbankan dan pemilik rumah rumah penyewaan yang berskala internasional. Pada kuartal ketiga abad keenam belas adalah kejayaan bagi dua marranos Portugis ini, kekuatan uang mereka bisa mempengaruhi beberapa urusan penting kekaisaran.
Keluarga konglomerat tersebut menjadi pahlawan bagi komunitas Yahudi yang tertindas. Persahabatan dengan Sultan Turki memungkinkan negeri Islam bersedia menampung pengungsi Yahudi dari Eropa. Sepenggal biografi singkat dari Doña Gracia Nasi dan berbagai pengalamannya mengunjungi negeri Ottoman akan memberikan gambaran perlakuan Kesultanan Utsmaniyah terhadap minoritas Yahudi.
            Semua bermula dari sejarah Spanyol, peperangan rentan melanda Spanyol dan selalu mengatasnamakan agama. Peperangan demi peperangan terus menerus berlangsung di wilayah perbatasan Dunia Islam Timur dan Dunia Kristen Barat. Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella berusaha mengusir kaum Moor yang tersisa. Kerajaan vassal, Granada bertempur mati matian dari tahun 1482 – 1492 M. Pasukan Moor mengalahkan serbuan Ferdinand V di Loja. Namun, pasukan Spanyol berhasil mematahkan logistik tentara Moor dari Afrika Utara sehingga kota kota silih berganti dapat ditaklukkan. Ronda jatuh pada tahun 1485 M, Loja di tahun 1486 M dan Malaga di tahun berikutnya. Puncak agresi Spanyol adalah pengepungan Granada (1491 M). Benteng terakhir umat Islam di semenanjung Iberia menyerah pada tanggal 6 Januari 1492, mengakhiri 500 tahun proses merebut kembali Spanyol.
            Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella tidak menolerir agama manapun selain Kristen Katolik sangat berbeda dengan penguasa sebelumnya. Kebijakan ini dapat terealisasi karena Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella mendapat sponsor langsung dari Gereja Katolik Roma. Pengusiran berlaku bagi siapapun yang tidak mau memeluk agama Kristen Katolik. Dekrit pengusiran ditandatangani pada 31 Maret 1492 oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Pada periode penuh kekacauan dan pergulatan agama inilah seorang Dona Gracia Nasi lahir.
          Gadis Yahudi yang dianugerahi nama Gracia oleh pembaptisnya, Beatrice de Luna. Nama sesungguhnya adalah Hanna (Ibrani). Gracia lahir tahun 1510 di Lisbon, Portugal. Dia merupakan anak dari keluarga bangsawan Yahudi Marrano.[1] Keluarga Nasi yang kaya raya berasal dari Spanyol. Saudara laki lakinya, Samuel Nasi, mengganti namanya menjadi Agostinho Miguez demi melanjutkan karirnya sebagai dokter Kerajaan dan dosen kedokteran di University of Lisbon. Secara sembunyi sembunyi, Garcia mempraktekkan iman Yudaisme bersama adiknya Reyna (Ibrani; Malka) yang dibaptis oleh Brianda de Luna. Selama status Marrano melekat, Garcia mempertahankan kepribadian ganda dimana akan menunjukkan kesalehan Kristen Katolik di ruang publik dan mengimani Yudaisme diam diam. Pada tahun 1525, Gracia memutuskan untuk mengasuh dua keponakannya yaitu (Joseph; Ibrani) Joao dan (Samuel Miguez Nasi; Ibrani) Agostiho karena kakaknya menemui ajal.
Gracia memahami posisinya setelah menyaksikan peristiwa pembunuhan yang melecehkan terhadap dua mesias yang muncul mendadak di tengah masyarakat Marrano. David ha-Reuveni memimpikan kejayaan Kerajaan Yahudi dengan berlagak seperti sedang berada di Istana Suleiman. Mesias lain adalah Diego Pires yang sangat antusias dalam mengajak komunitas Marrano mengamalkan kembali ajaran Yudaisme. Diego Pires merubah nama latinnya menjadi Shomo Molcho (Ibrani). Kesan mendalam terhadap kegagalan memperjuangkan kebebasan beragama menyebabkan Garcia menyimpulkan bahwa solusi yang mampu menyelamatkannya hanyalah kekuatan ekonomi.
            Dalam upaya memperkuat kedudukan ekonomi dan politik, Gracia menjalin hubungan dengan anggota keluarga bangsawan Spanyol. Ketika menikahi Francisco Mendes, Gracia masih berumur delapan belas tahun. Gracia yang masih berusia remaja memperoleh akses perdagangan rempah rempah, importir batu mulia dan monopoli komoditas komoditas berharga lainnya. Tradisi Yahudi di Eropa dalam menjaga warisan kekayaannya memang melalui ikatan perkawinan. Keluarga Nasi yang terhormat dan kaya raya dari Portugal cocok sebagai mitra bagi keluarga Benveniste dari Spanyol. Keduanya merupakan keluarga terkemuka di tengah komunitas Marrano.
            Keperluan bisnis memaksa Francisco Mendes pergi ke Antwerp dan tentunya mengajak Gracia selaku istrinya. Perusahaan perbankkan keluarga Mendes membuka cabang baru di Antwerp. Posisi Francisco Mendes yang baik di Antwerp memberikan jalan keluar bagi komunitas Marrano. Kekuatan uang mampu Francisco membantu sesama Marrano untuk melarikan diri dari Portugal menuju Antwerp. Kaum Marrano yang terkekang oleh Inkuisi mencoba kabur, namun gerbang kebebasan yang ditawarkan oleh Francisco Mendes mengalami penyusutan daya tampung dan sepenuhnya ditutup pada tahun 1536 M.
            Francisco Mendes menderita sakit parah dan meninggal tidak lama setelah itu. Kekasih mudanya dan putrinya harus menghadapi situasi bahaya akibat ulah ayahnya yang belum tuntas menyelesaikan masalah imigran Marrano. Sang suami pun dimakamkan di pemakaman Kristen, lalu Gracia bergegas meninggalkan Lisbon. Janda muda tersebut membawa serta keluarga dekatnya. Garcia menumpangi kapal pribadi dan menyimpan harta benda di kapal kargo yang membuntutinya.
            Perusahaan Mendes yang disegani atas kekuatan ekonominya memberikan kesempatan untuk memainkan pencaturan politik. Raja bisnis, Diogo Mendes merupakan kakak ipar Garcia yang sukses bahkan mempunyai relasi hingga lingkungan istana kaisar kaisar Eropa. Sosok Diego Mendes adalah seorang donatur penyelamat emigran Spanyol dan Portugis. Dia menyediakan ruang bagi para penulis, seniman, Rabbi dan dokter Marrano menempati House of Mendez. Oleh, karena itu, Gracia bermigrasi ke Antwerp. Namun, nasib sial menjemput Gracia ditengah perjalanan. Sanak keluarganya, Antonio de la Ronha dan Christopher Fernandez merampas barang bawaannya dan menyisakan sedikit dana untuk perjalanan ke Antwerp.
            Aset Garcia di Portugal memang menyelamatkannya sehingga bisa mencapai Antwerp dengan aman.            Namun, kesengsaraan kembali menjemput Garcia, kakak iparnya menerima tuduhan yang kemungkinan besar berasal dari musuh bisnisnya yang cemburu. Dia ditangkap atas pengakuan saksi palsu yang sudah di suap, meskipun akhirnya dibebaskan karena para hakim khawatir penangkapannya bisa menghambat perekonomian. Akan tetapi, agen agen setianya yang mengurusi emigran Marrano harus ikut dijatuhi hukuman tahanan sehingga terpaksa menelantarkan pengungsi Marrano. Diego Mendes menikahi Reyna, adik Gracia dan melahirkan Gracia la Chica. Cara tidak wajar menjaga kekayaan, Namun, memberikan kemudahan bagi Gracia meminjam uang Diego Mendes. Modal dari kakak ipar sekaligus adik iparnya digunakan untuk meraup keuntungan dari bisnis bankir dan menjalin hubungan dengan para bangsawan Eropa. Akan tetapi, Diego Mendes tidak sepenuhnya mempercayakan aset kekayaannya kepada Gracia. Sepeninggalan Diego Mendez (1542), Gracia memegang kendali penuh atas seluruh aset dan kekayaan keluarga Mendes. Tanggung jawab pertamanya adalah mempertahankan upaya radikal Kaisar Charles V untuk menyita seluruh hartanya.
            Masalah Kaisar Charles tuntas dengan pemberian pinjaman untuk menutupi peperangan dengan Turki. Muncul masalah baru yang lebih berbahaya pada tahun 1544. Gracia la Chica tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik mempesona. Dia mampu memikat hati banyak pria. Para pelamar tentu mempertimbangkan keuntungan kencantikan dan kekayaannya. Tradisi ketat penjagaan aset kekayaan keluarga menghalangi Gracia la Chica untuk menikahi pria manapun kecuali dari keluarga Marrano yang kaya raya. Bangsawan Don Francisco d'Aragon berambisi menikahi pewaris keluarga Mendes tersebut. Dia melakukan cara apapun untuk mendapatkan restu dari Reyna selaku ibunya dan Gracia Nasi sebagai penanggung jawab tertinggi aset kekayaan Mendez.
              Don Francisco d'Aragon menawarkan kepada Kaisar dan Ratu - Bupati Antewerp ( Belgia) pembagian harta kekayaan keluarga Mendes jika keduanya bersedia memaksa Reyna dan Gracia Nasi. Akan tetapi, Gracia lebih memilih melarikan diri ke Venice. Untuk sementara, Joao Miguez mengambil alih bisnis Mendes di Antwerp. Joao menawarkan pinjaman hutang kepada Kaisar dan meramaikan perdagangan di kota kota kekaisaran seperti Lyons sehingga Kaisar mampu membayar hutang membludak akibat bunga yang tinggi. Joao yang cerdik berhasil mengelabuhi Kaisar serta adiknya Ratu-Bupati Antwerp tanpa adanya penyitaan sepihak, lalu dia bergabung dengan keluarganya di Venesia.
            Keluarga Mendez bertemu banyak keluarga Yahudi Marrano dari Spanyol, dan yang paling terkemuka adalah keluarga Abrabanel. Keluarga Mendes menempati lokasi paling elegan di Venesia. De Luna bersaudara adalah julukan bagi Gracia dan Reyna disana. Keluarga Mendes menikmati kebersamaan dengan mantan seagama dan saudara senasib sebagai Marrano. Romansa keakraban dan kebebasan mempelajari Yudaisme cuma sementara saja.
Keluarga Yahudi Marrano di Venesia merupakan pelopor Renaissance. Semangat kebudayaan pagan Yunani dan Romawi kuno menggerakkan seni, sastra, pemikiran ilmiah, pengetahuan medis dan gaya hidup serba mewah. Namun, ketika Keluarga Mendez bermigrasi ke Venesia, Italia sedang terjadi kemelut politik yang menandai periode Reformasi dan Kontra-Reformasi. Gerakan Reformasi ini sebagai reaksi dari Abad Pertengahan yang didominasi oleh Gereja. Jika Renaisans berupaya menggantika wahyu dengan akal, kebudayaan Kristen dengan paganisme, Teosentris dengan Antroposentris, teologi dengan ilmu, maka Reformasi lebih mengarah kepada kemauan mengganti teologi lama dengan teologi baru. Gereja Katolik mencurigai kaum Marrano dan Yahudi sebagai biang keladi yang meracuni tokoh tokoh reformasi seperti Matthias Vlacich Ilyricus (1520-1575), Sleidanus (1506-1556), Heinrich Bullinger (1504-1575), melalui pengenalan ide ide baru.
Gracia mencium kebusukan pihak Gereja Katolik. Ketentraman dan kenyamanan yang diimpikan seketika sirna. Akan tetapi, Joao Miguez memiliki jaringan pertemanan internasional dengan elite elite dari kekaisaran manapun. Dia menerima undangan dari seorang dokter istana bernama Musa Hamon. Musa Hamon memberikan kabar gembira karena Sultan Suleyman the Magnificient bersedia menampung komunitas Marrano dan Yahudi yang kesulitan. Persiapan keberangkatan ke Istanbul menemui kendala yang tidak terduga. Reyna yang sudah terpengaruh gaya hidup mewah ala Venesia meminta seluruh warisan Keluarga Mendes dari tangan Gracia untuk sekedar berfoya foya. Kesabaran Gracia di uji oleh pengkhiatan adiknya sendiri yang menyuap agen Mendes di Lyons dalam usaha mengklaim aset perbankkan Lyons dengan bantuan Perancis. Pihak Perancis memenjarakan Gracia, sementara anak Gracia dan anak Reyna dititipkan di biara.
Joao Miguez memanfaatkan kedigdayaan Kesultanan Utsmaniyah. Pengaruh kekayaan keluarga Mendes mampu membuat Sultan Suleyman mengambil tindakan. Sultan Suleyman bahkan mengirim ultimatum kepada pemerintah Venesia untuk membebaskan Gracia beserta aset kekayaannya yang sudah diakui sebagai kewarganegaraan Ottoman. Akibatnya krisis diplomatik berskala internasional. Arsip surat Duta Besar Prancis untuk Venice atas nama de Morvilliers Aube dan tertanggal Juli 1549 melaporkan secara rinci perkembangan masalah ini. Untuk menghindari perselisihan langsung dengan Turki, Gracia dan asetnya di Perancis dibebaskan, namun seluruh komunitas Marrano diusir dari Venesia.
Joao Miguez mengirim komunitas Marrano yang terusir ke Balkan atau Konstantinopel. Sementara itu, Dona Gracia Nasi dan Reyna meninggalkan Ferrara pada musim dingin 1553 M. Rombongan Gracia didampingi empat penunjuk jalan professional beserta pelayan pelayan wanita. Perjalanan ke Konstantinopel dilindungi empat puluh tentara bayaran untuk melindungi dari bandit bandit pedesaan. Rute darat berhenti di Ancona, lalu berlayar menyebrang ke sebuah kota republik di pantai Dalmatian, Ragusa. Kedatangan Dona Gracia Nasi disambut dengan perayaan umum oleh komunitas Yahudi dan Marrano di Konstantinopel. Dona Gracia Nasi dijuluki Great Lady atau Senora karena kemurahan hatinya terhadap rekan rekan seagamanya.







Gambar 5.2 Rute Perjalanan Dona Gracia Nasi.

            Menelusuri lebih lanjut hubungan Keluarga Mendes dengan Keluarga Kesultanan Utsmaniyah bisa dipantau dari memoir terkait pernikahan Reyna dan Joseph Nasi. Joseph Nasi di izinkan membangun istana pribadinya di tepi Bosphorus. Istana “Belvedere di peruntukkan untuk tamu istimewa seperti pejabat asing, pejabat Ottoman atupun rekan bisnis. Joseph Nasi mengundang tamu spesial sekaligus sahabatnya sang putra mahkota, Pangeran Selim. Namun, tugas keluarga Mendes belumlah selesai. Kemelut politik-religius Kontra-Reformasi di Italia memicu reaksi kemarahan dari Gereja Katolik. Paus sebagai pemegang kekuasaan atas wilayah Ancona mulai bersikap sebaliknya. Apa yang terjadi di Venesia berlanjut ke Ancona.
Pada musim gugur 1555 M, perwakilan kepausaan memerintahkan penyidik memeriksa seluruh masyarakat yang diduga menentang Gereja. Alarm pertanda buruk bagi seratus keluarga Marrano di Ancona. Penangkapan disertai perampasan harta kekayaan. Aset disita dan sejumlah orang kaya berusaha menyuap tentara lalu melarikan diri ke dekat Pesaro di Kota Pelabuhan Urbino untuk berlindung pada beberapa Marrano disana. Sejumlah tahanan yang kurang beruntung digeret dengan rantai besi, kemudian digiring berbaris bergantian menerima hukuman siksaan kejam dan sadis. Mereka dipertontonkan di depan publik. Dalam sebuah insiden Ancola[2] tahun 1556 M ketika Gereja menerapkan inkusisi di seluruh wilayah kekuasaan Gereja, militansi Paus Paulus IV menemukan komunitas Yahudi tertahan di pelabuhan. Komplotan marranos yang murtad itu ditangkap dan harta bendanya disita kecuali mereka bertobat dan kembali memeluk agama Kristen. Mereka mengalami kegagalan dalam rencana melarikan diri ke Turki. Kabar burung berkenaan dengan kebebasan beragama yang ditawarkan oleh Sultan Süleyman menarik minat sejumlah marranos yang tidak ikhlas memeluk agama barunya. Sebagian dari mereka memilih bertobat dan sisanya dibakar karena menolak mengakui kesalahannya.
Gracia bersimpati dengan tragedi tersebut, apalagi korbannya adalah kerabat dekat, rekan bisnis, agen pribadi dan teman lamanya. Gracia mengajukan bantuan lagi ke Sultan Suleyman yang khawatir tragedi Ancona akan menggangu kepentingan perdagangannya di Laut Mediteranian. Sultan Suleyman memberi ultimatum kepada Gereja dan mewarkan banding serta negoisasi. Akan tetapi, Sultan hanya mampu membebaskan beberapa tahanan saja. Kisah kemartiran Yahudi tercatat dalam kronik Ibrnai kontemporer, menceritakan kematian Solomon Jachia dan serangkaian eksekusi di bulan April hingga Juni 1556 M.
            Sepanjang bulan Juli 1555 M, pertemuan para rabi terkemuka dari seluruh wilayah kekuasaan Kekaisaran Ottoman bertemu di House of Nasi untuk mendengar saksi mata sekaligus buronan Ancona bernama Yehuda Faraj. Sebuah keputusan umum diambil untuk memberitakan boikot perdagangan terhadap pelabuhan Ancona, dan memutuskan hubungan ekonomi dengan siapapun yang melanggarnya. Semua perdagangan dan pengiriman barang dagangan itu harus dialihkan ke Pesaro. Duke of Urbino berharap Pesaro bisa menjadi pusat perdagangan sehingga dia menyambutnya dengan baik. Namun, kekuatan ekonomi keluarga Nasi dan Mendes sudah mencapai batasnya. Percobaan memboikot Ancona mengalami kegagalan dan seluruh keluarga Marrano diusir dari Urbino.
              Gracia kecewa berat, Dunia Kristen Eropa selalu mengusir minoritas Yahudi dan Marrano dengan seenaknya. Kaum Yahudi dan Marrano dianggap sebagai penumpang sekaligus duri dalam daging. Gracia tidak ingin tragedi Ancona terulang lagi. Menurutnya perlu tanah khusus bagi kaum minoritas Yahudi dan Marrano agar generasi selanjutnya tidak menerima nasib buruk juga. Ketika Gracia pergi dari Italia menuju ke Palestina, disana ia menyadari bahwa rumah susungguhnya dan surga bagi saudara saudaranya yang teraniaya di Eropa. Tanah Israel cocok untuk pemukiman baru bagi kaum Yahudi Eropa. Kota Yerussalem dan Safed sepenuhnya berada di bawah Kesultanan Utsmaniyah yang pro- terhadapnya. Sebuah mimpi mesanik mendirikan negara Israel pun dimulai.




[1] Kata "Marrano" dalam bahasa Spanyol berarti "babi". Ini adalah istilah yang merendahkan
diterapkan untuk orang-orang Yahudi
yang sudah dibaptis menjadi Kristen, tetapi diduga diam-diam mengikuti Yudaisme.
[2] Ancola adalah pelabuhan perdagangan internasional di Laut Mediterania yang menjadi rute pelarian mantan Marranos yang menginginkan kebebasan beragama dengan meninggalkan Eropa dan berhijrah ke negeri muslim melalui jalur laut.
Manda Firmansyah. Diberdayakan oleh Blogger.